
Presiden El Salvador Nayib Bukele. (JOSE CABEZAS/Reuters)
JawaPos.com – Presiden Nayib Bukele menegaskan bahwa El Salvador tidak akan berhenti menambah kepemilikan Bitcoin (BTC) meskipun mendapat tekanan dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Sejak 1 Maret, negara Amerika Tengah tersebut telah membeli 13 BTC, menambah total cadangan mereka menjadi 6.105 BTC yang saat ini bernilai lebih dari USD 527 juta (sekitar Rp 8,54 triliun).
Dilansir dari Cointelegraph, El Salvador biasanya membeli 1 BTC setiap 24 jam, tetapi pada 3 Maret, mereka melakukan pembelian besar dengan menambah 5 BTC dalam sehari.
Langkah ini bertentangan dengan kesepakatan pinjaman USD 1,4 miliar (sekitar Rp 22,7 triliun) yang ditandatangani dengan IMF pada Desember 2024, yang mengharuskan pemerintah menghentikan status Bitcoin sebagai alat pembayaran sah dan membatasi keterlibatan sektor publik dalam aset digital ini.
Namun, Bukele tetap berpegang teguh pada strateginya. “Jika kami tidak berhenti saat dunia mengucilkan kami dan sebagian besar ‘bitcoiner’ meninggalkan kami, maka kami tidak akan berhenti sekarang atau di masa depan,” tegas Bukele dalam pernyataannya.
Sejak awal 2025, El Salvador memang telah mengubah undang-undang Bitcoin mereka untuk menyesuaikan dengan perjanjian IMF. Pada Januari 2025, Kongres El Salvador mencabut hukum sebelumnya dalam pemungutan suara 55-2, sebagai bagian dari negosiasi dengan IMF.
Namun, meskipun hukum berubah, strategi dollar cost averaging yang diterapkan pemerintah tetap berjalan. Pada 1 Februari, El Salvador membeli 2 BTC dalam sehari, dan mereka terus membeli Bitcoin setiap hari hingga kini.
IMF sendiri kembali mengeluarkan tekanan pada 3 Maret, meminta El Salvador menghentikan akumulasi Bitcoin dan melarang negara tersebut mengeluarkan obligasi atau sekuritas berbasis BTC. Namun, permintaan itu tidak dihiraukan oleh pemerintah El Salvador.
Kebijakan pro-Bitcoin yang tak tergoyahkan ini telah menarik perusahaan-perusahaan kripto besar untuk pindah ke El Salvador.
Bitfinex Derivatives mengumumkan relokasi dari Seychelles ke El Salvador pada 7 Januari. Tether, penerbit stablecoin terbesar dunia, menyusul dengan memindahkan kantor pusatnya ke El Salvador pada 13 Januari.
Langkah ini semakin memperkuat posisi El Salvador sebagai pusat adopsi Bitcoin global, meskipun mendapat tekanan dari lembaga keuangan internasional.
Dengan keberaniannya melawan IMF dan tetap berpegang teguh pada kebijakan Bitcoin, El Salvador tidak hanya mempertaruhkan masa depan ekonominya pada BTC, tetapi juga menarik perhatian dunia sebagai negara yang siap menghadapi revolusi keuangan digital.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
