alexametrics

Harmoni Perdagangan di Kalimas Buyar gara-gara Monopoli

29 Mei 2022, 16:56:58 WIB

Mengingat Kembali Pentingnya Surabaya dalam Lintasan Jalur Rempah

Surabaya menjadi satu-satunya titik di Pulau Jawa yang masuk lintasan jalur rempah Nusantara. Kalimas dan area sekitarnya adalah pusat perdagangan paling hidup. Sejak dulu kala, Surabaya adalah penghubung Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

DENYUT perekonomian begitu terasa di sepanjang Jalan Songoyudon, Kecamatan Pabean Cantian, kemarin (28/5). Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.10 WIB. Masih terlalu pagi untuk Kota Pahlawan yang sedang menikmati akhir pekan. Namun, para pedagang di Pasar Pabean sudah terbiasa dengan ritme seperti itu sejak pasar lahir pada 1849 silam.

Suara lantang para pedagang yang menawarkan barang dagangan mereka berbaur dengan riuhnya suasana pasar. Para pembeli lalu-lalang dan sesekali minggir ke lapak pedagang untuk memberi jalan kepada para kuli panggul yang menggotong komoditas di pasar tersebut. Jawa Pos mencatat, arus di lorong-lorong pasar mulai surut pada pukul 07.39 WIB. Suara para pedagang mereda. Beragam jenis ikan dan rempah di lapak-lapak pedagang tetap setia menanti pembeli.

Sekitar 500 meter dari pasar itu berdiri dengan kukuh Menara Pandang yang juga dikenal sebagai Menara Syahbandar. Di sanalah, dulu, syahbandar menjalankan tugas sebagai pengawas perdagangan, penentu pajak, dan penentu mata uang dalam transaksi jual beli.

Purnawan Basundoro, pakar sejarah sekaligus dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), menyebut Pasar Pabean dan Menara Syahbandar sebagai dua lokasi penting jalur rempah. Dua titik itu merupakan bagian dari pusat perdagangan Surabaya di Kalimas pada abad ke-11.

Komoditas utama yang membuat Surabaya selalu ramai, menurut dia, adalah rempah-rempah. ”Rempah-rempah itu juga menjadi bekal bagi Raja Hayam Wuruk saat berkunjung ke wilayah kekuasaannya,” kata Pur, sapaannya.

Prasasti Bilulu (391 M) menyebutkan bahwa rempah-rempah yang diperjualbelikan adalah sahang (merica), cabai jawa, kemukus, dan kapulaga. Komoditas itu juga dibawa kapal-kapal dari Kalimas untuk diperdagangkan hingga ke luar Pulau Jawa.

Tidak hanya dari pedalaman Pulau Jawa, rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang utama di Kalimas juga datang dari kawasan Indonesia Timur. Misalnya, kayu cendana dan pala dari Maluku.

Dalam naskah kuno Sri Tanjung, disebutkan bahwa rempah-rempah itu juga menjadi andalan dalam masakan olahan Kerajaan Majapahit. Masakan berbumbu rempah itu disuguhkan kepada tamu-tamu kerajaan. Termasuk kepada orang asing. Diplomasi masakan berbumbu rempah itu pula yang berkontribusi positif pada perdagangan rempah sejak era Majapahit.

Kakawin Parthayajna juga menuliskan rempah-rempah Nusantara. Di antaranya, jahe, ketumbar, kencur, serta bawang putih yang disebut casun putih.

Sebelum era kejayaan Kalimas yang melibatkan pedagang dari banyak wilayah dan bangsa, jalur rempah berpusat di Hujung Galuh (Pelabuhan Surabaya). Pelabuhan itu berperan penting sejak era Airlangga memimpin Kerajaan Janggala. Pusatnya ada di aliran Sungai Brantas. Sungai tersebut bermuara di Hujung Galuh yang diduga berlokasi di Balongbendo, Sidoarjo.

Pur menambahkan, dalam naskah kuno tertulis soal hubungan baik Hujung Galuh dan Malaka. Itu menjelaskan persebaran rempah Nusantara sampai ke Malaka yang ketika itu menjadi gerbang perdagangan di Asia. Para pedagang Arab, India, dan Eropa (Spanyol dan Portugis) masuk ke Surabaya setelah lebih dulu singgah di Malaka.

JEJAK KEJAYAAN: Crane tua di Kalimas Timur, Surabaya, ini merupakan cagar budaya. Pada zamannya, crane menjadi alat vital untuk mengangkat komoditas berkapasitas dan berbobot besar. (AHMAD KHUSAINI/JAWA POS)

”Selain sebagai berkumpulnya rempah, Hujung Galuh juga difungsikan sebagai lokasi transit kapal-kapal dari Indonesia Timur,” ujar Pur. Sebab, Hujung Galuh adalah pelabuhan yang sangat strategis. Hujung Galuh menghubungkan perdagangan dengan wilayah-wilayah penghasilnya di pedalaman Pulau Jawa.

Kendati masa kejayaan Surabaya sebagai pusat perdagangan dan jalur rempah tercapai pada abad ke-11, manuskrip tentang hal tersebut tidak pernah detail. ”Barulah perkembangan selanjutnya itu terjadi pada masa Majapahit sampai abad ke-17. Di situ diceritakan bahwa jalur rempah itu di sepanjang Kalimas. Termasuk penyebutan Pasar Pabean dan Syahbandar,” paparnya.

Kejayaan jalur rempah di Surabaya sirna sejak Belanda mendominasi perdagangan dengan VOC-nya. Itu terjadi sekitar abad ke-17. Jaringan rempah menjadi lesu karena VOC memborong semua rempah dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Tentu saja, kesepakatan sepihak itu hanya menguntungkan VOC.

Karena itulah, perdagangan rempah tidak lagi bergairah. Apalagi, Belanda kemudian juga membangun Pelabuhan Tanjung Perak dan menjadikannya jalur baru yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Perlahan tapi pasti, jalur rempah di Surabaya padam.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sam/c19/hep

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads