
Ilustrasi Cawapres Ma
Para calon wakil presiden yang akan berlaga di Pilpres 2019 memang sudah gamblang. Namun, pertimbangan untuk memilih Sandiaga Uno di kubu Prabowo Subianto dan Ma’ruf Amin di sisi Joko Widodo tetap relevan dibahas.
--
DALAM sistem demokrasi langsung, kekuasaan yang ada di tangan rakyat harus diperebutkan para capres dan cawapres. Suara rakyatlah yang memberi legitimasi jabatan presiden maupun wakil presiden.
Demokrasi bak pasar politik yang merebutkan ”dagangan” suara rakyat. Di tengah kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk berdemokrasi, untuk merebut suara rakyat, diperlukan modal buat melakukan hegemoni.
Antonio Gramsci mengatakan, untuk melakukan hegemoni agar rakyat memberikan dukungan, diperlukan modal intelektual, sosial, maupun ekonomi. Modal ekonomi sangat dibutuhkan karena pilpres memerlukan biaya politik yang besar. Terutama untuk biaya kampanye dan membayar saksi-saksi.
Modal ekonomi itu juga perlu untuk ”membeli” suara rakyat. Terutama menghadapi para pemilih yang memiliki orientasi pragmatis. Di sisi lain, para pemilih tradisional membutuhkan modal sosial yang berupa sosok panutan.
Jumlah pemilih tradisional itu cukup tinggi. Terutama dari kalangan santri. Sedangkan modal intelektual dibutuhkan untuk membangun strategi kampanye yang bisa menghegemoni masyarakat.
Dari alotnya penentuan capres, tampak ada kesulitan dalam memilih modal yang akan dipakai untuk bertarung. Modal intelektual mungkin tidak terlampau jadi masalah bagi kedua kubu. Sebab, jumlah pemilih yang rasional dianggap tidak terlalu banyak.
Meraih dukungan dari pemilih rasional akan diatasi kalangan partai pendukung. Sebab, tiap kubu punya kelompok intelektual dari partai pendukung. Persoalan yang sulit tampaknya justru ada pada modal ekonomi dan sosial.
Padahal, dua hal itu justru sangat dibutuhkan dalam pemilihan presiden. Sebagian besar rakyat Indonesia beragama Islam. Juga, sebagian besar di antaranya berasal dari kalangan tradisional.
Karena itu, modal sosial amat dibutuhkan untuk menghegemoni mereka. Modal ekonomi juga menjadi pertim bangan besar lantaran cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas. Pasti diperlukan dana besar untuk berkampanye atau membayar saksi-saksi.
Karena itu, dua modal tersebut, modal sosial dan ekonomi, harus dimiliki para kontestan serta menjadi pertim bangan dalam strategi pemenangan Pilpres 2019. Secara kultural, kelompok pemilih tradisional yang berasal dari warga nahdliyin memiliki kepatuhan terhadap para ulama.
Sebaliknya, sebagian penduduk dengan tingkat pendidikan rendah lebih berpikir pragmatis. Kondisi itulah yang menjadi bahan pertimbangan kedua kubu dalam menentukan cawapres.
Kubu Jokowi yang didukung partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, dan Nasdem tampaknya memiliki modal intelektual dan ekonomi yang cukup kuat. Faktor itulah yang mendorong PDIP, Golkar, dan Nasdem untuk lebih memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi.
Ma’ruf Amin dipandang bisa menjadi modal sosial untuk memperoleh dukungan dari kelompok Islam. Selain menjadi figur panutan kalangan Islam tradisional, Ma’ruf Amin termasuk kiai sepuh. Beliau saat ini telah berusia 75 tahun.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022