
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku belum tahu soal rencana pemberian diskon tarif listrik sebesar 50 persen untuk masyarakat pada periode Juni-Juli 2025. (Istimewa)
JawaPos.com - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan telah menghentikan sementara operasi tambang nikel milik PT GAG di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Tambang ini sebelumnya sempat viral karena dianggap merusak lingkungan di kawasan wisata tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Tim inspeksi Kementerian ESDM telah diturunkan untuk memastikan kepatuhan terhadap prosedur lingkungan.
"Untuk sementara, kami hentikan operasinya sampai dengan verifikasi lapangan. Kami akan cek," kata Bahlil kepada awak media di kantornya, Kamis (5/6).
Bahlil menyebut, PT GAG Nikel telah memulai tahap produksi sejak tahun 2017 dan merupakan satu-satunya perusahaan yang berproduksi di wilayah Raja Ampat saat ini.
Lokasi tambang nikel tersebut berada kurang lebih 30-40 km dari destinasi pariwisata Raja Ampat. Untuk diketahui, langkah ini diambil pemerintah usai massifnya penolakan kegiatan pertambangan nikel di Raja Ampat oleh aktivis lingkungan dan aliansi masyarakat sipil karena mengancam ekosistem lingkungan.
"Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menyeimbangkan perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap kearifan lokal, dan keberlanjutan agenda hilirisasi mineral," jelasnya.
Sementara itu, Bahlil mengklaim bahwa PT GAG Nikel yang merupakan salah satu badan usaha milik negara (BUMN), yakni anak perusahaan PT Antam Tbk, telah memiliki Analisisi Mengenai Dampak Lingkungan atau Amdal sebelum beroperasi.
"Sebelum beroperasi kan ada Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan). Amdal ini sudah ada,” pungkas Ketua Umum Partai Golkar ini.
Sebelumnya, gelombang penolakan tambang nikel di Raja Ampat, Papua terus membesar. Di media sosial hastag #SaveRajaAmpat dan #SavePapua terus disuarakan.
Dalam sejumlah foto dan video yang beredar, hutan di gugusan pulau Raja Ampat sudah mulai gundul akibat adanya tambang Nikel di sana. Sejumlah truk pengangkut pun terlihat beroperasi mengangkut bahan tambang.
Gelombang penolakan semakin membesar setelah sekelompok aktivis dari Greenpeace Indonesia bersama empat anak muda Papua dari Raja Ampat membentangkan banner besar bertuliskan "What’s the True Cost of Your Nickel?" di ruang konferensi Indonesia Critical Minerals Conference 2025.
Aksi itu dilakukan saat Wakil Menteri Luar Negeri, Arief Havas Oegroseno, sedang menyampaikan pidato. Selain itu, spanduk dengan pesan pedas seperti "Nickel Mines Destroy Lives" dan "Save Raja Ampat from Nickel Mining" juga dibentangkan.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
