Sejumlah sopir ojek online mengantri sembako di bulan Ramadhan, Sabtu (14/3/2026). (Istimewa)
JawaPos.com - Pada masa perjuangan meraih kemerdekaan dari penjajah, Indonesia adalah negara yang cair dan memiliki kesamaan semangat. Tak cuma orang dewasa, para pelajar belasan tahun juga sudah terlibat dalam perjuangan itu. Para pelajar ini disatukan dalam wadah bernama Tentara Pelajar.
Saat ini yang tersisa lagi para veteran Tentara Pelajar tersebut hanya dalam hitungan jari. Para generasi penerusnya yang tergabung dalam Paguyuban Ex TNI Brigade 17 Detasemen 1/TRIP Jawa Timur telah memiliki wajah baru yang kini bernama Paguyuban Mas TRIP.
Paguyuban Mas TRIP merupakan organisasi yang menghimpun keluarga dan keturunan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Mereka terus berupaya menjaga nilai-nilai perjuangan para pelajar yang terlibat dalam perang kemerdekaan Indonesia.
Ketua Umum Paguyuban Mas TRIP Destry Damayanti menuturkan bahwa keberadaan paguyuban tidak hanya bertujuan merawat sejarah perjuangan para Tentara Pelajar, tetapi juga menghadirkan aksi nyata di tengah masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah bakti sosial berupa pembagian lebih dari 500 paket sembako kepada pekerja informal seperti pengemudi ojek online, sopir taksi, dan petugas keamanan di kawasan Cilandak, Jakarta, pada Maret 2026.
“Kami ingin merawat memori kolektif para pejuang tidak hanya melalui narasi sejarah, tetapi juga melalui kegiatan yang menyentuh masyarakat,” ujar Destry dalam keterangan tertulisnya.
Kegiatan sosial tersebut juga melibatkan generasi muda dari keluarga TRIP, termasuk anggota Generasi Z yang merupakan anak dan cucu dari para pejuang. Keterlibatan mereka diharapkan dapat meneruskan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh para Tentara Pelajar.
Selain kegiatan sosial, lanjut Destry, pihaknya juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap usaha mikro dan kecil (UMKM) di beberapa daerah, termasuk Malang dan Surabaya. Menurut Destry, langkah ini sejalan dengan prinsip organisasi yang menekankan nilai mandiri, peduli, dan berkarya.
Destry menilai semangat perjuangan di era sekarang tidak lagi diwujudkan melalui pertempuran fisik, melainkan melalui kontribusi di berbagai bidang, termasuk pemanfaatan teknologi dan penguatan solidaritas sosial.
“Semangat berbakti kepada negara tidak harus melalui angkat senjata. Saat ini tantangannya berbeda, termasuk bagaimana memanfaatkan teknologi dan menjaga kepedulian sosial,” ujarnya.
Secara historis, TRIP merupakan pasukan yang beranggotakan pelajar berusia sekitar 12 hingga 20 tahun yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1949, khususnya di wilayah Jawa Timur. Organisasi ini bermula dari Barisan Keamanan Rakyat Pelajar (BKR-P) yang dibentuk pada 22 Agustus 1945 di Surabaya.
Dalam berbagai pertempuran, termasuk di Surabaya, para pelajar tersebut dikenal berani menghadapi pasukan kolonial. Dalam salah satu pertempuran, lima pelajar dilaporkan gugur, yaitu Soetojo, Samsoedin, Soewondo, Soewardjo, dan satu orang lainnya yang belum teridentifikasi.
Pada 1946 organisasi ini resmi bernama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dengan markas di Malang dan Mojokerto. Setelah perang kemerdekaan berakhir, pasukan TRIP Jawa Timur dibubarkan pada 1950 dan para anggotanya kembali ke kehidupan sipil maupun melanjutkan pendidikan.
Saat ini, nilai-nilai perjuangan tersebut berupaya dilanjutkan oleh para generasi penerus melalui Paguyuban Mas TRIP, yang berfokus pada kegiatan sosial, pelestarian sejarah, serta penguatan solidaritas masyarakat.

