Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Mei 2017 | 17.20 WIB

Apakah Sosok Ini yang Membawa HTI ke Indonesia?

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Pasca pemerintah melarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), banyak yang mempertanyakan siapa orang pertama pembawa organisasi penganut paham kekhalifahan itu masuk Indonesia. Sebagian kalangan menilai KH Raden Abdullah Bin Nuh.

Namun hal itu secara tegas dibantah Pimpinan Yayasan Islamic Center Al Gajaly Bogor, KH Mustofa Abdullah Bin Nuh. Putra Abdullah bin Nuh ini menegaskan penyebaran paham kilafah pertama di Indonesia bukan oleh ayahandanya. Melainkan oleh Al Ustaz Abdurrahman Al Baghdadi.

“Kami ingin menjelaskan bahwa Mama KH Raden Abdullah Bin Nuh bukan pendiri dan penyebar HTI, tetapi pendiri HTI itu sendiri saya tidak jelas siapa, tapi pembawanya adalah Al Ustaz Abdurrahman Al Baghdadi,” ungkapnya saat konferensi pers di Islamic Center Al Ghazaly seperti dilaporkan Radar Bogor (Jawa Pos Group).

Ulama yang kerap akrab disapa Kiai Toto itu membenarkan, bahwa almarhum ayahnya sempat bertemu dengan Al Baghdadi di Sidney, Australia sekitar tahun 80-an. Dia mengatakan  Al Baghdad justru yang mengidolakan sosok KH Raden Abdullah Bin Nuh, sehingga ikut tinggal di Bogor.

“Saat itu, Al Baghdadi sangat mengidolakan dan terpincut dengan sosok Mama (sebutan KH Abdullah Bin Nuh), dan ketika Mama pulang ke Indonesia, Al Baghdadi ikut dan tinggal di Bogor,” ucap kiai yang baru menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor itu.

Dia menjelaskan Al Baghdadi mulai mengenal Hizbut Tahrir di Libanon ketika masih remaja. Maka, ketika mulai memasuki wilayah Indonesia, Al Baghdadi mulai menyebarkan paham yang dianutnya. Kiai Toto mengatakan, almarhum ayahnya merupakan sosok yang menghargai dan mempelajari semua pemahaman tentang Islam.

Almarhum juga tidak bertindak diskriminatif meski berbeda pemahaman. Itu yang membuat sosok Abdullah Bin Nuh dicintai umat muslim. “Oleh karena itu, wajar saja kemudian timbul statement-statement dari pihak yang merasa Mama ini sebagai Bapaknya, yang sering kita dengar adalah dari saudara kita Hizbut Tahrir. Disini saya luruskan bahwa Mama tidak ada hubungannya dengan HTI," terangnya.

Menurutnya, jika dikatakan Abdullah bin Nuh berkaitan dengan HTI, maka hal tersebut hanyalah sebuah klaim belaka. Sama halnya seperti anggapan orang Syiah yang merasa Abdullah bin Nuh sudah masuk Syiah karena almarhum bergaul dengan mereka menggunakan bahasa Arab-Tiongkok.

“Nah teman-teman kita di Hizbut Tahrir juga geer (Gede Rasa) ketika mengatakan Mama sebagai pendiri Hizbut Tahrir. Tapi mohon maaf kepada saudara-saudaraku dari Hizbut Tahrir, karena ini lebih dari sekadar geer dan sudah mulai memasukkan hal-hal yang perlu diluruskan,” ucapnya.

Untuk itu, Kiai Toto menghimbau kepada seluruh anggota HTI untuk kembali pada ahli sunnah wal jamaah. “Saya mengajak kepada HTI untuk kembali kepada ahli sunnah wal jamaah, apalagi umat Islam 90 persen adalah ahli sunnah wal jamaah,” tandasnya. (cr3/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore