Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Desember 2024, 16.38 WIB

Sastra dan Distopia

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Sastra memungkinkan kata-kata menciptakan dunia yang spektakuler, relasi yang ideal, konflik yang tajam, serta karakter-karakter yang serasa begitu nyata.

SASTRA dalam perannya memang memberikan kita kenikmatan untuk mengikuti lika-liku cerita fiksional dengan degup antisipasi. Meski ada kepuasan juga penghiburan, sastra tidak saja dibatasi oleh fungsi-fungsi itu. Di dalam kondisi dunia yang berkecamuk dengan krisis, sastra memungkinkan kita melakukan spekulasi secara analitis tentang problem-problem yang mungkin terjadi. Kekhawatiran menghadapi kebencanaan karena krisis iklim secara nyata tampak di dalam tema karya-karya sastra yang berkembang di masa kini. Gambaran tentang kehancuran dan kepunahan yang dapat terjadi di masa depan mendorong para penulis mencurahkan keresahannya ke dalam berbagai bentuk karya, baik itu puisi, cerita pendek, maupun novel.

Sastra spekulatif merupakan kategori karya fiksi yang berciri kisah-kisah yang mengimajinasikan realitas alternatif yang berbeda dengan kenyataan yang ada. Acapkali komponen naratifnya melibatkan teknologi futuristis, atau keberadaan makhluk supernatural dan peristiwa magis, serta melibatkan struktur moral maupun sosial alternatif. Subgenre dari kategori sastra spekulatif misalnya seperti fiksi ilmiah/fiksi sains, fantasi, fiksi utopia dan distopia, serta horor supernatural. Sebut saja beberapa karya yang merenungkan kehancuran lingkungan dan rentannya kehidupan manusia seperti Ursula K. Le Guin, Margaret Atwood, Bora Chung, dan Yoko Tawada. Karya-karya para penulis ini mampu menghadirkan situasi yang menggambarkan kerapuhan manusia yang turut dibingkai dengan dahsyatnya suatu katastrofe lingkungan hidup.

Dalam novel Scattered All Over the Earth (2018) karya Yoko Tawada, dikisahkan mengenai Hiruko yang melakukan pencarian terhadap bahasa dan budaya Jepang yang telah terlupakan. Cerita ini menggambarkan kondisi masa depan distopik karena bencana perubahan iklim yang mengakibatkan tenggelamnya wilayah Jepang. Hiruko yang merupakan seorang imigran kebencanaan iklim harus mengungsi ke Denmark dan membiasakan diri dengan kreasi identitas dan bahasa yang baru. Ia melakukan perjalanan untuk menggali pengetahuan tentang Jepang, begitu juga mencari penutur bahasa Jepang yang lain. Novel ini menyajikan emosi yang sangat kompleks yang dialami oleh pengungsi yang kehilangan dunia asalnya, rasa terasing dan tidak bertempat, cara mereka sintas dengan membangun kehidupan baru.

Novel ini menggarisbawahi bahwa kebudayaan manusia sejatinya amat terhubung dengan alam. Tradisi pertanian hingga perikanan di Jepang beserta folklor dan mitos yang meliputinya amat terhubung dengan cara manusia memaknai lingkungan hidupnya. Menghilangnya Jepang dari peta dunia tidak saja berarti lenyapnya pulau-pulau secara fisikal, tetapi hilangnya juga bahasa, sistem religi, struktur ekonomi dan sosial yang membentuk jati diri seseorang. Di tulisan dalam salah satu dialog, bagaimana terbata-batanya menjelaskan tentang buddhisme, satori, maupun tenzo. Istilah-istilah ini tidak saja menghilang, tetapi tercabut dari asal dan makna yang sesungguhnya.

Sementara itu, dalam cerpen berjudul Your Utopia (2024) karya Bora Chung, kita dapat menyimak bagaimana melalui sastra spekulatif juga mampu dibayangkan suatu realitas yang pusat narasinya tidak terletak pada manusia, tapi pada entitas robot. Sastra juga mampu memindahkan pandangan yang mulanya sentralis pada manusia, berganti pada mesin yang mengobservasi manusia tersebut. Dari ingatan suatu robot, dituturkan cara manusia musnah di Planet Merah, mereka terjangkiti penyakit rasa sakit dan lelah yang kronis. Cerita ini mendeskripsikan ruang yang tidak lagi dihuni oleh makhluk organik, yang tersisa hanyalah sekumpulan robot-robot yang juga berupaya mempertahankan nyala hidupnya.

Selain mencermati karya-karya yang dikelompokkan sebagai sastra spekulatif, terdapat pula karya sastra yang bergaya berbeda dalam menggambarkan planet bumi dan luar angkasa oleh Samantha Harvey yang berjudul Orbital (2023). Novel ini baru saja memenangi penghargaan Booker Prize 2024. Adapun Harvey menyampaikan dalam salah satu wawancara, bahwa memang karyanya tidak seperti tulisan fiksi ilmiah berlatar luar angkasa yang dominan berisi elemen futuristis, robot, atau alien. Ia menyebutkan jenis karyanya bergaya space realism atau realisme antariksa. Meski demikian, pesan yang ingin disampaikan oleh Harvey amat dirasakan para pembacanya. Novel ini berkisah tentang enam astronot yang mengamati dan mempelajari bumi. Pembaca dapat menyelami pandangan masing-masing karakter dan relasi mereka dengan bumi melalui kehidupan beserta kerinduan terhadap orang-orang yang mereka cintai. Novel ini secara subtil meletakkan sudut pandang astronot yang melihat cuaca di bumi, termasuk gerakan megatopan yang melanda Asia Tenggara. Betapa manusia terlihat begitu mungil dan rapuh di hadapan kataklisme itu.

Sebagai penutup, saya terngiang salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Simuladistopiakoronakra (2020). Penulis menggambarkan bumi yang berada dalam kondisi mengenaskan dan kemanusiaan pun telah runtuh. Cerpen ini dipublikasikan semasa awal pandemi Covid-19. Oleh karena itu, kritik sang penulis serasa sangat personal dan tajam dirangkai ke dalam cerita. Ia mengangkat soal pengabaian manusia terhadap lingkungannya yang berujung pada kehancuran, ”Apalah yang masih bisa diharapkan dari bumi yang samudranya kering, sungainya berhenti, menyisakan selokan mampat dengan air kehitam-hitaman.” (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore