JawaPos.com - Aparat kepolisian dari Direktorat Reserser Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya masih terus berupaya menggali data dan fakta untuk menemukan penyebab kematian Brigjen TNI (Purn) Hendra Hendrawan Ostevan. Dugaan korban bunuh diri dinilai perlu didalami. Sebab, kemungkinan tersebut tampak pada rangkaian peristiwa sebelum pensiunan jenderal bintang satu TNI AD itu menceburkan diri ke laut pada Kamis dini hari (9/1).
Reza Indragiri, ahli psikologi forensik, menyatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa diperiksa oleh aparat kepolisian untuk memastikan Brigjen Hendra Hendrawan bunuh diri atau tidak. Diantaranya dengan memeriksa secara teliti jenazah korban yang ditemukan mengapung di Perairan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut) pada Jumat sore (10/1). Pemeriksaan tersebut bisa dilakukan oleh penyidik Polda Metro Jaya dengan bantuan dari petugas terkait.
”Coba cek kondisi kesehatan dan cek kandungan NAPZA dalam darah. Jika ada, (pastikan) apakah berada pada level yang dapat mengacaukan proses berpikir,” ungkap Reza saat diwawancarai oleh JawaPos.com pada Sabtu (18/1).
Selain itu, salah satu alat bukti yang dicari oleh aparat kepolisian adalah telepon genggam atau telepon seluler (ponsel) milik korban. Sebelumnya, penyidik menduga ponsel itu ikut jatuh ke dalam laut saat Brigjen Hendra Hendrawan menceburkan diri bersama mobil yang dia kendarai. ”Cek komunikasi terakhir di ponsel,” kata Reza. Pemeriksaan itu dapat dilakukan lewat beberapa metode.
Tidak hanya itu, Reza juga menyampaikan bahwa opsi otopsi psikologi juga bisa dilakukan oleh aparat kepolisian. ”Walau dianggap tidak sepenuhnya solid, bisa diterapkan untuk mengecek benar tidaknya yang bersangkutan meninggal akibat bunuh diri,” imbuhnya. Dia berpendapat bahwa ada kemungkinan Brigjen Hendra Hendrawan mengakhiri hidup dengan sengaja. ”Kemungkinan itu ada,” kata dia.
Baca Juga: Obrak-abrik Statistik Jairo Riedewald: Gelandang Petarung yang Potensial Jadi Jenderal Lapangan Tengah Timnas Indonesia
Merujuk beberapa peristiwa bunuh diri, Reza menyampaikan bahwa ada beberapa tahap sampai korban bunuh diri meninggal dunia. Yakni Idea, Plan, Attempt, dan Death. ”Dalam sekian banyak peristiwa bunuh diri, sejak Idea hingga Attempt hanya butuh beberapa puluh menit. Bahkan ada yang cuma sepuluh menit,” ungkap dia. Menurut Reza, waktu dalam mata rantai Idea, Plan, Attempt, dan Death tampak pula pada Brigjen Hendra.
”Indikasinya adalah pemilihan cara mengemudi kendaraan dan membawa sejumlah kartu identitas. Dia seakan sebelumnya punya niat untuk mengakhiri hidup,” imbuhnya.