Polisi masih belum bisa meminta keterangan langsung dari Bendi, sementara penyelidikan terus berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan delapan orang tersebut. Dugaan utama mengarah pada dua kemungkinan: rem blong atau sopir mengantuk.
Menariknya, Bendi terlihat aktif bermain media sosial. Akun media sosial Bendi Wijaya menampilkan berbagai unggahan terkait pekerjaannya sebagai sopir truk. Salah satu postingannya bahkan menyiratkan betapa padatnya jadwal kerja yang ia jalani.
Dalam sebuah foto yang menampilkan truk Hino putih bermuatan galon air, ia menulis:
“Yang rusak cuma jam tidur, bukan jam terbang.”
Unggahan lainnya menampilkan audio yang membahas jam kerja sopir:
"Jangan tanya berapa gajiku, cobalah tanya jam berapa mulai kerja. Dan jam berapa aku tidur untuk melepas lelah. Step by step, selesaikan satu persatu. Tak perlu berlomba dengan siapapun. Tidak perlu merasa tertinggal, sebab setiap orang punya perjuangan dan jalan hidup masing-masing," ucap audio yang ia gunakan dalam postingannya itu.
Ia kemudian menambahkan keterangan yang mengeluhkan mengenai jam tidurnya dalam bahasa Sunda.
"istrhat teu puguh,,,,sare GE Komo tapi Ayna mah ker loba sare heula. (Istirahat ga jelas. Tidur apalagi, tapi sekarang sih lagi kebanyakan tidur)," tulisnya.
Diketahui, hingga kini belum bisa dipastikan apakah insiden kecelakaan maut yang menewaskan 8 orang itu disebabkan karena adanya rem blong atau Bendi Wijaya tertidur saat menyetir.
Dirlantas Polda Jabar Kombes Pol Ruminio Ardano menyatakan, hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung. Namun, berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), tidak ditemukan adanya jejak bekas pengereman di lokasi kejadian.
Namun, belum diketahui pasti penyebab terjadinya kecelakaan. Apakah disebabkan oleh rem blong atau sopir yang mengantuk hingga tidak menginjak rem.
"Untuk itu, kesimpulannya saat ini kami masih melakukan penyidikan lebih dalam lagi. Yang pasti di lokasi kejadian kami tidak menemukan jejak bekas rem," ujarnya di RSUD Ciawi, Rabu (5/2) malam.
Ruminio melanjutkan, pihaknya akan menerjunkan ahli guna memeriksa truk bermerek Hino itu. Diharapkan nantinya dapat diketahui apakah rem tersebut berfungsi atau tidak saat kejadian.
"Apakah sebelum, sesaat dan saat terjadinya benturan, apakah fungsi remnya berfungsi atau tidak? Nah ini masih kita dalami kembali," terangnya.
Ruminio menjelaskan, Korlantas Polri dan Polda Jawa Barat telah melibatkan tim Traffic Accident Analysis (TAA) dalam melaksanakan olah TKP. Saat ini, tim tersebut masih melaksanakan kajian lebih lanjut.
"Karena yang pasti dan jelas, di TKP kita tidak menemukan jejak pengereman. Semoga besok kita sudah bisa ada perkembangan lagi, saat ini di sedang melaksanakan pengkajian dengan TAA," jelas Ruminio.