Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 September 2025, 20.28 WIB

ASEAN Genjot Transisi Bangunan Rendah Karbon, Indonesia jadi Sorotan

Wamen PU Diana Kusumastuti meninjau bencana tanah longsor dan banjir di Sukabumi. (Ilham Wancoko/JawaPos.com) - Image

Wamen PU Diana Kusumastuti meninjau bencana tanah longsor dan banjir di Sukabumi. (Ilham Wancoko/JawaPos.com)

JawaPos.com - Bangunan bukan hanya soal beton dan baja, sektor ini ternyata menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di Asia Tenggara. Di Indonesia saja, 33 persen emisi gas rumah kaca berasal dari sektor bangunan, terutama dari penggunaan pendingin ruangan. 

Fakta ini menempatkan kawasan ASEAN dalam posisi mendesak untuk mempercepat transisi menuju bangunan rendah karbon. Kesadaran itu ditegaskan dalam Refrigeration & HVAC Indonesia Expo 2025 yang digelar di Jakarta, 24–26 September.

Forum ini mempertemukan ratusan pemangku kepentingan dari pemerintah, industri pendingin udara, hingga lembaga pembiayaan. Mereka membahas bagaimana efisiensi energi dapat menjadi pintu masuk menuju lingkungan binaan yang lebih berkelanjutan di tingkat regional.

Upaya ini digerakkan melalui proyek Asia Low-Carbon Buildings Transition (ALCBT) yang dipimpin ASEAN Centre for Energy (ACE) bersama Global Green Growth Institute (GGGI) dan HEAT International, dengan dukungan International Climate Initiative (IKI). 

Melalui konsorsium ini, ASEAN berupaya memperkuat kebijakan, memperkenalkan teknologi pendinginan hemat energi, hingga mendorong kesadaran publik mengenai pentingnya bangunan hijau.

Direktur Eksekutif ACE, Razib Dawood, menekankan bahwa ASEAN tidak bisa menunda langkah. “Pengadaan hijau adalah cara efektif mempercepat transisi rendah karbon di kawasan. Dengan memberi teladan melalui kebijakan pengadaan, pemerintah dapat mengurangi emisi sekaligus memberi sinyal pasar agar produsen berinovasi,” ujarnya.

Indonesia sendiri disebut menjadi salah satu negara yang paling berkepentingan. Selain kontribusi besar sektor bangunan terhadap emisi nasional, kebutuhan pendinginan udara di iklim tropis membuat tantangan semakin kompleks.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti menegaskan pemerintah mendorong keterlibatan semua pihak, mulai dari pengembang hingga pemerintah daerah, dalam sertifikasi bangunan hijau. 

Sementara itu, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyoroti potensi efisiensi energi yang bisa menekan hingga 37 persen emisi nasional. "Efisiensi energi bukan hanya soal menekan emisi, tapi juga memberi manfaat langsung kepada masyarakat melalui penghematan biaya listrik," jelasnya.

Selain kebijakan pengadaan hijau, proyek ALCBT memperkenalkan Building Emissions Assessment Tool (BEAT) untuk menilai emisi sepanjang siklus hidup bangunan. Pelatihan penggunaan refrigeran alami juga digelar guna mengurangi dampak lingkungan dari pendingin udara.

Menurut Rowan Fraser, perwakilan GGGI untuk Indonesia, upaya ini akan memperkuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintah, mulai dari pemilihan teknologi terbaik hingga regulasi pendukung transisi energi di sektor bangunan.

Dengan komitmen kolektif ASEAN, transisi menuju bangunan rendah karbon diharapkan menjadi motor penggerak pencapaian target iklim regional sekaligus global. 

Indonesia, dengan tantangan dan potensinya, dipandang dapat menjadi contoh penting bagaimana sektor bangunan bisa diubah dari sumber emisi menjadi bagian solusi menuju Net Zero Emission.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore