Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Mei 2026 | 20.35 WIB

9 Buku yang Akan Membuatmu Tidak Nyaman Selama Berminggu-Minggu, tetapi Diam-Diam Mengubah Cara Pandangmu terhadap Segala Hal Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup / foto: Magnific/pressfoto - Image

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup / foto: Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Ada buku yang menghibur, ada buku yang memberi informasi, lalu ada jenis buku yang terasa seperti cermin terlalu jujur—membuat kita tidak nyaman, mempertanyakan keyakinan lama, dan melihat hidup dari sudut yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Secara psikologis, rasa tidak nyaman saat membaca bukan selalu tanda bahwa sebuah buku “terlalu berat” atau “terlalu gelap.” Justru, psikologi menyebut fenomena ini sebagai cognitive dissonance—ketegangan mental yang muncul ketika informasi baru bertabrakan dengan keyakinan, nilai, atau kebiasaan yang selama ini kita pegang. Saat dikelola dengan baik, ketidaknyamanan ini bisa menjadi awal pertumbuhan mental dan emosional.

Beberapa buku punya kemampuan unik untuk melakukan itu: membuatmu gelisah, termenung, bahkan mungkin sedikit terguncang selama berminggu-minggu. Namun setelah selesai, kamu menyadari bahwa cara pandangmu terhadap manusia, hubungan, kesuksesan, kegagalan, bahkan dirimu sendiri, tidak lagi sama.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (16/5), terdapat 9 buku yang menurut banyak pembaca dan perspektif psikologi mampu memberikan efek tersebut.

1. Man’s Search for Meaning – Viktor Frankl

Ditulis oleh seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi, buku ini bukan bacaan yang ringan.

Frankl menceritakan bagaimana manusia tetap bisa menemukan makna bahkan di tengah penderitaan ekstrem. Yang membuat buku ini tidak nyaman adalah kenyataan pahit yang ia sodorkan: banyak hal dalam hidup berada di luar kendali kita.

Kita tidak bisa selalu memilih apa yang terjadi, tetapi kita bisa memilih respons terhadapnya.

Secara psikologis, buku ini menantang pola pikir modern yang sering menghubungkan kebahagiaan dengan kenyamanan. Frankl justru menunjukkan bahwa makna sering lahir dari perjuangan, kehilangan, dan rasa sakit.

Setelah membacanya, banyak orang mulai mempertanyakan:
Apakah aku mengejar kenyamanan, atau benar-benar hidup dengan tujuan?

2. The Denial of Death – Ernest Becker

Buku ini menyerang salah satu ketakutan terdalam manusia: kematian.

Becker berargumen bahwa hampir semua perilaku manusia—ambisi, status sosial, pencapaian, bahkan konflik—berakar dari upaya bawah sadar untuk melawan kenyataan bahwa kita fana.

Ini bukan ide yang menyenangkan.

Namun dari perspektif psikologi eksistensial, kesadaran akan kematian justru bisa membuat hidup lebih autentik. Ketika kita menerima keterbatasan waktu, kita mulai lebih selektif dalam memilih apa yang benar-benar penting.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore