Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Januari 2017 | 19.37 WIB

Melihat Aktivitas Komunitas Aksi Tuli Sidoarjo, Belajar Bahasa Isyarat Dasar 30 Menit

BERBICARA DENGAN ISYARAT TANGAN: Anggota dan volunter Aktu menggelar aksi rutin Minggu (9/1) di alun-alun. - Image

BERBICARA DENGAN ISYARAT TANGAN: Anggota dan volunter Aktu menggelar aksi rutin Minggu (9/1) di alun-alun.

Tidak perlu tuli untuk belajar bahasa isyarat. Pesan penting itulah yang berusaha disampaikan Komunitas Aktu kepada masyarakat luas. Mereka siap mengajari. Gratis.



FIRMA ZUHDI AL FAUZI



TANGAN kiri Adhien Fadhli Rochmad dalam posisi terbuka hingga tampak telapak tangannya. Dalam hitungan detik, tangan kanannya diarahkan ke telapak tangan kirinya seolah sedang menuliskan sesuatu.


Setelah itu, tangan kanannya menunjuk ke dada. Itulah cara Adhien untuk mengatakan ’’nama saya’’. Adhien yang kini dipercaya menjadi ketua Komunitas Aksi Tuli (AKTU) Sidoarjo itu memang tuli.


Dia tidak bisa menangkap suara sejak lahir pada 11 November 1994. Hampir seluruh rekan-rekannya yang berkumpul bersamanya di Alun-Alun Sidoarjo, Minggu (8/1) juga senasib.


Ada yang tuli sejak lahir seperti Adhien. Ada pula yang bukan bawaan. Misalnya, Dani Eka Kurniawati. Titin, sapaan akrab Dani Eka Kurniawati, mengalami tuli saat usianya sekitar 3 bulan.


Kala itu badan Titin panas tinggi. ’’Dulu, saat sebelum itu (Titin panas tinggi, Red), ditepuk begitu masih bisa nyambung. Bisa nangis, berarti kan belum tuli,’’ ujar volunter AKTU Mufti Lazuardi yang kemarin membantu Jawa Pos menerjemahkan bahasa isyarat Adhien dan Titin.


Menurut Mufti, meski tuli, mereka tetap tidak ingin disebut orang yang kekurangan. Melainkan hanya beda kemampuan. Mufti mencontohkan orang Indonesia yang tidak bisa bahasa Inggris datang ke Amerika.


Bahasa mereka berbeda di Negeri Paman Sam. Mau tidak mau, mereka akan menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.


’’Nah, orang tuli itu seperti itu. Kemampuannya beda,’’ ucap alumnus Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang tersebut.


Adhien menyampaikan, mereka juga tidak mau disebut tunarungu. Sebab, tunarungu seakan-akan mengidentifikasi bahwa mereka terkena penyakit pendengaran dan butuh diobati.


’’Padahal enggak. Tunarungu itu kalau sakit pendengaran karena terbentur atau apa butuh diobati agar bisa sembuh,’’ jelas Adhien dalam bahasa isyarat yang diterjemahkan Mufti.


Komunitas AKTU berdiri sejak 22 Februari 2015. Mereka berharap orang awam bisa memahami. Termasuk belajar cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat.


Harapannya, mereka tetap memiliki akses luas kepada masyarakat. Dia mencontohkan, banyak rumah sakit yang menyediakan jalur khusus bagi orang buta dan orang yang tidak bisa berjalan.


’’Kalau untuk orang tuli, masih belum banyak saya temui. Nah, akses semacam ini yang kami maksud,’’ ungkap Adhien. Apalagi, lanjut dia, tidak semua orang tuli bisa menulis.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore