
Ilustrasi kilang minyak. (FREEPIK)
JawaPos.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu gejolak harga minyak dunia yang semakin tak menentu. Kenaikan harga minyak mentah global tidak hanya berdampak pada negara produsen, tetapi juga menekan negara importir seperti Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.
Harga minyak global saat ini masih mengacu pada dua indeks utama, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Hingga Kamis (27/3) pagi, harga minyak WTI tercatat berada di level USD 93,2 per barel, turun dari posisi USD 98,5 per barel pada awal pekan.
Sementara itu, minyak Brent menyentuh USD 106 per barel. Secara rata-rata, harga minyak mengalami kenaikan signifikan sejak konflik memanas.
Sejumlah negara anggota International Energy Agency (IEA) telah merespons lonjakan harga dengan melepas cadangan minyak strategis ke pasar. Dari total sekitar 1,2 miliar barel cadangan strategis yang dimiliki, IEA bersama negara anggotanya sepakat menggelontorkan sekitar 400 juta barel guna meredam tekanan harga. Kebijakan ini turut diperkuat oleh langkah pelonggaran embargo minyak Rusia oleh AS serta peningkatan kuota produksi oleh negara-negara OPEC.
Namun demikian, efektivitas kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika perang berkepanjangan dan blokade terhadap jalur distribusi energi terus terjadi, maka harga minyak berpotensi tetap tinggi. Apalagi, sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang kini berada dalam tekanan geopolitik.
Tak hanya itu, potensi perluasan konflik ke kawasan Laut Merah juga menjadi ancaman serius. Gangguan di jalur strategis seperti Bab el-Mandeb akan memaksa kapal tanker memutar jalur lebih jauh, meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi.
Laporan internasional menyebutkan, premi asuransi risiko perang dapat melonjak hingga jutaan dolar AS per kapal, yang pada akhirnya ikut mendorong kenaikan harga energi global.
Nikolaus Loy, Analis Kebijakan Energi, Jurusan Hubungan Internasional, UPN Veteran Yogyakarta, mengatakan, bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm serius.
Terlebih, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk 18–21 hari. Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap gangguan pasokan energi.
“Cepat atau lambat lonjakan harga minyak global akan ditanggung Indonesia, karena kita masih sangat bergantung pada impor,” ujar Nikolaus Loy.
Pemerintah memang telah melakukan diversifikasi impor minyak ke kawasan Afrika. Namun, langkah ini juga berpotensi memicu persaingan dengan negara-negara Asia lain yang mencari sumber alternatif akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Menurutnya, di tengah blokade Hormuz, negara-negara Asia akan berebut sumber minyak dari Afrika dan Amerika Latin. Ini berpotensi mendorong harga semakin tinggi.
“Kalau perang tidak berhenti, harga minyak akan terus melonjak. Demikian juga harga gas alam. Harga dua jenis energi ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Negara pengimpor minyak, seperti Indonesia adalah yang paling terkena dampaknya. Harga BBM mungkin harus dinaikkan di bulan mendatang,” ungkap dia.
Dalam situasi ini, pembangunan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) menjadi semakin mendesak. SPR merupakan cadangan minyak yang disimpan secara khusus untuk menghadapi kondisi darurat, baik krisis energi maupun ancaman terhadap keamanan nasional.
“Sudah saatnya Indonesia menimbun minyak dengan membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan minyak srategis. Minyak yang sengaja ditimbun untuk mengantisipasi krisis,” tegas Nikolaus.
