alexametrics

Kesiapan Para Tenaga Kesehatan di Surabaya Menanti Vaksinasi Covid-19

9 Januari 2021, 07:48:47 WIB

Vaksin adalah salah satu cara untuk membangun herd immunity sebagai pencegahan penularan Covid-19. Saat ini vaksin Covid-19 sudah tiba di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Banyak tenaga kesehatan (nakes) yang bersemangat menanti vaksin Sinovac itu.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI- SEPTIAN NUR HADI, Jawa Pos

SEPULUH bulan lebih, masyarakat berjuang melawan Covid-19. Tidak terkecuali para tenaga kesehatan (nakes) yang berada di garda depan dalam mengobati dan merawat pasien-pasien yang terpapar Covid-19. Waktu yang tidak sebentar itu membuat banyak nakes terpapar virus SARS CoV-2. Tidak sedikit pula di antara mereka yang berpulang karena pengabdiannya menolong para pasien Covid-19.

’’Iya, saya 10 bulan ini berhadapan dengan pasien ibu hamil positif Covid-19. Hampir setiap hari bersinggungan dengan pasien Covid-19,” kata dr Didi D. Dewanto SpOG, direktur Rumah Sakit Husada Utama (RSHU). Meski menjabat direktur, Didi tidak bisa sekadar bekerja di balik meja atau work from home.

Sebagai dokter spesialis obgyn, Didi memiliki tanggung jawab menolong para pasien ibu hamil yang juga terpapar Covid-19.

”Hampir setiap hari ada pasien ibu hamil Covid-19 yang datang dan harus ditangani operasi. Saya juga turun tangan. Sebagai pemimpin rumah sakit juga harus memberikan contoh kepada yang lain,” ujarnya.

Didi mengaku menjadi salah satu dokter yang akan menerima vaksin Sinovac gelombang pertama. Pesan singkat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) itu diterima pada 2 Januari. Pesan tersebut merupakan pemberitahuan sebagai penerima vaksin Covid-19. ”Saya salah satu penerima vaksin gelombang pertama nanti. SMS (short message system) sudah saya terima,” kata dia.

Didi mengatakan, sejatinya di RSHU ada 751 orang, baik nakes maupun staf yang diinput ke data Kemenkes. Namun, yang terverifikasi hanya 726 orang. ”Itu yang memenuhi syarat,” ujarnya.

Meski begitu, belum diketahui siapa saja yang mendapatkan SMS dari Kemenkes sebagai penerima vaksin gelombang I. Sebab, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis (juknis). Vaksin Sinovac juga masih berada di gudang Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur. Setelah dari Dinkes Jatim, vaksin baru dikirim ke dinkes kabupaten/kota. Lalu, didistribusikan ke fasilitas kesehatan (faskes). ”Besok (hari ini, Red) baru dirapatkan,” kata dia.

Didi mengaku sangat yakin untuk menerima vaksin Covid-19. Sebab, vaksin tersebut sudah diuji klinis hingga beberapa fase. ”Kalau saya pribadi mau divaksin tanpa ragu-ragu. Kenapa harus takut? Vaksin melalui uji klinis fase I dan II sudah membuktikan aman untuk manusia. Apalagi di fase III,” jelasnya.

Menurut dia, sudah banyak ahli virologi di dunia. Tentu mereka tidak akan membuat vaksin yang membahayakan manusia. Apalagi, vaksin tersebut menggunakan metode inactivated untuk mematikan virus. ”Kalau vaksin sudah dimasukkan, tidak mungkin virusnya menjadi liar di dalam tubuh manusia,” ujarnya.

Didi mengatakan, vaksin Covid-19 memang masih menjadi pro dan kontra. Tidak terkecuali di lingkungan tenaga medis di RSHU. Meski sama-sama berprofesi dokter, tidak semua siap. ”Pasti ada yang ragu-ragu. Saya harus memberikan keyakinan. Khususnya, kepada SDM dan nakes saya,” kata dia.

Harapan adanya vaksinasi Covid-19 juga dinantikan para nakes di Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II (RSLK) Indrapura. Semua tenaga kesehatan (nakes) yang terdiri atas 44 dokter dan 76 perawat telah didaftarkan sebagai penerima vaksin. Tinggal menunggu kepastian pelaksanaan dari pemerintah pusat.

Penanggung jawab RSLK Indrapura Laksamana Pertama dr I Dewa Gede Nalendra Djaya mengatakan, seluruh nakes telah siap menerima suntikan vaksin. Termasuk dirinya. Hanya, Nalendra belum bisa memastikan waktu pelaksanaannya.

Baca Juga: Sudah Transfer Rp 100 Juta, Gula Pasir Tak Dikirim

Nalendra menyatakan belum mengetahui secara pasti khasiat vaksin itu. Namun, vaksin tersebut diyakini dapat menjadi penangkal virus Covid-19. Hal itu membuatnya siap untuk divaksin. ”Saya optimistis saja, vaksin akan berdampak baik bagi penerimannya. Karena kan vaksin sudah lulus uji klinis dari BPOM dan tidak ada kekeliruan ” ucap dia.

Berbagai persiapan pun dilakukan Nalendra. Mulai berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan selalu berpikir positif. Tujuannya, kondisi tubuhnya tetap sehat. Pola hidup sehat itu juga diterapkan oleh seluruh nakes. Dengan berolahraga dan berpikir positif, mereka tidak merasa takut dan optimistis mendapatkan vaksinasi. ”Pemerintah pasti memberikan yang terbaik bagi warganya. Jadi, kami harus mendukungnya,” ujarnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git


Close Ads