
Puluhan warga di Jl Mayor Bismo mengosongkan rumah dan pekarangannya yang terdampak Tol Kediri-Tulungagung./Wahyu Adji/JPRK/Radar Kediri
JawaPos.com - Berbeda dengan 13 warga yang telah bersedia menerima ganti rugi, puluhan kepala keluarga (KK) di Kelurahan Gayam lainnya yang terdampak tol Kediri-Tulungagung justru masih berjuang mendapatkan harga yang lebih layak.
Puluhan warga Gayam pemilik bidang tanah tersebut diketahui menolak hasil appraisal atau hasil penaksiran harga yang telah ditetapkan dalam musyawarah yakni Rp 1,3 juta per meter untuk lahan sawah dan Rp 2,2 juta per meter untuk lahan pekarangan dan rumah.
Para warga itu memasang banner penolakan di gang masuk ke RW 1 yang dilengkapi dengan tanda tangan warga terdampak.
Tak hanya itu, mereka juga berencana melayangkan protes melalui surat resmi yang akan ditujukan ke beberapa pihak.
Salah satu warga terdampak yang menolak appraisal, Nur Kholis mengatakan, sedikitnya ada 35 warga di lingkungan RW 1 Kelurahan Gayam yang ikut menandatangani kesepakatan menolak harga appraisal itu.
“Kami akan mengirim surat (berisi penolakan harga hasil appraisal, Red). Belum kami kirim karena masih hari-hari libur,” ujar Nur Kholis, seperti yang dikutip Radar Kediri (JawaPos Grup).
Menurutnya, surat penolakan tersebut akan dikirim kepada beberapa pihak, diantaranya Penjabat (Pj) Wali Kota Zanariah yang ditembuskan kepada lurah dan camat.
Kemudian, surat juga akan ditujukan kepada Ketua DPRD Kota Kediri Gus Sunoto Imam Mahmudi, serta Kepala BPN Kota Kediri Jany Danny Assa dengan tembusan tim KJPP dan pemrakarsa.
“Tentunya kami minta untuk ditinjau kembali hasil penaksiran harga dari tim appraisal. Tanah kami disamakan dengan tanah di wilayah Tiron atau Manyaran yang merupakan wilayah Kabupaten Kediri,” imbuh Nur Kholis.
Terdapat beberapa alasan warga tersebut menolak nilai appraisal, diantaranya mempertimbangkan sumber daya alam yang besar di kawasan Gayam dan juga karena lokasinya yang dianggap strategis.
Belum lagi para warga harus mencari lahan baru, bahkan tak sedikit yang berencana membangun rumah kembali dari nol.
Karena itulah harga tanah seharusnya bisa lebih tinggi dari yang ditawarkan.
“Kami khawatir. Karena masih harus mencari lahan baru. Belum lagi membangun rumah dari awal. Kalau untuk kepentingan umum, kami siap. Tapi tolong dihargai,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pengadaan Tanah (TPT) Jalan Tol Kediri-Tulungagung Linanda Krisni Susanti menuturkan bahwa warga yang menolak hasil appraisal tetap akan difasilitasi dengan tetap melalui mekanisme yang berlaku.
“Kami prinsipnya tetap menghormati. Kalau ada yang keberatan silahkan menempuh jalur atau mekanisme yang ada. Silakan mengajukan gugatan keberatan atau permohonan keberatan ke pengadilan negeri setempat,” paparnya.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
