
Photo
Apa yang menarik untuk diamati dari orang-orang yang tidak makan dan tidak minum sejak fajar sampai matahari terbenam? Secara esensial ibadah puasa memang menahan lapar (dan hawa nafsu), sebagaimana diperintahkan agama Islam.
---
NAMUN, sejatinya ibadah puasa melampaui apa yang esensial tersebut. Perintah puasa yang awalnya hanya berdimensi keagamaan (religi), ketika diamalkan akan berkembang menjadi berdimensi kemanusiaan yang sangat luas. Justru yang menarik dari ibadah puasa adalah dimensi yang luas itu, yang bisa diamati secara kasatmata, bahkan bisa diabadikan dengan bantuan berbagai peralatan.
Puasa adalah ibadah yang unik karena bersifat individual. Hanya yang tengah menjalankan dan Tuhan-lah yang tahu apakah seseorang benar-benar sedang berpuasa atau tidak. Namun, karena puasa adalah ibadah yang dilekatkan kepada manusia, bukan hanya dimensi ilahiah yang muncul, melainkan juga dimensi insaniah (dimensi kemanusiaan).
Dimensi kemanusiaan ibadah puasa telah menciptakan ritual-ritual tambahan yang menyejarah dan berdimensi budaya. Yang dimaksud menyejarah, berbagai perilaku manusia saat menjalankan ibadah puasa tentu saja berubah sejalan dengan perkembangan zaman. Sementara itu, dimensi budaya telah memperlihatkan kepada kita bahwa setiap bulan puasa akan memunculkan tradisi yang unik dan berbeda-beda antara satu daerah dan daerah lain, yang mengacu pada kondisi budaya setempat yang juga khas. Tradisi yang unik tersebut bisa disebut sebagai ritus tambahan dari ibadah puasa.
Dengan adanya ritus tambahan, suasana bulan puasa tidak hanya dirasakan seseorang yang tengah menjalankan ibadah tersebut, tapi juga orang lain secara massal. Siapa pun yang berada di negara-negara muslim akan merasakan suasana menjelang bulan puasa tiba. Jika harga barang-barang kebutuhan pokok tiba-tiba merangkak naik, bisa dipastikan bulan puasa segera tiba. Bahkan kadang-kadang kita guyonan, jika televisi sudah menayangkan iklan sarung dan sirup, itu menandakan bulan puasa sudah dekat. Saat bulan puasa benar-benar sudah tiba, suasana keseharian yang khas akan dirasakan pula hampir semua orang.
Tentu saja ibadah puasa tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Namun, dimensi sejarah mencatat bahwa ritus tambahanlah yang berubah seiring dengan perkembangan waktu. Saat saya kecil pada 1980-an, kedatangan bulan puasa disambut dengan tradisi membersihkan diri. Tradisi itu ternyata meluas di hampir semua daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Baharuddin Aritonang dalam bukunya Orang Batak Berpuasa menceritakan bahwa tradisi bersih diri menjelang puasa Ramadan di Batak disebut marpangir, yaitu mandi beramai-ramai di sumber air yang berada di luar rumah dan terbuka. Di Jawa ada tradisi padusan, di Minangkabau ada tradisi balimau. Di tempat lain tentu saja juga ada hal yang sama dengan nama berbeda, yang intinya bahwa bulan puasa harus disambut dengan tubuh dan hati yang bersih.
Hampir semua tradisi bulan puasa pada zaman dulu memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Orang baru merasa telah mengikuti ritual marpangir, padusan, maupun balimau jika telah melakukannya beramai-ramai (massal) di sumber air umum. Misalnya, sungai, danau, saluran irigasi, atau sumber air besar lainnya. Tradisi-tradisi lain seperti megengan, nyadran, ziarah kubro, dan dugderan juga bersifat massal, diikuti banyak orang. Puasa telah mengikat banyak orang menjadi satu kesatuan kuat yang terimplementasikan dalam berbagai bentuk ritual.
Andre Moller dalam bukunya Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar menyebut bahwa bulan puasa di Jawa merupakan sesuatu yang luar biasa, yang suasananya tidak akan dijumpai pada bulan-bulan lain. Moller menyebut puasa Ramadan sebagai ritual yang kompleks karena di sana terdapat banyak subritual yang tidak secara langsung berkaitan dengan inti ibadah puasa. Sebagai ibadah yang juga berdimensi sejarah, tentu saja subritual yang mengikuti puasa juga berubah-ubah sesuai dengan perubahan zaman.
Tradisi marpangir, padusan, atau balimau saat ini sudah berkurang drastis. Hal tersebut mungkin terkait dengan mulai terbatasnya sumber air terbuka yang bisa menampung banyak orang secara bersamaan atau terkait dengan masalah etika dan kenyamanan. Saat ini di mana sebagian besar rumah telah memiliki sumber air yang bersifat privat, mandi di tempat umum yang terbuka dianggap kurang sopan dan kurang nyaman. Karena kemassalan merupakan esensi dari tradisi membersihkan diri sebelum puasa, ketika aspek kemassalan tidak terlaksana, secara otomatis tradisi tersebut perlahan-lahan pudar.
Namun, sifat individual yang mulai melanda masyarakat Indonesia juga bisa menjadi penyebab mengapa tradisi seputar bulan puasa yang bersifat massal terasa semakin pudar. Proses urbanisasi yang dipercepat dengan teknologi sistem informasi demikian cepat telah mengubah sifat masyarakat pedesaan menjadi masyarakat yang serba berpikir praktis. Jika sesuatu bisa dilakukan sendiri dengan biaya sendiri, buat apa hal tersebut diserahkan pada mekanisme kebersamaan. Dengan demikian, tradisi bulan puasa pun yang semula bersifat massal pelan-pelan berubah menjadi aktivitas yang lebih bersifat pribadi. Marpangir, padusan, dan balimau diganti dengan mandi sore di kamar mandi.
Ritus tambahan ibadah puasa sebagai sesuatu yang berdimensi historis akan terus berubah sepanjang zaman. Keunikan orang-orang saat menjalankan ibadah puasa akan terus berubah mengikuti perkembangan dan semangat zaman. Jika dulu orang ramai-ramai menyerbu pemandian umum sebagai penanda memasuki bulan puasa, saat ini orang ramai-ramai menyerbu tempat perbelanjaan untuk memborong berbagai kebutuhan pokok dalam rangka menyambut bulan puasa. Saat bulan puasa berjalan, tradisi kebersamaan akan berlangsung di rumah-rumah makan ketika ritus buka bersama dilakukan. Selamat menjalankan ibadah puasa. (*)
