Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Januari 2025, 04.33 WIB

Wacana Libur Sekolah Satu Bulan Saat Ramadan: Perlunya Menjaga Keseimbangan antara Ibadah dan Pembelajaran

Ilustrasi kegiatan belajar di sekolah. Humas Pemkot Surabaya - Image

Ilustrasi kegiatan belajar di sekolah. Humas Pemkot Surabaya

 
JawaPos.com - Wacana mengenai libur sekolah satu bulan penuh selama Ramadan menjadi isu yang menarik perhatian publik. Banyak yang beranggapan bahwa libur panjang ini bisa memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih fokus beribadah dan menjalani bulan suci dengan khusyuk. Namun, bagi pengamat pendidikan Isa Ansori, wacana tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas pendidikan, terutama terkait dengan pengaruhnya terhadap proses pembelajaran siswa.
 
Isa Ansori menegaskan bahwa meskipun bulan Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa untuk beribadah, belajar dan ibadah tidak bisa dipisahkan. "Belajar dan ibadah itu dua hal yang saling mengisi. Tidak bisa dengan alasan ibadah khusyuk, kemudian belajar diliburkan," ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (4/1). Menurutnya, baik ibadah maupun pendidikan adalah dua hal yang penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan anak.
 
Isa menambahkan bahwa meskipun ada banyak orang tua yang ingin mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah, tidak semua orang tua memiliki kemampuan dan waktu untuk melakukan hal tersebut. "Banyak orang tua yang bekerja, dan tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah. Jadi, jika sekolah diliburkan, siapa yang akan mengontrol dan mendampingi mereka?" tanya Isa.
 
Isa mengusulkan solusi yang lebih bijaksana jika libur satu bulan diterapkan. "Sekolah bisa mengatur ulang jadwal belajar. Durasi waktu belajar bisa dikurangi, tetapi fokusnya bisa lebih kepada pembelajaran karakter, moral, dan ketakwaan, bukan hanya akademik," katanya. Dengan pendekatan ini, siswa tetap bisa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat, meskipun tidak dalam bentuk pelajaran akademis seperti biasa.
 
 
Sebagai alternatif, Isa Ansori menyarankan sekolah untuk mengadakan program-program seperti pesantren kilat atau pondok Ramadan. Program-program ini dapat memberikan pengalaman pendidikan yang lebih santai, namun tetap bermanfaat dan sesuai dengan semangat bulan Ramadan. "Pesantren kilat atau pondok Ramadan bisa menjadi solusi agar anak-anak tetap mendapatkan pembelajaran yang bermanfaat tanpa mengabaikan hak mereka untuk beribadah," jelas Isa.
 
Isa juga menekankan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengejar nilai akademis, tetapi juga untuk membentuk karakter siswa. "Pendidikan adalah tentang mengembangkan anak-anak menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak baik, dan bertakwa. Ini harus terus dijaga meskipun dalam bulan Ramadan," kata Isa.
 
Terakhir, Isa menegaskan bahwa peran sekolah sangat penting untuk mendampingi anak-anak dalam proses belajar, terutama ketika orang tua tidak bisa sepenuhnya terlibat. "Sekolah harus menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak, bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga untuk menjaga mereka dari pengaruh negatif di luar. Jika sekolah diliburkan, anak-anak akan kehilangan kesempatan tersebut," pungkas Isa.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore