Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Mei 2025 | 05.59 WIB

Gangguan Mental Bukan Pertanda Lemah Iman dan Kurang Ibadah, Ini Pandangan Islam tentang Mental Health alias Kesehatan Mental

Ilustrasi orang yang kesehatan mentalnya terganggu. (Pexels) - Image

Ilustrasi orang yang kesehatan mentalnya terganggu. (Pexels)

JawaPos.com – Pernahkah anda merasa sedih berkepanjangan, cemas tanpa alasan, atau terpuruk dalam kesendirian, lalu mendengar orang berkata, “Sabar saja, perbanyak ibadah”?

Dalam budaya kita yang religius, nasihat seperti itu terdengar wajar. Tapi bagaimana jika luka di dalam hati ternyata lebih dalam dari sekadar ujian biasa? Bagaimana jika "sabar" saja tidak cukup?

Banyak umat Muslim masih memandang kesehatan mental sebagai topik yang tabu, bahkan mengaitkannya dengan lemahnya iman. Namun, pandangan ini tidak selaras dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dilansir dari YouTube Path Network, Dr. Rania Awaad, seorang psikiater Muslim, ulama terlatih, dan profesor di Universitas Stanford, memberikan pandangan mengenai mental health dalam Islam.

Kita akan melihat bagaimana Islam sesungguhnya menghargai emosi, mendukung penyembuhan, dan mendorong kita untuk mencari pertolongan ketika hati sedang terluka. Berikut rangkumannya:

Nabi Muhammad ﷺ, kesedihan, dan kesehatan mental

Dr. Rania menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita bagaimana menghadapi emosi dan kesulitan dengan penuh kesadaran dan tawakal.

Salah satu masa terberat dalam hidup Nabi disebut ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan), ketika ia kehilangan Khadijah r.a. dan Abu Thalib, serta menghadapi boikot ekonomi dan penganiayaan berat.

Melalui kisah ini, umat Islam belajar bahwa kesedihan adalah bagian dari hidup. Nabi ﷺ bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga manusia yang mengalami duka, menangis ketika anaknya Ibrahim wafat di pangkuannya.

Namun, dalam duka itu, Nabi tidak menyalahkan takdir. Sebaliknya, ia berkata, “Hati bersedih dan mata meneteskan air mata, tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridai oleh Tuhan kami.”

Islam tidak mengajarkan untuk menolak emosi, tetapi mengelolanya dengan seimbang.  Keseimbangan ini ditegaskan dalam hadits tentang hak-hak: “Tuhanmu memiliki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu pun memiliki hak atasmu.”

Artinya, merawat diri secara fisik dan psikis juga adalah bagian dari ibadah yang tdiak bisa diabaikan.

Mengapa kita tidak boleh menghakimi orang dengan gangguan mental?

Dalam masyarakat, sering muncul pandangan menghakimi, seperti: "Kalau kamu lebih banyak sholat, kamu tidak akan depresi." Padahal ini keliru. Islam tidak mengajarkan kita untuk menilai kondisi mental seseorang hanya dari ibadah lahiriah.

Dr. Rania menekankan bahwa kesembuhan tidak bisa datang tanpa rasa empati dan pemahaman terhadap kompleksitas masalah yang dihadapi seseorang.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore