Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 September 2022, 16.19 WIB

Dangdut Koplo: Dulu Dihina, Kini Merajalela

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Pada 17 Agustus 2022, peringatan hari kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta, terasa berbeda. Seorang anak berusia 12 tahun, Farel Prayoga, berhasil menggoyang Istana Merdeka ketika menyanyikan lagu dangdut koplo Ojo Dibandingke karangan Abah Lala.

TIDAK hanya mengundang keriangan, para menteri hingga ibu negara ikut goyang, bahkan Presiden Joko Widodo meminta lagu dangdut koplo lainnya untuk dinyanyikan. Hari kemerdekaan terasa menyenangkan, Farel semakin viral.

Bukan hanya Farel, Denny Caknan, biduan yang dikenal karena lagu Kartonyono Medot Janji, juga tidak kalah fenomenal. Ia berhasil menjadi biduan dangdut yang bernyanyi tidak lagi hanya di pesta hajatan atau khitanan, tetapi turut ditanggap di pentas seni sekolah, konser di mal, hingga berkali-kali tampil di televisi. Akun YouTube-nya menjadi salah satu biduan dengan subscribers terbanyak, yakni 5.110.000. Lagunya, Kartonyono Medot Janji, bahkan sudah ditonton 249.724.315 kali di YouTube. Sebagai perbandingan, populasi penduduk Indonesia berjumlah 273.879.750 jiwa. Di setiap pentas, penampilannya selalu disesaki penggemar.

Orkes Melayu pun mengalami hal serupa, seperti OM Sera, OM Pallapa, OM New Palapa, OM Monata, OM New Monata, dan OM Sonata kebanjiran permintaan pentas. Pada enam tahun belakangan, mereka memiliki jumlah views ratusan ribu hingga jutaan kali di YouTube. Salah satu momentum yang menyebabkan dangdut koplo kembali diminati terjadi pada 2016–2017 ketika banyak lagu baru yang diproduksi, lirik lagu yang representatif, wajah biduanita yang lebih segar, iringan yang bikin goyang, dan perhatian media yang niscaya mengarah padanya.

Namun, siapa yang mengira bahwa kejayaan mereka belum juga usang dilahap zaman. Sudah enam tahun berlalu, dangdut koplo justru semakin berlipat ganda, baik jumlah biduan, orkes, penggemar, maupun kuantitas pentas. Tidak hanya dikenal, dangdut koplo juga merajalela, baik untuk kalangan dewasa maupun para milenial, laki-laki ataupun perempuan. Alih-alih hanya menonton di panggung, mereka juga menyaksikannya di internet, kapan pun dan di mana pun hanya dengan ponsel pintar mereka.

Terus Bertumbuh

Jika merujuk pada akar keberadaannya, dangdut koplo adalah varian dangdut yang muncul, tumbuh, dan berkembang di Jawa Timur. Ada beberapa dugaan tahun di mana ia lahir, tetapi beberapa penggede orkes Melayu di Jawa Timur senada mengatakan bahwa varian ini muncul pada pertengahan 1990-an. Dengan tempo yang lebih cepat, varian ini memang kerap dimainkan untuk melepas penat, laiknya orang yang menenggak pil koplo.

Dangdut koplo dikenal publik Jakarta dan kota-kota lainnya pasca meledaknya video bajakan dari Inul Daratista yang tengah berjoget di sebuah acara warga pada 2003. Sontak banyak yang kontra dengan varian ini, bahkan sang Raja Dangdut Rhoma Irama dan organisasinya, PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia), ikut mengutuknya. ”Koplo bukan dangdut!” ujar Rhoma Irama yang kemudian diamini oleh rekan-rekan PAMMI dan penggemarnya.

Banyak yang mendukung hal tersebut, tetapi tidak sedikit yang membela dangdut koplo. Pasca kejadian, nasib dangdut koplo diramalkan akan terseok-seok. Alih-alih terbukti, dangdut koplo justru bertahan dan terus berkembang dari masa ke masa. Ada dua alasan mengapa hal tersebut terjadi. Pertama, dangdut koplo di Jawa Timur terlalu mengakar. Varian ini bukan sekadar genre musik, tetapi sudah merasuk ke budaya masyarakat. Mulai pernikahan, khitanan, naik jabatan, perayaan Lebaran, pesta panen, ulang tahun kabupaten atau kota, bahkan hari kemerdekaan dirayakan dengan pentas dangdut koplo. Tidak hanya di Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur, varian ini tersebar di pelbagai daerah, misalnya Jombang, Nganjuk, Kediri, Pasuruan, dan daerah pantai utara lainnya.

Kedua, dangdut koplo dalam enam tahun belakangan dikenal dengan citra baru, tiada stigma tak seronok. Selain karena aransemen kreatif dan bikin goyang dalam membawakan lagu orang, banyak biduan dan biduanita dangdut koplo yang menyanyikan lagu ciptaan baru. Masih bertema patah hati, lagu-lagu tersebut disukai karena lirik yang dianggap mewakili dan penggunaan bahasa Jawa yang erat dengan keseharian pendengar. Pun biduanita-biduan baru terus bermunculan, mulai Brodin, Ratna Antika, Sodiq, Via Vallen, Nella Kharisma, Jihan Audy, Tasya Rosmala, Ilux ID, dan masih banyak lainnya hingga biduanita-biduan yang tengah tenar kini seperti Happy Asmara, Vita Alvia, Lala Widy, Yeni Inka, Denny Caknan, ataupun Farel Prayoga.

Semua Akan Koplo pada Waktunya

Perlu diakui bahwa dangdut koplo semakin tersebar karena teknologi terkini, internet. Generasi muda dangdut koplo berhasil mengekspansi teknologi sedemikian besar. Konten demi konten dibuat oleh biduan, biduanita, orkes Melayu, hingga produser di pelbagai platform, baik berbasis video seperti di YouTube, TikTok, Instagram, ataupun Facebook maupun berbasis audio seperti di Spotify, Joox, dan platform sejenis. Tidak hanya tentang menyanyi, mereka juga memiliki ruang ekspresi seperti podcast, vlog, dan sebagainya. Hal itu lantas disaksikan dengan setia oleh penggemar.

Karena tidak sedikit, algoritma konten dangdut koplo pada pelbagai platform terbentuk. Algoritma dapat diartikan sebagai perangkat aturan yang menentukan data berperilaku. Di media sosial berbasis video, algoritma dapat menyarankan dan menawarkan tontonan. Ketika kita mencoba menonton dangdut koplo sekali saja, saran dan tawaran akan terus berdatangan. Hal ini tentu membentuk kecenderungan dan kebiasaan, bahkan bagi filsuf komputer Jaron Lanier dapat menyebabkan candu. Jika demikian kita bisa apa, yang awalnya benci menjadi suka, yang sudah suka menjadi cinta. Maka, perlahan tapi pasti, semua akan dangdut koplo pada waktunya. (*)

---

MICHAEL H.B. RADITYA, Peneliti, penulis, dan pendiri dangdutstudies.com

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore