
Konferensi pers kasus kematian Raden Bhagas Priyo yang diduga menjadi korban malpraktik di sebuah rumah sakit swasta di Sidoarjo. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kematian Raden Bhagas Priyo, 28, warga Desa Sepande, Candi, Sidoarjo, setelah menjalani operasi amandel di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo, masih meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.
Ibu korban, Anju Vijayanti, 49 tahun, menilai ada banyak kejanggalan sejak awal hingga anaknya dinyatakan wafat di meja operasi pada 21 September 2024. Ia menduga ada unsur kelalaian rumah sakit atau malapraktik.
Sebab sebelum operasi, pihak rumah sakit justru memberikan dan meminta Bhagas makan, tanpa memberikan edukasi soal puasa pra-operasi. Selain itu, tidak ada surat persetujuan operasi yang ditandatangani keluarga.
"Dan saya tidak dimintai tanda tangan persetujuan untuk operasi (anak saya). Sampai sekarang, pihak keluarga tidak pernah diberikan resume, hanya dikasih ringkasan pasien pulang," ujar Anju di Surabaya, Rabu (30/7).
Pihak rumah sakit berdalih bahwa Bhagas meninggal dunia akibat tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Dokter juga menyebut ada flek hitam di paru-paru korban yang diduga akibat kebiasaan merokok.
"Tapi anak saya tidak pernah merokok. Hal yang sangat menyakitkan selain kehilangan (anak saya) adalah ketika kematiannya dianggap sebagai takdir, bukan tanggung jawab," imbuh Anju dengan nada lirih, menahan tangis.
Atas hal ini, keluarga Bhagas melaporkan rumah sakit tersebut atas dugaan malapraktik ke Polresta Sidoarjo, tercatat dalam LP-B/532/X/2024/SPKT/POLRESTA SIDOARJO/POLDA JATIM pada tanggal 02 Oktober 2024.
Hampir Setahun Berlalu, Keluarga Bhagas Masih Menanti Keadilan
Kuasa hukum keluarga korban, Muhammad Nailul Amani menyebut proses penyelidikan perkara ini di Polresta Sidoarjo jalan di tempat. Tidak ada kemajuan.
Nailul menyebut sejak laporan tertanggal 2 Oktober 2024, perkembangannya minim. Padahal SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) terakhir Juni 2025, tetapi statusnya tetap penyelidikan.
“Bayangkan dari Oktober sampai Juni, kasus ini masih mandek,” ucap Nailul sambil menunjukkan dokumen. Ia bingung mengapa polisi belum menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus dugaan malapraktik ini.
"Saya kurang tahu ya kenapa Polresta Sidoarjo sampai sekarang jalan di tempat. Apakah memang polisi kurang serius dalam menangani perkara ini, atau memang Polresta masih mencari bukti-bukti yang sulit," imbuhnya.
Pihak penyidik berdalih masih memerlukan bukti yang lebih kuat dalam kasus dugaan malpraktik di rumah sakit swasta Sidoarjo. Namun, mereka tak melibatkan keluarga korban dalam proses penyelidikan.
"Seharusnya silakan hubungi kami selaku tim kuasa hukum dari keluarga korban. Kami akan membantu memberikan bukti. Ini kan masalah nyawa seseorang ya, sudah satu tahun lamanya (keluarga Bhagas) berjuang untuk keadilan," tukas Nailul. (*)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
