
Ilustrasi anak yang terlalu dikontrol oleh orang tua. (Freepik)
JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah periode yang membentuk dasar dari siapa kita sebagai individu di masa dewasa. Orang tua berperan sebagai pembimbing, pelindung, dan pemberi kasih sayang yang membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku anak-anak mereka.
Namun, ketika kontrol orang tua menjadi terlalu ketat, dampaknya bisa sangat dalam dan bertahan hingga dewasa. Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali mengalami kesulitan untuk mengekspresikan diri secara bebas dan mengembangkan kemandirian.
Dilansir dari Ideapod pada Jumat (9/8), terdapat delapan perilaku umum yang sering muncul pada orang dewasa yang tumbuh di bawah bayang-bayang kontrol orang tua yang berlebihan.
1. Kesulitan Membuat Keputusan
Orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol sering kali merasa kesulitan dalam membuat keputusan, baik itu keputusan kecil maupun besar.
Hal ini terjadi karena selama masa kanak-kanak, setiap aspek kehidupan mereka diatur oleh orang tua. Mereka mungkin tidak pernah diberi kesempatan untuk membuat keputusan sendiri atau mengatasi konsekuensi dari keputusan mereka.
Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka cenderung ragu-ragu atau bahkan takut dalam mengambil keputusan, khawatir akan melakukan kesalahan atau mendapatkan penilaian dari orang lain.
2. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Orang tua yang mengontrol cenderung meremehkan kemampuan anak-anak mereka untuk berpikir dan bertindak sendiri.
Mereka sering kali memberikan pesan implisit bahwa anak mereka tidak cukup kompeten atau cerdas untuk membuat pilihan yang benar. Akibatnya, anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang percaya diri.
Mereka mungkin meragukan kemampuan mereka sendiri dan merasa tidak mampu menghadapi tantangan hidup tanpa bimbingan atau persetujuan dari orang lain.
3. Kebutuhan akan Persetujuan dari Orang Lain
Karena kontrol orang tua yang terlalu ketat, orang dewasa ini sering kali memiliki kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain, terutama dari figur otoritas.
Mereka mungkin merasa cemas jika tidak mendapatkan pengakuan atau persetujuan dari atasan, pasangan, atau teman-teman mereka. Kebutuhan ini muncul karena mereka terbiasa mencari persetujuan dari orang tua mereka sepanjang masa kanak-kanak, dan kebiasaan ini terbawa hingga dewasa.
4. Kecenderungan Menjadi Perfeksionis

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
