Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Juli 2021 | 22.49 WIB

Percepatan Vaksinasi jadi Katalis Positif Bagi Kinerja Pasar Domestik

Sejumlah siswa mengikuti vaksinasi di SMAN 20 Jakarta, Kamis (01/07/2021). Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan edaran tentang pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12-17 tahun. Karena belum punya KTP, maka disyaratkan membawa kartu keluarga atau - Image

Sejumlah siswa mengikuti vaksinasi di SMAN 20 Jakarta, Kamis (01/07/2021). Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan edaran tentang pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12-17 tahun. Karena belum punya KTP, maka disyaratkan membawa kartu keluarga atau

JawaPos.com – Lonjakan kasus Covid-19 yang telah mencatatkan rekor baru akan memberikan dampak kepada perekonomian dan kepercayaan pasar di Indonesia. Meski demikian PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memprediksikan dampak lonjakan kasus Covid-19 tidak akan berefek sedalam lonjakan pertama saat awal pandemi.

Chief Economist Bahana TCW Budi Hikmat mengatakan, selain secara fundamental perekonomian Indonesia masih bagus, pelaku pasar juga telah banyak belajar dari kejadian lonjakan kasus Covid-19 sebelumnya. "Selain itu, percepatan vaksinasi terhadap masyarakat Indonesia yang saat ini sedang didorong pemerintah, dipersepsikan sebagai sentimen positif oleh pelaku pasar," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (2/7).

Menurutnya, rencana pemerintah dalam melakukan percepatan vaksinasi di Indonesia telah berada dalam jalur yang baik. Sebagai gambaran, hingga akhir Juni 2021, pemerintah telah berhasil mencapai 42 juta vaksinasi Covid-19. Diversifikasi vaksin dari berbagai produsen untuk mempercepat vaksinasi juga telah dilakukan.

Terbaru pemerintah telah mendatangkan 14 juta dosis baru vaksin Sinovac, yang akan dilanjutkan dengan kedatangan vaksin gratis Covax/GAVI, AstraZaneca dan Pfizer yang akan mulai masuk Agustus mendatang. Langkah diversifikasi vaksin ini dipandang akan mampu meredam lonjakan kasus akibat varian Delta (B.1.617.2) yang memiliki tingkat penyebaran lebih tinggi dibanding varian sebelumnya dan telah dilaporkan ada 160 kasus varian Delta di Indonesia.

Pemerintah telah menetapkan target vaksinasi yang akan dilakukan, dimana pada Juli ditargetkan 34 juta dosis, Agustus 43,7 juta dosis, kemudian September 53 juta dosis, Oktober 84 juta dosis, November 80,9 juta dosis dan Desember 71,7 juta dosis. Dengan didukung kecukupan pasokan vaksin, diperkirakan pada akhir tahun akan ada 181,5 juta orang yang telah divaksin.

Budi Hikmat menambahkan, kecukupan pasokan vaksin dari berbagai negara produsen dipercaya akan terjaga, karena negara-negara produsen utama vaksin telah mencapai vaksinasi yang tinggi. Sebut saja Amerika Serikat yang telah mencapai 54 persen, Inggris telah mencapai 65 persen, dan India sudah di 20 persen. Sehingga kedatangan vaksin dari berbagai negara-negara produsen utama vaksin hingga akhir tahun akan terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan dosis vaksin di Indonesia.

"Jika rencana kedatangan vaksin ini berjalan sesuai rencana, kami memperkirakan 70 persen masyarakat Indonesia akan mendapatkan vaksin (sesuai acuan WHO)," tuturnya.

Jika dirata-rata, ada 821 ribu dosis vaksin yang diberikan pemerintah hingga hari ini. Namun, dengan dukungan pasokan vaksin, pemerintah telah berkomitmen untuk meningkatkan pace vaksinasi hingga 1,2 juta dosis vaksin per hari, bahkan di Agustus 2021 pemerintah menargetkan 2 juta dosis vaksin per hari, ditambah kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta untuk melakukan vaksinasi menjadi angin segar bagi penanganan Covid-19. "Jika pace vaksinasi ini dapat terjaga, maka pada Maret 2022, Indonesia akan mencapai herd immunity," ungkapnya.

Selain itu, dia menambahkan, penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang akan berlaku pada 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 Bahana TCW memprediksi akan berdampak terbatas terhadap perekonomian dan pasar saham. Sektor jasa dan ritel akan menjadi sektor yang paling terdampak PPKM tersebut.

Namun dia melihat, investor telah banyak belajar dari pembatasan sosial sebelumnya dengan mempertimbangkan sektor lain yang akan membawa return yang baik selama PPKM seperti energi, teknologi, dan lain-lain. Investor akan lebih merespons PPKM ini dengan mengubah strategi investasi.

"Penurunan ekonomi dan kinerja pasar akibat lonjakan kasus yang tinggi akan dipersepsikan cukup positif oleh pelaku pasar. Gangguan di aktivitas ekonomi kemungkinan hanya akan terjadi selama dua bulan, selebih dari itu, kondisi akan membaik sejalan dengan vaksinasi yang terus meningkat. Sehingga dampaknya tidak akan signifikan terhadap prospek ekonomi Indonesia secara umum," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore