
Kericuhan di Ekuador. Kemlu RI pastikan WNI dalam kondisi aman.
JawaPos.com – Pernyataan perang Pemerintah Ekuador dengan geng narkoba diumumkan oleh Presiden Ekuador, Daniel Noboa usai selama tiga hari kekerasan terus terjadi saat geng-geng tersebut bentrok dengan angkatan bersenjata Ekuador. Mengutip dari Antara, Noboa mengatakan telah terjadi aksi terorisme dan peningkatan kekerasan yang dramatis di Ekuador. Dengan demikian ia menuturkan tidak akan menyerah melawan dan akan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan ketidakamanan.
“Geng-geng ini berpikir bahwa mereka akan menghancurkan presiden dengan menyerbu siaran televisi dan menyandera pasukan keamanan, tetapi mereka tidak akan berhasil," kata Noboa, Rabu (10/1).
Sebelumnya, ia juga telah mengumumkan konflik bersenjata internal dan menyatakan 22 kelompok kriminal aktif sebagai organisasi teroris di Ekuador pada Selasa (9/1). Ia pun menurunkan pasukan untuk memerangi kelompok tersebut.
“Semua kelompok teroris ini adalah sasaran militer, dan jika Anda ingin melawan beranilah dan lawan militer secara langsung,” ujarnya.
Keputusan tersebut diambil setelah sekelompok orang bersenjata menyerbu dan menyandera di sebuah stasiun televisi TC Television di Kota Guayaquil. Selain itu, sekelompok bersenjata di hari yang sama juga mengambil alih sebuah universitas di kota yang sama dan menodongkan senjata ke mahasiswa.
Akibat peristiwa tersebut 13 orang ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditangkap karena penyerangan stasiun televisi. Tak hanya itu, Ekuador juga memberlakukan langkah pemberlakuan jam malam.
“Kami akan mempertimbangkan hakim dan jaksa yang mendukung para pemimpin kelompok teroris ini sebagai bagian dari kelompok teroris juga,” ujarnya.
Gelombang kekerasan ini terjadi karena menyusul kaburnya Jose Adolfo Macias alias ‘El Fito’, pemimpin Los Choneros, sebuah organisasi kekerasan yang bertanggung jawab atas perdagangan narkoba di negara tersebut dan diduga merupakan cabang bersenjata Kartel Sinaloa, sindikat kriminal Meksiko.
Merespons ketidakamanan di Ekuador, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Ekuador tidak menjadi korban dalam peristiwa kekerasan yang terjadi.
“Berdasarkan komunikasi dengan komunitas WNI, hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu, Judha Nugraha, Jumat (12/1).
Ia menyebutkan terdapat 48 WNI yang berada di Ekuador berdasarkan catatan KBRI Quito. Mereka sebagian besar merupakan paderi atau misionaris yang berada di wilayah terpencil di luar wilayah Guayaquil.
“Secara khusus, KBRI juga telah memonitor kondisi WNI di Guayaquil. Tercatat satu WNI perempuan tercatat menetap di wilayah tersebut, tetapi saat ini yang bersangkutan terpantau tengah berada di luar wilayah wilayah Ekuador,” ucapnya.
Judha juga mengatakan jika KBRI terus berkomunikasi dengan para WNI dan menyusun rencana kontingensi untuk mengantisipasi jika terjadi eskalasi yang semakin memburuk.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
