Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Januari 2025, 07.26 WIB

Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis Memicu Kontroversi, Ahli Gizi Ingatkan Kebutuhan Tubuh Anak

Potret para pelajar yang turut merasakan program Makan Bergizi Gratis yang sudah mulai dilaksanakan oleh pemerintah. (Humas Kemenko Polkam) - Image

Potret para pelajar yang turut merasakan program Makan Bergizi Gratis yang sudah mulai dilaksanakan oleh pemerintah. (Humas Kemenko Polkam)

 
JawaPos.com - Unggahan bagaimana pelaksanaan Makan Bergizi Gratis masih memenuhi lini masa media sosial. Mulai dari unboxing menu di beberapa daerah hingga tanggapan lucu dari siswa.
 
Sayangnya, alih-alih mengatasi permasalahan gizi buruk, seperti yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto, menu Makan Bergizi Gratis yang tidak variatif, membuat masyarakat mempertahankan kandungan gizi dan nutrisinya.
 
Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair) Lailatul menyayangkan ketidakhadiran susu di menu Makan Bergizi Gratis. Padahal, susu adalah sumber kalsium, protein, vitamin D, vitamin A, Zat besi, hingga magnesium.
 
Ia juga menilai menu Makan Bergizi Gratis di beberapa daerah masih belum sesuai dengan pedoman "Isi Piringku Sekali Makan" yang digagas oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
 
“Kemarin saya dapat kiriman contoh menu MBG di Sidoarjo. Tidak ada sayuran, lauk meski dengan protein hewani pun, secara kuantitas terlalu sedikit, begitupun buahnya," ujar Lailatul, Kamis (9/1).
 
 
Secara kualitas, kandungan gizi dalam menu Makan Bergizi Gratis belum memenuhi 40 persen total kalori sehari. Lailatul menegaskan prinsip makan bergizi adalah beragam, seimbang, aman, dan sesuai kebutuhan. 
 
“Makan bergizi yang baik seharusnya memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang. Baik karbohidrat, protein, lemak, dan terpenuhinya kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan air,” imbuhnya. 
 
Kendati demikian, Lailatul mengatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis memiliki tujuan besar yang bagus. Hanya saja dalam pelaksanaannya, program ini masih perlu evaluasi dan perbaikan secara berkala.
 
"Karena faktanya, pelaksanaan di lapangan tentu jauh lebih sulit. Evaluasi keberhasilan program MBG dapat dilakukan dengan meliputi aspek input dan proses, output, dampak, hingga evaluasi keberlanjutan," ujar Lailatul.
 
Pada aspek yang pertama, perlu adanya evaluasi ketersediaan dan kualitas makanan, serta kepuasaan dari penerima program MBG. Mulai dari jumlah siswa yang mendapatkan makanan apakah sudah sesuai dengan sasaran.
 
Kandungan gizi pada menu apakah sudah sesuai dengan pedoman Isi Piringku. Bagaimana tingkat penerimaan siswa terhadap rasa dan variasi makanan, kemudian kepuasaan guru, siswa terkait distribusi Makan Bergizi Gratis.
 
"Output dari program juga harus menjadi perhatian. Mulai dari persentase makanan yang dimakan dan dibuang oleh siswa, serta jumlah siswa yang memakan semua komponen makanan yang ada di piring," tuturnya.
 
Terakhir dari aspek dampak, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat itu merangkum setidaknya ada tiga indikator yang perlu dievaluasi. Yakni status gizi pada anak, prestasi akademik dan kesehatan, dan kesadaran gizi. (*)
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore