JawaPos.com-Bukalapak mengumumkan bakal bertransformasi dan menutup layanan marketplace di awal tahun 2025. Gantinya, mereka akan fokus untuk meningkatkan penjualan pada produk virtual, seperti token listrik hingga pulsa.
"Kami ingin menginformasikan bahwa Bukalapak akan menjalani transformasi dalam upaya untuk meningkatkan fokus pada Produk Virtual. Sebagai bagian dari langkah strategis ini, kami akan menghentikan operasional penjualan Produk Fisik di Marketplace Bukalapak," bunyi pengumuman Bukalapak dalam laman resmi, dikutip JawaPos.com, Rabu (8/1).
Pihaknya menyadari bahwa akan ada para pelapak yang terdampak dari transformasi ini. Itu sebabnya, mereka berkomitmen untuk membuat proses transisi berjalan dengan sebaik mungkin.
Sehingga ditetapkan pada 9 Februari 2025 pukul 23.59 WIB akan menjadi tanggal terakhir pembeli dapat membuat pesanan untuk produk berupa barang.
Lantas, bagaimana perjalanan Bukalapak di tanah air sebelum akhirnya memutuskan hanya akan menjual produk virtual, seperti token listrik hingga pulsa?
Berdasarkan catatan JawaPos.com, Bukalapak merupakan startup unicorn yang pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Unicorn merupakan istilah populer di dunia bisnis startup yang menunjukkan bahwa perusahaan itu memiliki nilai valuasi lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 16 triliun.
Pada saat melantai di bursa tanggal 6 Agustus 20221, Bukalapak berhasil mengumpulkan dana segar Initial Public Offering (IPO) mencapai Rp 21 triliun. Nilai itu bahkan tercatat menjadi jumlah dana IPO terbesar yang pernah ada di pasar modal Indonesia.
Mulanya, Bukalapak berencana akan menggunakan dana tersebut untuk memperkuat bisnis dengan melakukan ekspansi dan mengembangkan berbagai inovasi baru.
Namun kemudian, rupanya dana IPO itu tidak dimanfaatkan secara maksimal. Pasalnya, dari Rp 21 triliun, Bukalapak hanya menggunakan dana IPO sebesar Rp 11,49 triliun dan masih menyimpan dana sebesar Rp 9,82 triliun.
Diketahui, sisa dana IPO Bukalapak justru tercatat pada berbagai instrumen keuangan, seperti deposito, giro dan obligasi. Selama 11 tahun hadir, Bukalapak memang telah melebarkan sayap bisnis tak hanya berhenti sebagai marketplace.
Bukalapak mengklaim sebagai platform digital yang melayani kebutuhan B2B, O2O, marketplace, finance hingga logistik. Melalui layanan finance, Bukalapak memiliki bmoney bahkan bisa melayani pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan produk investasi yang diterbitkan oleh pemerintah untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di sisi lain, seiring dengan penutupan layanan marketplace saham Bukalapak (BUKA) kini makin anjlok menjadi Rp 117. Angka ini tercatat turun 4,10 persen atau 5 poin dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.
Padahal, saham BUKA sempat diperdagangankan dengan harga tinggi mencapai Rp 1.060 pada saat IPO dilakukan pada 5 Agustus 2021. (*)