Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 April 2025 | 20.42 WIB

8 Kebiasaan Sehat di Masa Kecil yang Sudah Hilang karena Maraknya Screen Time hingga Koneksi Nyata Terasa Asing

Ilustrasi masa kecil tanpa screen time.(Unsplash.com/ChesterHo) - Image

Ilustrasi masa kecil tanpa screen time.(Unsplash.com/ChesterHo)

JawaPos.com - Tanpa kita sadari, melihat anak-anak saat ini sudah sering bermain dengan layar atau screen time sehingga mereka mulai mengabaikan koneksi yang nyata. Tentunya hal ini juga menjadi tantangan bagi para orang tua.

Mengutip dari laman Pelangi Mizan pada Selasa (08/04) screen time bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak seperti halnya menonton video edukatif. Tapi di sisi lain, terlalu banyak screen time bagi anak-anak juga bisa membawa dampak negatif bagi perkembangan mereka.

Dilansir dari laman News Reports pada Selasa (08/04), inilah 8 kebiasaan sehat di masa kecil yang sudah hilang karena maraknya screen time hingga koneksi nyata mulai terasa asing :

1. Merangkul kebosanan

Ada saat ketika kita baik-baik saja dengan tidak melakukan apa-apa, seperti berbaring telentang, menatap langit, dan membiarkan imajinasi menjadi liar. Tapi sekarang, bahkan sedikit pun kebosanan membuat kita meraih layar karena seolah-olah telah mengembangkan rasa takut sendirian dengan pikiran kita.

Padahal kebosanan merangsang kreativitas, mendorong melamun, dan membantu anak-anak mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Jika hal pertama yang dilakukan anak saat bosan adalah meraih layar, mungkin sudah waktunya untuk memperkenalkan kembali mereka pada seni yang hilang untuk tidak melakukan apa-apa sama sekali.

2. Terlibat dengan alam

Sore hari dihabiskan berlarian di halaman belakang, memanjat pohon, dan merasakan rumput di bawah kaki. Setelah itu kita akan menyaksikan awan melayang dan mencoba mengidentifikasi bentuk yang mereka buat.

Sekarang, sepertinya satu-satunya awan yang diminati anak-anak adalah yang ada di layar mereka, penuh dengan game, aplikasi, dan video.

3. Menumbuhkan kesabaran

Albert Einstein pernah berkata, "Saya tidak memiliki bakat khusus. Saya hanya sangat penasaran." Keingintahuan ini tidak lahir dari kepuasan instan tetapi dari kesabaran.

Di era pra-digital, kesabaran dibesarkan karena kebutuhan. Kita harus menunggu giliran untuk bermain game, menunggu acara TV dimulai, atau bahkan menunggu film dikembangkan.

Penantian kecil ini mengajarkan kesabaran dan juga mengajarkan kita bahwa tidak semua hal dalam hidup itu instan, dan beberapa hal layak ditunggu-tunggu. Tetapi dengan layar yang menawarkan segalanya dengan satu ketukan tombol, permainan menunggu hampir punah sekarang.

Anak-anak saat ini mengharapkan respons instan, permainan instan, dan hiburan instan.

4. Mengalami permainan fisik

Anak-anak dimaksudkan untuk berlari, melompat, memanjat, dan menjelajah. Permainan fisik tidak hanya membuat mereka tetap bugar tetapi juga membantu dalam perkembangan kognitif mereka.

Faktanya, WHO merekomendasikan agar anak-anak berusia antara 5 dan 17 tahun melakukan setidaknya satu jam aktivitas fisik sedang hingga berat setiap hari. Dengan menghabiskan waktu luang untuk screen time, sepertinya anak-anak saat ini kehilangan aktivitas fisik penting ini.

Saatnya untuk memperkenalkan kembali anak-anak kita pada kegembiraan berlari di taman, memanjat pohon, atau sekadar bermain tag dengan teman-teman. Mari kita ganti screen time dengan waktu hijau dan saksikan mereka berkembang dengan baik.

5. Melatih keterampilan sosial

Dulu, keterampilan sosial diasah di taman bermain, selama menginap, atau di pertemuan keluarga. Kita belajar berbagi, berempati, dan berkomunikasi secara langsung. Tetapi dengan layar yang memainkan peran penting dalam kehidupan anak-anak saat ini, banyak dari peluang ini digantikan oleh interaksi virtual.

Jangan salah paham, komunikasi digital memiliki tempatnya sendiri dan bisa sangat berharga. Tetapi itu seharusnya tidak menggantikan interaksi tatap muka sepenuhnya. Anak-anak perlu belajar cara membaca bahasa tubuh, memahami nada suara, dan menguasai seni percakapan.

6. Mengembangkan apresiasi terhadap seni dan budaya

Dunia virtual, dengan aliran game dan videonya yang tak ada habisnya, seringkali tidak memiliki kedalaman dan keaslian pengalaman budaya kehidupan nyata. Baik itu menghadiri pertunjukan teater lokal, mengunjungi galeri seni, atau menjelajahi museum sejarah, mari berusahalah untuk memaparkan anak-anak kita pada beragam keajaiban budaya yang ditawarkan.

7. Menumbuhkan empati

Salah satu pelajaran paling berharga yang kita pelajari di masa kanak-kanak adalah empati. Memahami dan berbagi perasaan orang lain adalah keterampilan yang menumbuhkan kebaikan, kasih sayang, dan ikatan sosial yang kuat.

Sangat penting untuk menyeimbangkan screen time dengan pengalaman kehidupan nyata yang menumbuhkan empati. Dorong anak untuk berinteraksi dengan orang lain, menjadi sukarelawan di komunitas, atau bahkan merawat hewan peliharaan. Pengalaman ini dapat membantu mereka memahami dan menghormati perasaan orang lain lebih baik daripada aplikasi atau game mana pun.

8. Belajar dari kegagalan


Kegagalan adalah bagian yang sulit tapi penting dalam tumbuh dewasa. Ini mengajarkan kita ketahanan, ketekunan, dan nilai kerja keras. Namun, di dunia digital ini kegagalan seringkali dapat dilewati dengan satu klik sederhana.

Kalah dalam pertandingan bisa mulai ulang dan jika melakukan kesalahan langsung dihapus. Meskipun ini bisa nyaman, tapi juga merampas kesempatan anak-anak untuk belajar dari kesalahan mereka.

Penting untuk mengingatkan anak-anak kita bahwa tidak apa-apa untuk gagal. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk tumbuh dan meningkatkan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore