
UNTUK PEMASARAN: Terdapat galeri khusus yang digunakan untuk memasarkan hasil produksi masyarakat setempat. (AJI PERDANA PUTRA/JAWA POS RADAR MAGETAN)
Nama Desa Sidomukti kini makin populer. Desa yang berada di wilayah Kecamatan Plaosan itu menjadi salah satu penyangga industri kreatif yang tengah tumbuh di Bumi Ki Mageti. Kini, desa itu mendapat label sebagai kampung batik.
Sejak tahun 1970-an, mayoritas penduduk desa menggantungkan hidupnya dari membatik. Potensi itu mulai digarap secara serius oleh BUMDes setempat sejak 2018. Para kelompok perajin batik diajak berkolaborasi, mulai dari pengembangan produksi, pemasaran, hingga promosi.
”Seluruh produksi batik yang dikelola BUMDes dilakukan oleh warga setempat. Di sini (Sidomukti) ada tiga kelompok pembatik besar,” kata Hendrik Komarudin, Ketua BUMDes Sidomukti.
BERKELOMPOK: Terdapat beberapa kelompok perajin batik tradisional. Kelompok-kelompok ini dikoordinasi oleh BUMDes setempat untuk meningkatkan produktivitas. (AJI PERDANA PUTRA/JAWA POS RADAR MAGETAN)
Upaya pelestarian batik Sidomukti sempat mengalami periode pasang surut, mengingat proses produksi sebagian besar perajin hanya sampai di fase penyantingan. Sedangkan finishing-nya dikerjakan di luar desa.
Masalah-masalah itu lantas diselesaikan dengan menggerakkan masyarakat untuk membentuk kelompok perajin batik. ”Kini, Sidomukti menjadi destinasi yang biasa dikunjungi para wisatawan. Tidak hanya sekadar memburu batik khas asli Magetan, tapi juga bisa belajar membatik secara langsung,” terangnya.
Batik Sidomukti mempunyai ciri khas, seperti motifnya yang erat dengan gambar bambu atau pring sedapur. Selain itu, kini muncul berbagai bentuk motif batik Sidomukti, seperti matahari, kipas potong, kipas padi, kasuari, dan rembulan. ”Kami buatkan galeri batik untuk (display) pemasarannya. Ini (keberadaan BUMDes) sekaligus dapat membantu pendapatan asli desa,” ujarnya.
TURUN TEMURUN: Sebagian masyarakat desa telah lama menggeluti dunia membatik, menjadikannya salah satu sektor mata pencaharian utama mereka. (AJI PERDANA PUTRA/JAWA POS RADAR MAGETAN)
Mariati, salah seorang perajin batik yang tergabung dalam kelompok Mukti Rahayu, mengaku awalnya hanya ada tujuh orang pembatik di Dusun Papringan yang eksis. Seiring berjalannya waktu, kini sudah mencapai belasan orang. ”Mereka yang menjadi pembatik didominasi para ibu rumah tangga. Ini (kerajinan batik) dapat membantu perekonomian keluarga,” ungkapnya. (ril/her/ris)
