Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Maret 2026, 05.07 WIB

Iran Tegaskan Selat Hormuz Terbuka untuk Semua Negara Kecuali 'Musuh', AS dan Israel Jadi Sorotan di Tengah Eskalasi Global

Kapal kargo di Teluk dekat Selat Hormuz, saat Iran menyatakan jalur vital energi itu terbuka kecuali bagi kapal "musuh" (The Guardian) - Image

Kapal kargo di Teluk dekat Selat Hormuz, saat Iran menyatakan jalur vital energi itu terbuka kecuali bagi kapal "musuh" (The Guardian)

JawaPos.com - Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, namun dengan pengecualian tegas terhadap kapal yang terafiliasi dengan pihak yang disebut sebagai "musuh." Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang kini berdampak langsung pada stabilitas jalur energi global.

Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling strategis dalam sistem energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melintasi jalur ini setiap hari. Oleh karena itu, setiap gangguan, baik berupa ancaman militer maupun pembatasan administratif, berpotensi memicu tekanan besar terhadap pasar energi internasional.

Melansir The Guardian, Minggu (22/3/2026), seorang pejabat Iran menyatakan bahwa jalur tersebut secara prinsip tetap terbuka untuk semua kapal, kecuali yang berasal dari negara yang dikategorikan sebagai "musuh." Namun demikian, laporan tersebut juga menyoroti bahwa kondisi operasional di lapangan menunjukkan pembatasan yang jauh lebih kompleks.

Perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional, Ali Mousavi, menegaskan bahwa akses ke Selat Hormuz tetap dimungkinkan melalui koordinasi keamanan dengan otoritas Iran. Ia menyatakan, "Dengan pengaturan keamanan dan keselamatan yang tepat, selat ini terbuka untuk semua kapal, kecuali kapal dari negara musuh." Pernyataan ini menegaskan adanya pendekatan selektif dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Lebih lanjut, Mousavi menempatkan diplomasi sebagai prioritas utama Iran dalam merespons situasi ini. "Diplomasi tetap menjadi prioritas Iran. Namun, penghentian total agresi serta kepercayaan dan keyakinan timbal balik jauh lebih penting," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa serangan dari Amerika Serikat dan Israel merupakan akar dari ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz.

Di sisi lain, dinamika di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari stabil. Serangan terhadap kapal serta dugaan pemasangan ranjau laut di perairan tersebut telah secara signifikan membatasi pergerakan kapal-kapal internasional. Akibatnya, banyak operator pelayaran memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute demi menghindari risiko keamanan.

Selain itu, laporan Gulf News mengungkap bahwa Iran memberikan akses yang relatif lebih aman kepada negara-negara yang dianggap memiliki hubungan baik, seperti Tiongkok, India, dan Pakistan. Sebaliknya, kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya menghadapi hambatan yang lebih besar dalam melintasi wilayah tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz secara formal memang tidak ditutup, tetapi dalam praktiknya mengalami pembatasan yang signifikan. Kombinasi antara pertimbangan geopolitik dan ancaman keamanan telah mengubah jalur ini menjadi kawasan dengan tingkat risiko tinggi bagi perdagangan global.

Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk menekan Iran. Salah satu opsi yang mencuat adalah kemungkinan penguasaan atau blokade terhadap Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran. Namun, langkah tersebut dinilai berpotensi memperluas eskalasi konflik di kawasan.

Presiden AS, Donald Trump, juga telah menyampaikan peringatan keras kepada Teheran. Ia menyatakan bahwa Washington akan "menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran" apabila Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam jangka waktu 48 jam. 

Akibatnya, dampak terhadap pasar energi global mulai terlihat secara nyata. Ketidakpastian pasokan dari kawasan Teluk mendorong kenaikan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi krisis energi global. Negara-negara yang bergantung pada impor energi menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar.

Dengan demikian, pernyataan Iran mengenai keterbukaan Selat Hormuz perlu dipahami dalam kerangka yang lebih luas dan strategis. Secara formal, jalur tersebut dinyatakan terbuka. Namun, pembatasan selektif, ancaman militer, serta gangguan operasional di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap jalur vital ini berada dalam kondisi yang sangat rentan.

Ke depan, stabilitas Selat Hormuz akan sangat ditentukan oleh perkembangan diplomasi dan dinamika konflik di kawasan. Tanpa adanya deeskalasi yang konkret, risiko gangguan terhadap pasokan energi global akan terus meningkat, dengan implikasi luas terhadap perekonomian dunia.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore