Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Februari 2024 | 20.30 WIB

Kisah Kelam Kalteng Putra, Tuntutan Gaji dan Sorotan FIFPRO di Ambang Degradasi Liga 2

DI AMBANG DEGRADASI: Pemain Kalteng Putra ketika berhadapan dengan pemain Persipura Jayapura. Di laga tersebut Persipura Jayapura keluar sebagai pemenang. (Kalteng Putra) - Image

DI AMBANG DEGRADASI: Pemain Kalteng Putra ketika berhadapan dengan pemain Persipura Jayapura. Di laga tersebut Persipura Jayapura keluar sebagai pemenang. (Kalteng Putra)

JawaPos.com – Dekatnya pertandingan Kalteng Putra melawan Persekat Tegal dalam babak play-off degradasi Liga 2 menjadi panggung dramatis yang tak hanya menentukan kelangsungan hidup tim di divisi tersebut, tetapi juga mengungkap sejumlah kontroversi terkait penunggakan gaji pemain.

Pelatih Kalteng Putra, Eko Tamamie, dengan nada penuh kekecewaan mengungkapkan bahwa tak satu pun pemain yang bersedia bertanding menghadapi Persekat Tegal. Meskipun masih ada tiga pemain asing dan naturalisasi yang berkeinginan tampil, keterbatasan pemain dalam satu tim menjadi hambatan tak teratasi.

"Kita tidak bisa bertanding karena hanya memiliki 3 sampai 4 orang pemain yang siap main melawan Persekat Tegal," ungkap Pelatih Kalteng Putra.

Pemain yang masih memiliki semangat untuk bermain terungkap adalah Guy Junior, Willian Correia, dan Haru Nakagaki. Namun, Miftah Sani, pemain lain yang juga ingin berkontribusi, menghadapi kendala serius akibat keterlambatan pembayaran gaji.

Klasemen Grup D Play-off Degradasi

PSCS Cilacap (9)

Persipura Jayapura (8)

*) peringkat 3 dan 4 akan langsung terdegradasi ke Liga 3

Terkait permasalahan ini, Federasi Pesepak Bola Profesional (FIFPRO) dari Belanda mengambil posisi dengan memberikan dukungan penuh kepada 29 pesepak bola Kalteng Putra yang tengah berjuang dengan tunggakan gaji. Mereka meminta intervensi segera dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menyelesaikan permasalahan ini dan mengakhiri tindakan tidak profesional yang dilakukan oleh manajemen klub.

Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) turut angkat bicara, menyampaikan bahwa para pemain menolak bertanding di babak kelima play-off Liga 2 karena belum menerima gaji yang seharusnya. Usaha para pemain untuk menyelesaikan masalah ini sebelumnya tidak mendapat respon serius dari pemilik dan manajemen klub.

Sebelumnya, para pemain awalnya menolak bertanding di babak keempat play-off Liga 2, namun manajemen berjanji akan segera membayar tunggakan gaji, yang pada akhirnya tidak terlaksana. Setelah mengumumkan penolakan untuk bertanding di babak kelima, klub mengajukan pemain untuk pergi dengan alasan keselamatan, tetapi situasi semakin rumit ketika manajemen mengajukan tuntutan pidana terhadap pemain yang mengungkap masalah ini di media sosial.

APPI mengecam tindakan manajemen Kalteng Putra yang tidak hanya tidak membayar gaji pemain, tetapi juga melakukan intimidasi melalui tuntutan pidana. Mereka mendukung pemain yang hanya meminta penghargaan terhadap hak dasar mereka sebagai pesepak bola.

Kasus serupa pernah terjadi di Indonesia, dan FIFA sebelumnya memberikan sanksi atas tindakan intimidasi semacam itu. Semakin mendalamnya permasalahan ini menggambarkan betapa urgennya intervensi PSSI untuk menyelesaikan konflik internal ini sebelum menciptakan dampak yang lebih negatif, baik untuk Kalteng Putra maupun citra sepak bola Indonesia secara keseluruhan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore