
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Setiap hari saya menonton atau membaca berita. Di negeri adikuasa, ada mantan presiden yang ditembak lalu terkena daun telinganya.
Di negeri yang elitenya haus kuasa, ada ketua umum partai politik yang mundur; ada koruptor ditangkap; ada yang ditangkap karena tak mau mundur; ada yang mundur karena tak mau ditangkap.
DI negeri lain, di negeri yang kebahagiaan rakyatnya hanyalah ketika pejabat korupnya ditangkap, ada aparat tukang tangkap yang ditangkap karena bermain mata dengan tangkapan.
Berita-berita semacam itu mengingatkan saya pada satu cerita pendek legendaris berjudul Derabat karangan Budi Darma. Terbit di harian Kompas edisi Minggu 3 Agustus 1997, Derabat kemudian terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 1999.
Tokoh ’’saya” dalam cerpen tersebut berkisah tentang perjalanannya menghadapi manusia pemburu bernama Matropik dan burung pemangsa yang disebutnya Derabat. Matropik seorang pendatang di kampung si ’’saya” yang pekerjaannya memburu binatang. Tak hanya memburu binatang hingga habis, Matropik juga manusia cabul yang bengis. Dia suka bertelanjang, mengucapkan kata-kata kotor, juga mengejar-ngejar perempuan. Sebelum membunuh binatang buruannya, Matropik menyiksanya.
Tak hanya itu, Matropik juga merusak mental dan moral anak-anak kampung. Dia ajak anak-anak itu mabuk-mabukan, berkelahi dengan cara curang, juga berkata-kata kotor. Sebab Matropik pula, mereka mencuri dari satu rumah ke rumah, lalu dari kampung ke kampung.
Derabat adalah burung jahanam yang bernafsu mencuri dan selalu ingin mencelakakan siapa pun. Sebagai burung ganas dan kejam, Derabat sama dengan Matropik. Bedanya, Matropik manusia, sedangkan Derabat binatang.
Tokoh ’’saya” dalam cerpen ini hidup sebatang kara dan bekerja sebagai penarik pedati. Ia bekerja dari pelabuhan ke kota untuk membawa ikan-ikan nelayan yang akan dijual di pasar. Setiap bekerja dengan pedatinya, ia siapkan seember ikan untuk burung-burung pemangsa di perjalanan. Perampok pun, bila masih memungkinkan, ia beri bekalnya dan diajaknya bicara baik-baik. Berkat keluhuran budinya, sebagian perampok itu insaf bahkan siap membantunya jika dibutuhkan.
Cerita ini berakhir ketika Matropik mencegat perjalanan si ’’saya”. Pemburu dan pembegal bengis itu ingin merampok apa yang dibawanya. Tapi belum selesai ia tuntaskan hajatnya, Derabat datang menyambar dan menyerang hingga Matropik kelabakan. Derabat ingin mencuri ikan-ikan si ’’saya”, tapi terganggu oleh aksi Matropik. Keduanya saling menyerang dan saling memusnahkan. Pesan tersirat cerita ini kejahatan akan dipertemukan dengan kejahatan. Iblis akan bertemu iblis. Penjahat akan bertempur dengan sesama penjahat. Kebatilan akan berjumpa dengan kebatilan lalu saling menghancurkan.
Bahasa Indonesia memiliki berbagai kosakata untuk menyebut pertikaian. Selain tikai, ada tempur, perang, selisih, tengkar, carok, atau kelahi. Tapi, kata-kata ini terlalu umum untuk segala jenis pertengkaran. Meski memiliki konteks berbeda dalam pemakaiannya, kata-kata ini tak punya kekhususan pelaku. Pelakunya bisa siapa saja, orang baik atau orang jahat, asal berseteru bisa dimasukkan ke dalamnya.
Melalui esai ini, saya usulkan kata derabat untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Derabat, dengan arti, ’’pertengkaran atau pertempuran atau pertikaian antara penjahat dengan sesama penjahat.” Kalau ada koruptor menggasak koruptor lainnya sebutlah aksi itu derabat. Jika sesama perusak negara saling buka kartu, katakan pula aksi mereka itu sebagai derabat. Meski maknanya pertempuran atau saling gasak, orang yang berderabat sama-sama penjahat atau sama-sama makhluk terkutuk yang merugikan orang lain atau merusak tatanan kehidupan –termasuk merusak tatanan bangsa dan negara.
Dari mana kata derabat berasal? Saya duga, Budi Darma mengambilnya dari bahasa Arab, daraba, yang bermakna memukul atau menyerang. Pada bentuk orang ketiga tunggal feminin, verba perfektif daraba ialah darabat. Benar atau tidak, hanya pengarang dan Tuhan yang tahu.
Selain ketepatan konteks dan kejituan makna dengan kekhasan pelakunya, pengusulan kata derabat ke dalam kamus besar bahasa kita juga untuk mengenang sastrawan kelahiran Rembang yang bermukim lalu wafat di Surabaya pada 21 Agustus 2021 itu. Cerpen Derabat adalah satu dari sekian darma Pak Budi bagi sastra Indonesia selain Orang-Orang Bloomington, Kritikus Adinan, Olenka, Ny. Talis, dan Rafilus.
Mulai sekarang, kalau ada penjahat sesama penjahat saling tikam, jika ada perusak demokrasi atau pembegal konstitusi saling menjatuhkan, kita sebut saja ’’mereka sedang berderabat” atau "derabat, oh, derabat!” (*)

Imran Nahumarury Angkat Bicara Usai Semen Padang Kalah dari Persib Bandung
12 Tempat Kuliner Soto Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih
Masih Kekurangan Pegawai Terutama Guru, Pemkab Gresik Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK, Belanja Pegawai Hanya 29 Persen
Sebelum Meninggal, Brian Ardianto 'MasterChef Indonesia' Sempat Minta Maaf dan Singgung Soal Utang
BMKG Prediksi El Nino 2026 di Jatim Lemah, Tak Sekering 2023
Bertemu Menteri PKP Maruarar Sirait di Tanah Abang, Hercules: Lahan Negara Saya Serahkan Hari Ini!
8 Kuliner Tempat Seafood Termantul di Surabaya yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Laut
Mahasiswi Jadi Korban Pelecehan oleh Dosen, Begini Tanggapan Rektor Universitas Budi Luhur
Prediksi Line Up Real Madrid Kontra Bayern Munchen: Kylian Mbappe dan Vinicius di Lini Serang
5 Kuliner Lontong Kupang di Surabaya Ini Paling Laris dan Ramai Pembeli, Penasaran?
