Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Mei 2026 | 13.52 WIB

Paradoks Kesehatan Indonesia: Dokternya Mendunia, Pasiennya Berobat ke Negara Lain

 
 

dr. Theresia CT Novy, Dokter Rehabilitasi Medis sekaligus sosok pendiri Program Director Pain Management Network (PMN). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Di saat dokter Indonesia dipercaya mengajar dan menguji kompetensi penanganan nyeri di berbagai negara maju, ribuan pasien Tanah Air justru masih memilih berobat ke luar negeri.

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri di tengah kemampuan tenaga medis Indonesia yang diakui dunia internasional, namun belum sepenuhnya mendapat kepercayaan dari masyarakatnya sendiri

Di tengah tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap kondisi ini menjadi paradoks tersendiri, mengingat sejumlah dokter Indonesia secara rutin dipercaya sebagai pengajar maupun penguji sertifikasi kompetensi nyeri internasional di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Belanda, Hungaria, dan Inggris.

Hal ini diungkap oleh dr. Theresia CT Novy, Dokter Rehabilitasi Medis sekaligus sosok pendiri Program Director Pain Management Network (PMN). Dia bercerita mengenai kondisinya saat belajar di Malaysia.

“Dokter-dokter di sana bercerita bahwa mereka sedang menunggu 20 pasien, dan sebagian besar berasal dari Indonesia, dengan biaya yang bahkan lebih mahal di sana. Bahkan, ada pasien dari Jakarta yang rela terbang ke Taiwan hanya untuk mendapatkan terapi Platelet-Rich Plasma (PRP). Ada mindset yang harus diperbaiki bersama oleh dokter, pemerintah, dan masyarakat bahwa Indonesia itu sebenarnya mampu,” ujar dr. Novy di Jakarta.

Menurut dr. Novy, masih minimnya informasi mengenai layanan penanganan nyeri serta terbatasnya jumlah tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus di bidang tersebut membuat banyak pasien kesulitan memperoleh terapi yang tepat.

Padahal, nyeri kronis bukan hanya menjadi tanggung jawab satu cabang spesialisasi, melainkan membutuhkan pendekatan multidisiplin melalui Interventional Pain Management (IPM).

Apabila tidak ditangani secara tepat dan sedini mungkin, nyeri kronis dapat menurunkan kualitas hidup sekaligus menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi pasien dan keluarganya.

Dengan hal ini pula, PMN menggandeng Pusat Pengembangan Kedokteran Indonesia (Pusbangki) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berniat memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kompetensi dokter di bidang manajemen nyeri.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari target jangka panjang menuju Indonesia Bebas Nyeri 2030.

Saat ini, jumlah dokter di Indonesia yang memiliki sertifikasi khusus dalam tindakan intervensi nyeri masih relatif sedikit, yakni sekitar 50 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di kota-kota besar.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore