Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 April 2024, 13.40 WIB

Ramadan dan Lebaran: ”Mudik”, Sujud, Syukur

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Sudah menjadi lazim bahwa kecemasan, ketegangan, dan belarasa terhadap kemanusiaan mudah menggerakkan hasrat untuk merekam, melukis, atau memotret.

LIHATLAH karya-karya sejumlah orang yang dengan menakjubkan merekam perang mempertahankan Republik Indonesia pada 1948 di Jogjakarta, seperti dilakukan Mohammad Toha (11 tahun), Muhammad Affandi (12), Sri Suwarno (14) dkk. Suasana penuh ketegangan itu yang menggerakkan murid-murid pelukis Dullah untuk merekamnya melalui lukisan. Hal yang sama dilakukan Srihadi Soedarsono (1931) pada 1947, melukis jatuhnya pesawat Dakota di Desa Ngoto, Jogjakarta, yang membawa obat-obatan. Pada usia belasan tahun mereka tergerak merekam peristiwa penting, bagian dari perjuangan menegakkan Republik Indonesia. Karya-karya mereka kini menjadi artefak sejarah yang amat penting dan bahkan menjadi objek kajian sejarah dan seni.

Di sisi lain, adakah karya-karya seni rupa yang bertolak dari gagasan atau ide tentang rasa syukur, asketik, sunyi hening, dan sukacita? Tentu saja selalu ada perupa yang tergerak mengolah dan menggubah karya dengan tema semacam itu. Perupa A.D. Pirous (1933) salah seorang yang menyusuri kedalaman ayat-ayat Alquran, antara lain melukiskan kebesaran semesta sekaligus menempatkan manusia hanya bagai sebutir debu. Lukisan bertajuk Beratapan Langit dan Bumi Amparan (1990) merupakan contoh bagaimana ia menafsir surah Al-Baqarah ayat 22, warna biru langit yang menguasai bidang, garis dengan warna putih bagai cahaya dari langit kuning emas, dan kutipan ayat di bagian bawah bidang gambar. Tak ada alasan untuk tidak menyembah dan memuliakan Tuhan karena bumi, langit, hujan, yang mengalirkan rezeki untuk manusia.

Dengan topik yang sama, tetapi pendekatan visual yang berbeda, dapat dilihat kembali lukisan-lukisan karya Amang Rahman Jubair (1931–2001) yang menggetarkan. Ayat-ayat Alquran tidak sekadar dikutip menjadi elemen rupa, tetapi lebih jauh adalah ditafsirkan. Makna ayat pertama dari surah Al-Ikhlas, Qulhu Allah Hu Ahad (sekaligus menjadi judul lukisan, 1995), meneguhkan makna keesaan Allah tanpa sekutu bagi-Nya. Atau dapat dicermati lukisan lainnya dengan judul panjang, Sayangilah semua yang di atas bumi, maka kau akan disayangi oleh semua yang di atas langit (1996), bersumber dari sabda Rasulullah Muhammad SAW (Hadis Riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin ’Amr). Pirous dan Amang merupakan contoh bagaimana keheningan dan asketisme dapat disuarakan melalui karya-karya lukisan. Karya-karya mereka, termasuk para perupa lainnya yang mengolah topik sama, merupakan upaya sujud dan syukur atas nikmat dan karunia-Nya.

Dari Ramadan menuju Lebaran adalah perjalanan spiritual yang berujung pada ”mudik”, yakni perjalanan menuju ”udik”. Tentu saja tidak dalam pengertian sekadar pulang kampung, tetapi bermakna menuju inti diri: mudik ke hati, jiwa, kata hati yang bersih dan jernih. Dengan mudik seperti itu, siapa pun dan dalam posisi apa pun (apalagi pemimpin) akan berada dalam kesadaran baru untuk mengerem tamak dan rakus terhadap kekuasaan, harta benda, yang ditempuh secara menyimpang seperti ngakali hukum, kolusi, nepotisme, dengan menghalalkan segala cara.

Mangasah Mingising Budi

Ibadah puasa Ramadan sangat personal, bagaimana setiap pribadi berupaya menunaikan kepatuhan menjalankan syariat Islam, menunjukkan integritas penuh kepada Allah SWT. Hanya diri sendiri yang dapat mengukur kualitas kepatuhan dan integritasnya. Karena ”Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya” demikian firman Allah SWT (Hadis Bukhari 1761 dan Muslim 1946). Berada dalam atmosfer asketik semacam itu, siapa pun sesungguhnya dapat memanen berkah ”ketajaman akal budi” (mangasah mingising budi) untuk kepentingan ”membasuh (membersihkan) malapetaka di bumi” (memasuh malaning bumi). Kalimat dengan diksi indah ini merupakan ajaran Sultan Agung (pernah disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwana X, dalam sabda tama Sri Sultan menyapa pada 2020, ketika pagebluk Covid-19).

Ketajaman akal budi tampaknya mengalami krisis. Setidaknya yang dipertontonkan oleh para penguasa, politisi, penegak hukum, dan para pemandu soraknya dalam wacana serta praktik politik (setidaknya setiap lima tahun). Mereka secara telanjang menampakkan syahwat kuasa niretika yang kini terus digugat oleh para penjaga gawang moral bangsa.

Jika bulan Ramadan dijadikan episentrum renungan, tak ada yang lebih relevan kecuali upaya menuai hikmahnya. Antara lain menggagas dan mewujudkan karya seni atau peristiwa kesenian untuk; pertama, memperteguh keimanan, karena seluruh tindakan kreatif sesungguhnya karena kehendak dan limpahan energi-Nya. Kedua, mempertebal rasa syukur, karena setiap pikiran dan tindakan kreatif semestinya berada dalam kerangka ungkapan syukur atas beragam karunia persoalan, ketabahan menjalani, dan keindahan-Nya. Ketiga, merayakan keragaman, karena kehadiran setiap orang justru bertumpu pada kenyataan betapa beranekanya wujud, pikiran, ekspresi, kehendak, keimanan, ideologi, dan lain-lainnya. Karena berbeda, maka aku (siapa pun) ada. Keempat, sikap berpihak pada manusia serta kemanusiaan, karena dengan kesadaran itu, maka akan sampai pada ujungnya, yakni sikap respek pada sesama untuk tujuan yang sama: memuliakan kehidupan tanpa diskriminasi dan kekerasan. Seni/karya seni merayapi nadi kehidupan, menyentuh lembut sisi kemanusiaan.

Selamat Lebaran. Selamat ”mudik”, kembali ke ”udik”, kembali ke diri, selamat berziarah ke para leluhur. Namun, yang paling penting adalah menziarahi diri sendiri yang barangkali justru tak pernah disapa, tak pernah dikaruhke, betapa seluruh elemen dalam tubuh, jiwa, dan pikiran inilah yang mengantarkan setiap kita menjadi diri seperti yang ada sekarang. Mohon maaf lahir batin untuk semua khilaf dan salah. (*)

---

SUWARNO WISETROTOMO, Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana ISI Jogjakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore