Penyebabnya banyak yang akan dibahas berikutnya dalam artikel ini. Kebiasaan-kebiasaan yang membuat seseorang terjebak dalam zona nyaman ini akan menghambat orang tak bahagia di usia tua.
Berikut adalah sembilan kebiasaan yang harus Anda tinggalkan seiring bertambahnya usia agar mendapatkan kebahagiaan, dikutip dari Ideapod, Rabu (26/6).
1) Terjebak masa lalu
Orang yang terjebak dalam masa lalu akan sulit menapaki masa kini dan masa depan. Hal itu juga otomatis membuat kebahagiaan sulit menelusup ke jiwa-jiwa orang yang terikat masa lalum.
Berpegang teguh pada kesalahan masa lalu, penyesalan, atau peluang yang terlewatkan dapat menimbulkan perasaan pahit dan tidak puas. Hal ini dapat menghalangi kita untuk hidup sepenuhnya pada saat ini dan menghargai kehidupan yang kita miliki saat ini.
Perilaku ini juga dapat mengarah pada pola pikir tetap yang menghambat pertumbuhan dan pembelajaran. Penting untuk mengakui bahwa pengalaman masa lalu telah membentuk kita, tetapi pengalaman itu tidak perlu mendefinisikan kita. Melepaskan masa lalu berarti memaafkan diri sendiri atas kegagalan yang kita rasakan dan memahami bahwa setiap pengalaman, baik atau buruk, adalah bagian dari proses pembelajaran seumur hidup.
Mengucapkan selamat tinggal pada perilaku ini seperti melepaskan beban berat. Hal ini memungkinkan kita untuk bergerak maju tanpa beban yang tidak perlu, memberikan ruang bagi pengalaman baru dan peluang untuk mencapai kebahagiaan.
Ingat, kekuatan kita terletak pada saat ini. Dengan berfokus pada apa yang terjadi saat ini, kita dapat membuat pilihan yang selaras dengan nilai dan aspirasi kita. Inilah cara kita memupuk kegembiraan dan kepuasan seiring bertambahnya usia.
2) Berhenti mengembangkan diri
Pertumbuhan pribadi adalah sebuah perjalanan yang berkelanjutan, bukan tujuan. Ini adalah pelajaran yang saya pelajari dari pengalaman saya sendiri.
Seiring bertambahnya usia, kita mudah jatuh ke dalam perangkap rasa puas diri, berpikir bahwa kita telah mempelajari semua yang perlu kita ketahui. Namun, pola pikir ini dapat merampas kegembiraan dan kegembiraan kita dalam belajar terus-menerus dan menemukan jati diri.
Menumbuhkan komitmen terhadap pertumbuhan pribadi melibatkan penerimaan pengalaman baru, mencari peluang untuk belajar, dan terus menantang keyakinan dan asumsi kita. Ini tentang tetap ingin tahu dan berpikiran terbuka, berapa pun usia kita.
Ini tidak berarti bahwa kita harus terus-menerus berusaha untuk mendapatkan lebih banyak atau memaksakan diri sampai pada titik kelelahan. Sebaliknya, ini tentang memupuk rasa ingin tahu yang lembut tentang diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita. Ini tentang menyadari bahwa kita selalu berkembang dan selalu ada ruang untuk pertumbuhan.
3) Mengejar kebahagiaan
Bukankah ironis ketika kita semakin mengejar kebahagiaan, kebahagiaan itu malaj semakin sulit dipahami? Ibarat fatamorgana di padang pasir, semakin dekat kita mencapainya, semakin jauh jaraknya.
Masalahnya terletak pada mengubah kebahagiaan menjadi tujuan atau tujuan. Ketika kita melakukan ini, kita mempersiapkan diri kita untuk siklus perjuangan dan kekecewaan yang tiada henti. Kita mengatakan pada diri sendiri bahwa kebahagiaan sudah dekat – dalam promosi berikutnya, rumah yang lebih besar, atau hubungan yang sempurna.
Tapi inilah kebenarannya: Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kita kejar atau tangkap. Ini adalah pekerjaan batin – sebuah produk sampingan dari hidup secara otentik, membina hubungan yang bermakna, dan menerima tantangan hidup dengan pola pikir berkembang.
4) Hidup tidak sejalan dengan nilai-nilai Anda
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kita mudah melupakan hal-hal yang benar-benar penting. Kita mungkin mendapati diri kita hidup tidak selaras dengan nilai-nilai terdalam kita, mengejar ekspektasi masyarakat atau pengakuan eksternal daripada tetap setia pada diri sendiri.
Keterputusan ini dapat menimbulkan perasaan hampa atau tidak puas, perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang meskipun kita tampaknya memiliki semua yang kita butuhkan. Dan seiring berjalannya waktu, keterputusan ini dapat berdampak pada kebahagiaan dan kualitas hidup kita secara keseluruhan.
Hidup selaras dengan nilai-nilai kita tidak selalu merupakan jalan termudah. Hal ini menuntut kita untuk membuat pilihan-pilihan sulit, terkadang berenang melawan arus, dan terus-menerus memeriksa diri sendiri. Hal ini berarti bersikap jujur mengenai apa yang benar-benar penting bagi kita dan kemudian mengambil keputusan – baik besar maupun kecil – yang mencerminkan nilai-nilai tersebut.
Salah satu keputusan paling memberdayakan yang dapat kita ambil adalah menyelaraskan pilihan finansial kita dengan nilai-nilai terdalam kita. Ini bukan tentang mengumpulkan kekayaan demi kekayaan, tapi tentang menggunakan uang sebagai alat untuk melakukan perubahan positif – untuk diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita.
Ketika kita hidup sesuai dengan nilai-nilai kita, kita memupuk rasa keaslian, tujuan, dan kepuasan. Dan hal ini, pada gilirannya, berkontribusi pada kebahagiaan kita seiring bertambahnya usia. Karena pada akhirnya, kehidupan yang dijalani dengan baik tidak diukur dari standar masyarakat atau harta benda, namun dari dampak yang kita buat dan dengan tetap setia pada diri kita sendiri .
5) Mengabaikan kekuatan kesadaran diri
Mungkin salah satu aspek kebahagiaan pribadi yang paling diabaikan adalah kesadaran diri. Sangat mudah untuk menjalani hidup dengan autopilot, bereaksi terhadap situasi berdasarkan pola dan keyakinan yang sudah mendarah daging tanpa pernah mempertanyakan mengapa kita bertindak seperti itu.
Namun kurangnya kesadaran diri ini dapat membuat kita terjebak dalam perilaku dan pola pikir yang tidak sehat, sehingga menghalangi kita untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini juga dapat menyebabkan terputusnya hubungan dengan diri-sejati kita, sehingga membuat kita merasa tersesat atau tidak puas.
Kesadaran diri adalah tentang mengarahkan lensa ke dalam dan memeriksa pikiran, emosi, dan perilaku kita. Ini tentang mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kita, pemicu dan titik buta kita. Hal ini tidak selalu merupakan proses yang mudah – hal ini membutuhkan kejujuran, kerentanan, dan keberanian. Itu berarti menghadapi bagian-bagian diri kita yang mungkin kita abaikan atau sangkal.
Namun, melalui proses penemuan diri inilah kita bisa mulai membuat pilihan yang lebih sadar. Kita menjadi lebih mampu merespons dibandingkan bereaksi, membuat keputusan yang selaras dengan jati diri kita. Dan hal ini mengarah pada ketahanan, keaslian, dan pada akhirnya, kebahagiaan yang lebih besar.
6) Menghindari rintangan dan tantangan
Ketika kita berpikir tentang kebahagiaan, seringkali kebahagiaan dikaitkan dengan kehidupan yang bebas dari rintangan dan tantangan.
Lagipula, siapa yang tidak menginginkan perjalanan mulus dan bebas masalah? Namun inilah paradoksnya: Menghindari rintangan dan tantangan justru dapat menghambat kebahagiaan kita seiring bertambahnya usia.
Tantangan hidup bukanlah penghalang jalan menuju kebahagiaan – tantangan adalah bagian dari jalan kita. Setiap tantangan yang kita hadapi menghadirkan peluang untuk berkembang dan belajar. Hal-hal tersebut mendorong kita keluar dari zona nyaman, membantu kita membangun ketahanan, dan memberi kita pelajaran berharga tentang diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita.
Menghindari tantangan atau memandangnya sebagai pengalaman negatif dapat menyebabkan stagnasi. Hal ini membatasi potensi kita untuk pertumbuhan pribadi dan penemuan diri, yang merupakan komponen penting dari kebahagiaan jangka panjang.
Jadi, daripada lari dari tantangan atau berharap tantangan tersebut hilang, terimalah tantangan tersebut. Anggaplah hal tersebut sebagai peluang untuk memanfaatkan potensi kreatif Anda dan menemukan solusi inovatif. Pahami bahwa setiap kemunduran adalah umpan balik, ajakan untuk beradaptasi, berkembang, dan menjadi versi diri Anda yang lebih kuat.
7) Menjalani hidup dengan cara orang lain
Saat kita menjalani hidup, mudah untuk menemukan diri kita hidup sesuai dengan harapan atau standar orang lain. Entah itu tekanan sosial, kewajiban keluarga, atau upaya mendapatkan pengakuan dari luar , kita bisa dengan mudah melupakan keinginan dan aspirasi kita sendiri.
Namun, menjalani hidup dengan cara orang lain dapat menimbulkan perasaan benci, frustrasi, dan tidak puas. Hal ini dapat merampas individualitas kita dan menghalangi kita untuk sepenuhnya mengekspresikan diri sejati kita.
8) Mengabaikan hubungan otentik
Di era digital, kita lebih terhubung dibandingkan sebelumnya. Namun bagi banyak orang, koneksi yang tulus dan hubungan yang bermakna tampaknya lebih sulit didapat.
Mengejar kesuksesan individu atau kesibukan sehari-hari sering kali membuat kita mengabaikan hubungan. Kita mungkin mendapati diri kita dikelilingi oleh kenalan-kenalan namun tidak memiliki koneksi yang lebih dalam dan bermakna.
Namun, hubungan autentik adalah unsur utama resep kebahagiaan jangka panjang. Mereka memberi kita rasa memiliki, saling mendukung, dan berbagi kegembiraan. Mereka memperkaya hidup kita dengan cara yang tak terhitung jumlahnya dan memberi kita tujuan dan kepuasan.
Mengucapkan selamat tinggal pada hubungan yang dangkal berarti menginvestasikan waktu dan energi untuk memupuk hubungan yang lebih dalam . Ini tentang hadir, rentan, dan tulus dalam interaksi kita. Ini tentang menghargai kualitas daripada kuantitas dalam hubungan sosial kita.
9) Mengabaikan panggilan untuk melayani
Dalam masyarakat yang sering menyamakan kesuksesan dengan pencapaian dan akumulasi pribadi, mudah untuk mengabaikan kebahagiaan dan kepuasan mendalam yang didapat dari melayani orang lain.
Mengabaikan panggilan untuk melayani ini dapat menuntun pada kehidupan yang terasa hampa dan tidak terpenuhi, tidak peduli seberapa banyak yang kita capai atau kumpulkan. Hal ini dapat membuat kita merasa terputus dari dunia di sekitar kita dan kelaparan akan tujuan mendalam yang muncul karena berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.