Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Mei 2026 | 20.24 WIB

Analisis: Teknologi Sepatu Lari di Balik Pecahnya Rekor Marathon Sub-2 Jam Pertama di Dunia, Sabastian Sawe Ukir Sejarah Baru

Sabastian Sawe menujukkan sepatunya usai finis di London Marathon. (Dok. Wired) - Image

Sabastian Sawe menujukkan sepatunya usai finis di London Marathon. (Dok. Wired)

JawaPos.com – Dunia atletik resmi memasuki babak baru. Dalam ajang London Marathon, pelari Kenya Sabastian Sawe mencatat sejarah dengan finis dalam waktu 1 jam 59 menit 30 detik, menjadikannya manusia pertama yang menembus batas dua jam dalam marathon resmi. Catatan itu bukan sekadar memecahkan rekor dunia milik Kelvin Kiptum, tetapi menghancurkannya dengan selisih lebih dari satu menit, margin yang luar biasa besar untuk level elite.

Yang membuat pencapaian ini makin monumental, dua nama lain juga mencatat performa fenomenal di hari yang sama.

Pelari Ethiopia Yomif Kejelcha finis kedua dengan waktu 1 jam 59 menit 41 detik, sementara Tigst Assefa kembali mempertajam rekor dunia marathon putri menjadi 2 jam 15 menit 41 detik. Ketiganya memiliki satu kesamaan: sama-sama menggunakan Adidas Adizero Adios Pro Evo 3, sepatu balap generasi terbaru yang kini menjadi pusat perhatian dunia atletik.

Dalam laporan The Athletic, wartawan olahraga Liam Tharme menyoroti bahwa Adidas Pro Evo 3 bukan sekadar pembaruan dari generasi sebelumnya, melainkan sebuah lompatan teknologi yang secara nyata mengubah cara sepatu marathon bekerja.

Angus Wardlaw, mantan engineer Adidas yang pernah terlibat dalam pengembangan teknologi midsole modern, menjelaskan alasan kenapa sepatu ini menjadi yang tercepat di dunia. "Adalah karena bobotnya kurang dari 100 gram, memiliki kemampuan pengembalian energi yang sangat tinggi, sangat lembut, sehingga menghasilkan kompresi vertikal saat kaki mendarat,” beber Wardlaw dikutip Liam yang merupakan lulusan Chichester University jurusan performa olahraga. 

Pernyataan itu menjelaskan inti revolusi yang dibawa Adidas. Jika selama ini persaingan sepatu lari elite banyak bertumpu pada penggunaan pelat karbon, Adidas justru menggeser fokus pada optimalisasi foam atau busa midsole sebagai sumber utama efisiensi energi.

Formula foam terbaru mereka dibuat jauh lebih ringan dibanding generasi sebelumnya, tetapi tetap mampu menyimpan energi ketika kaki menghantam permukaan, lalu mengembalikannya sebagai dorongan saat pelari melangkah. Efeknya serupa pegas: semakin efisien energi disimpan, semakin besar tenaga yang bisa dikembalikan ke tubuh pelari.

Angus juga menjelaskan lebih detail terobosan desain Adidas itu. “Bagian midsole-nya lebih lembut dibanding apa pun yang ada saat ini dan tidak ada pelat tepat di bawah titik beban kaki. Jadi menurut saya sepatu ini bisa terkompresi jauh lebih besar, dan karena pengembalian energinya tinggi, pelari mendapatkan lebih banyak tenaga kembali. Inilah terobosannya,” ungkapnya.

Di sinilah Adidas mengambil jalur berbeda. Pada Pro Evo 3, elemen karbon tidak lagi ditempatkan sebagai struktur utama tepat di bawah telapak kaki seperti pada banyak sepatu super lainnya.

Brand yang dikenal dengan logo tiga garis ini mengubahnya menjadi bingkai karbon di bagian perimeter sepatu, sehingga ruang di bawah telapak kaki bisa diisi lebih banyak foam responsif. Hasilnya, kompresi vertikal menjadi lebih dalam, pijakan terasa lebih hidup, dan dorongan saat toe-off, fase kaki meninggalkan tanah, menjadi jauh lebih eksplosif.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore