Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Agustus 2026 | 06.08 WIB

Jika Anda Ingin Meningkatkan Ketangguhan Diri, Lakukan 8 Strategi Sederhana yang Mengejutkan Ini

seseorang yang membangung daya tahan tubuh / foto: Magnific/user25451090

 

JawaPos.com - Ketangguhan diri sering dianggap sebagai kemampuan untuk selalu kuat, tidak pernah mengeluh, dan mampu menghadapi semua masalah tanpa menunjukkan kelemahan. Padahal, menurut psikologi, ketangguhan bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut, sedih, kecewa, atau lelah.

Justru sebaliknya.

Orang yang tangguh adalah orang yang mampu mengalami emosi yang sulit, menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan, kemudian perlahan menemukan cara untuk bangkit dan melanjutkan hidup.

Ketahanan psikologis atau resilience bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu sejak lahir. Banyak aspek ketangguhan dapat dibangun melalui kebiasaan, cara berpikir, hubungan sosial, dan cara seseorang merespons kesulitan.

Menariknya, meningkatkan ketangguhan diri tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Beberapa strategi yang tampak sederhana justru dapat memberikan dampak yang cukup besar jika dilakukan secara konsisten.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (26/8), terdapat delapan strategi yang dapat membantu Anda membangun daya tahan mental dan ketangguhan diri.

1. Berhenti Memaksa Diri untuk Selalu Positif

Salah satu kesalahpahaman tentang kekuatan mental adalah anggapan bahwa kita harus selalu berpikir positif.

Ketika mengalami kegagalan, misalnya, seseorang mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja.”

Kalimat tersebut memang terdengar positif. Namun, jika digunakan untuk menolak kenyataan bahwa kita sedang kecewa, takut, atau terluka, optimisme tersebut justru dapat menjadi bentuk penghindaran.

Ketangguhan psikologis bukan berarti menghilangkan emosi negatif.

Anda boleh kecewa.

Anda boleh merasa takut.

Anda boleh mengakui bahwa sesuatu memang sulit.

Yang penting adalah jangan berhenti pada perasaan tersebut.

Cobalah mengganti “Saya tidak boleh merasa seperti ini” dengan “Saya sedang mengalami masa yang sulit, tetapi saya bisa mencari cara untuk menghadapinya.”

Perubahan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat membuat kita lebih realistis sekaligus lebih fleksibel.

Kekuatan bukan berarti tidak memiliki emosi. Kekuatan berarti mampu menghadapi emosi tanpa membiarkannya sepenuhnya mengendalikan hidup.

2. Latih Diri Menghadapi Ketidaknyamanan Kecil

Ketangguhan tidak hanya dibangun ketika menghadapi masalah besar.

Ia juga dapat dilatih melalui ketidaknyamanan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, menunda keinginan untuk memeriksa media sosial, menyelesaikan pekerjaan yang membosankan sebelum melakukan hal yang menyenangkan, berolahraga ketika sedang malas, atau tetap menyelesaikan tugas meskipun motivasi sedang rendah.

Mengapa hal sederhana seperti ini penting?

Karena kita sedang belajar bahwa perasaan tidak nyaman tidak selalu harus segera dihilangkan.

Otak manusia secara alami cenderung mencari kenyamanan. Ketika sesuatu terasa sulit, kita mungkin ingin menghindarinya. Jika kebiasaan menghindar terus diperkuat, toleransi terhadap ketidaknyamanan dapat menjadi semakin rendah.

Sebaliknya, ketika kita secara bertahap menghadapi ketidaknyamanan yang masih berada dalam batas wajar, kita belajar bahwa rasa tidak nyaman dapat ditoleransi dan dilewati.

Mulailah dari hal kecil.

Jangan langsung membuat tantangan ekstrem. Pilih satu hal sederhana yang biasanya Anda hindari dan selesaikan.

Sedikit demi sedikit, Anda sedang membangun bukti bahwa:

“Saya mampu melakukan sesuatu meskipun saya tidak merasa nyaman.”

3. Bedakan Apa yang Bisa Anda Kendalikan dan Apa yang Tidak

Banyak energi mental habis bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena kita terus mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.

Anda tidak dapat mengendalikan pendapat semua orang.

Anda tidak dapat memastikan bahwa semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.

Anda tidak dapat menghapus masa lalu.

Anda juga tidak dapat mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi besok.

Namun, Anda masih memiliki kendali atas beberapa hal penting.

Anda dapat mengendalikan bagaimana Anda merespons.

Anda dapat memilih tindakan berikutnya.

Anda dapat menentukan batasan.

Anda dapat memilih apakah akan belajar dari kesalahan.

Anda dapat menentukan bagaimana menggunakan waktu hari ini.

Ketika menghadapi masalah, cobalah membuat dua kolom sederhana:

Di luar kendali saya:
Apa yang sudah terjadi, pendapat orang lain, keputusan orang lain, hasil akhir yang belum pasti.

Dalam kendali saya:
Tindakan saya, respons saya, usaha saya, keputusan berikutnya, dan cara saya menjaga diri.

Kemudian arahkan sebagian besar energi Anda pada kolom kedua.

Strategi ini sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi kebiasaan menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak dapat diubah.

4. Jangan Menunggu Motivasi untuk Bertindak

Banyak orang berpikir bahwa mereka harus merasa termotivasi terlebih dahulu sebelum mulai bergerak.

Masalahnya, motivasi tidak selalu datang sebelum tindakan.

Sering kali justru tindakanlah yang menciptakan momentum.

Ketika sedang tidak bersemangat, Anda mungkin tidak perlu menyelesaikan seluruh pekerjaan. Cukup mulai selama lima atau sepuluh menit.

Rapikan satu bagian meja.

Baca dua halaman.

Berjalan kaki sebentar.

Kerjakan satu bagian kecil dari pekerjaan.

Balas satu pesan penting.

Tujuannya bukan menjadi produktif secara ekstrem. Tujuannya adalah mengurangi hambatan untuk memulai.

Setelah memulai, tugas yang sebelumnya terasa sangat berat terkadang menjadi lebih mudah.

Ini juga mengajarkan sesuatu yang penting tentang ketangguhan: Anda tidak harus menunggu perasaan yang sempurna untuk melakukan tindakan yang tepat.

Orang tangguh tetap bisa bertindak ketika suasana hati mereka tidak ideal.

5. Bangun Kebiasaan Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Bijaksana

Perhatikan cara Anda berbicara kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan.

Apakah Anda mengatakan:

“Saya memang bodoh.”

“Saya selalu gagal.”

“Saya tidak akan pernah berhasil.”

Atau Anda mengatakan:

“Saya membuat kesalahan.”

“Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”

“Apa yang bisa saya lakukan berbeda lain kali?”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi sangat penting.

Kesalahan adalah sebuah peristiwa. Namun, kita sering mengubahnya menjadi identitas.

“Saya gagal” dapat berubah menjadi “Saya adalah orang gagal.”

Padahal, keduanya tidak sama.

Cobalah memperlakukan diri sendiri seperti Anda memperlakukan seseorang yang sedang belajar.

Bukan berarti memanjakan diri atau menghindari tanggung jawab. Anda tetap perlu mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Namun, Anda tidak perlu menghukum diri sendiri tanpa batas.

Ketangguhan membutuhkan evaluasi yang jujur sekaligus sikap yang cukup berbelas kasih kepada diri sendiri untuk mencoba kembali.

6. Pelihara Hubungan dengan Orang yang Membuat Anda Lebih Kuat

Ketangguhan sering dianggap sebagai kemampuan individual.

Padahal manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Dukungan dari keluarga, teman, pasangan, mentor, atau komunitas dapat membantu seseorang melewati masa sulit.

Memiliki seseorang yang mau mendengarkan tidak selalu menyelesaikan masalah. Namun, perasaan bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian dapat memberikan kekuatan psikologis yang besar.

Karena itu, jangan hanya membangun kemampuan untuk “bertahan sendiri”.

Bangun juga kemampuan untuk meminta bantuan ketika diperlukan.

Hubungi seseorang.

Berbagi cerita.

Tanyakan pendapat.

Menerima dukungan bukan tanda kelemahan.

Dalam banyak keadaan, kemampuan mengenali bahwa kita membutuhkan bantuan justru merupakan bentuk kesadaran diri.

Ketangguhan bukan hanya tentang berdiri sendiri.

Kadang-kadang, ketangguhan berarti tahu kapan harus mengatakan:

“Saya membutuhkan bantuan.”

7. Jadikan Kegagalan sebagai Data, Bukan Vonis

Kegagalan dapat dilihat dengan dua cara.

Cara pertama:

“Saya gagal. Berarti saya tidak cukup baik.”

Cara kedua:

“Strategi yang saya gunakan kali ini tidak menghasilkan hasil yang saya inginkan. Apa yang dapat saya pelajari?”

Cara kedua tidak membuat kegagalan menjadi menyenangkan. Namun, ia mengubah fungsi kegagalan.

Kegagalan tidak lagi hanya menjadi sumber rasa malu. Ia menjadi informasi.

Jika sebuah pendekatan tidak berhasil, tanyakan:

Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagian mana yang berada dalam kendali saya?
Apa kesalahan yang perlu saya akui?
Apa yang bisa saya ubah?
Apa yang sebaiknya saya lakukan pada percobaan berikutnya?

Dengan cara ini, Anda mengubah pengalaman menjadi pembelajaran.

Orang yang tangguh bukan orang yang selalu berhasil pada percobaan pertama.

Mereka adalah orang yang mampu menggunakan pengalaman buruk sebagai informasi untuk mengambil keputusan yang lebih baik berikutnya.

8. Bangun Rutinitas Dasar yang Menjaga Tubuh

Strategi terakhir mungkin terdengar terlalu sederhana: tidur yang cukup, bergerak secara teratur, makan dengan baik, dan memberi tubuh waktu untuk pulih.

Namun, ketahanan mental tidak berdiri terpisah dari kondisi fisik.

Ketika tubuh terus-menerus kelelahan, kurang tidur, atau tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup, kemampuan kita untuk mengelola stres juga dapat terganggu.

Karena itu, jangan menganggap perawatan diri sebagai sesuatu yang tidak produktif.

Tidur bukan kemalasan.

Istirahat bukan kegagalan.

Berjalan kaki bukan membuang waktu.

Mengambil jeda bukan berarti menyerah.

Tubuh dan pikiran bekerja sebagai satu sistem. Merawat tubuh dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kapasitas psikologis.

Anda tidak perlu langsung mengubah seluruh gaya hidup.

Mulailah dengan satu kebiasaan kecil.

Tidur sedikit lebih teratur.

Berjalan beberapa menit.

Mengurangi waktu layar sebelum tidur.

Memberikan jeda ketika pekerjaan mulai membuat Anda kewalahan.

Hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali sering kali lebih realistis daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Ketangguhan Tidak Dibangun dalam Satu Hari

Meningkatkan daya tahan dan ketangguhan diri bukanlah proyek untuk menjadi manusia yang tidak pernah takut, tidak pernah sedih, dan tidak pernah gagal.

Tujuannya bukan menjadi kebal terhadap kehidupan.

Tujuannya adalah menjadi lebih mampu menghadapi kehidupan.

Anda mungkin tetap merasa takut.

Anda mungkin tetap mengalami kegagalan.

Anda mungkin masih memiliki hari-hari ketika semuanya terasa berat.

Namun, secara bertahap Anda dapat belajar bahwa emosi tidak harus menentukan seluruh tindakan Anda, kegagalan tidak harus menentukan identitas Anda, dan masalah tidak selalu harus diselesaikan sekaligus.

Mulailah dari delapan strategi sederhana tadi.

Terima emosi tanpa harus dikuasai olehnya.

Latih diri menghadapi ketidaknyamanan kecil.

Fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan.

Bertindak meskipun motivasi belum datang.

Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih bijaksana.

Bangun hubungan yang suportif.

Gunakan kegagalan sebagai informasi.

Dan jangan abaikan kebutuhan dasar tubuh.

Pada akhirnya, ketangguhan bukanlah kemampuan untuk mengatakan, “Saya tidak akan pernah jatuh.”

Ketangguhan adalah kemampuan untuk mengatakan:

“Jika saya jatuh, saya akan mencari cara untuk bangkit, belajar, dan melangkah lagi.”

Dan kemampuan itu dapat dilatih—sedikit demi sedikit, hari demi hari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore