
DI AMBANG DEGRADASI: Pemain Kalteng Putra ketika berhadapan dengan pemain Persipura Jayapura. Di laga tersebut Persipura Jayapura keluar sebagai pemenang. (Kalteng Putra)
JawaPos.com – Dekatnya pertandingan Kalteng Putra melawan Persekat Tegal dalam babak play-off degradasi Liga 2 menjadi panggung dramatis yang tak hanya menentukan kelangsungan hidup tim di divisi tersebut, tetapi juga mengungkap sejumlah kontroversi terkait penunggakan gaji pemain.
Pelatih Kalteng Putra, Eko Tamamie, dengan nada penuh kekecewaan mengungkapkan bahwa tak satu pun pemain yang bersedia bertanding menghadapi Persekat Tegal. Meskipun masih ada tiga pemain asing dan naturalisasi yang berkeinginan tampil, keterbatasan pemain dalam satu tim menjadi hambatan tak teratasi.
"Kita tidak bisa bertanding karena hanya memiliki 3 sampai 4 orang pemain yang siap main melawan Persekat Tegal," ungkap Pelatih Kalteng Putra.
Pemain yang masih memiliki semangat untuk bermain terungkap adalah Guy Junior, Willian Correia, dan Haru Nakagaki. Namun, Miftah Sani, pemain lain yang juga ingin berkontribusi, menghadapi kendala serius akibat keterlambatan pembayaran gaji.
Klasemen Grup D Play-off Degradasi
PSCS Cilacap (9)
Persipura Jayapura (8)
Persekat Tegal (6)*
Kalteng Putra (4)*
*) peringkat 3 dan 4 akan langsung terdegradasi ke Liga 3
Terkait permasalahan ini, Federasi Pesepak Bola Profesional (FIFPRO) dari Belanda mengambil posisi dengan memberikan dukungan penuh kepada 29 pesepak bola Kalteng Putra yang tengah berjuang dengan tunggakan gaji. Mereka meminta intervensi segera dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menyelesaikan permasalahan ini dan mengakhiri tindakan tidak profesional yang dilakukan oleh manajemen klub.
Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) turut angkat bicara, menyampaikan bahwa para pemain menolak bertanding di babak kelima play-off Liga 2 karena belum menerima gaji yang seharusnya. Usaha para pemain untuk menyelesaikan masalah ini sebelumnya tidak mendapat respon serius dari pemilik dan manajemen klub.
Sebelumnya, para pemain awalnya menolak bertanding di babak keempat play-off Liga 2, namun manajemen berjanji akan segera membayar tunggakan gaji, yang pada akhirnya tidak terlaksana. Setelah mengumumkan penolakan untuk bertanding di babak kelima, klub mengajukan pemain untuk pergi dengan alasan keselamatan, tetapi situasi semakin rumit ketika manajemen mengajukan tuntutan pidana terhadap pemain yang mengungkap masalah ini di media sosial.
APPI mengecam tindakan manajemen Kalteng Putra yang tidak hanya tidak membayar gaji pemain, tetapi juga melakukan intimidasi melalui tuntutan pidana. Mereka mendukung pemain yang hanya meminta penghargaan terhadap hak dasar mereka sebagai pesepak bola.
Kasus serupa pernah terjadi di Indonesia, dan FIFA sebelumnya memberikan sanksi atas tindakan intimidasi semacam itu. Semakin mendalamnya permasalahan ini menggambarkan betapa urgennya intervensi PSSI untuk menyelesaikan konflik internal ini sebelum menciptakan dampak yang lebih negatif, baik untuk Kalteng Putra maupun citra sepak bola Indonesia secara keseluruhan.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
