
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com – Ada fakta mengejutkan untuk siswa yang suka menggunakan aplikasi kecerdasan buatan (AI). Mereka memiliki rata-rata skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan, siswa yang menggunakan AI setiap hari atau hampir setiap hari memiliki rata-rata skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI.
Stella menegaskan bahwa jika AI memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, manusia akan kehilangan proses belajar. Menurut data World Economic Forum (2025), agilitas, pembelajaran yang konsisten, dan kreativitas merupakan keahlian utama yang paling dibutuhkan pada 2030.
"Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis," tegas Stella di Redea International Conference ke-16 pada 8-9 Oktober 2026 di Jakarta, Jumat (9/10).
Baca Juga:Amazon Tutup Platform Mechanical Turk, Jejak Awal ‘Kecerdasan Buatan’ Bezos Berakhir di Era AI
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk memastikan pemanfaatan teknologi tidak mengurangi kemampuan siswa dalam berpikir mandiri dan mengembangkan kreativitas.
Sekolah dan guru perlu membekali peserta didik dengan kemampuan untuk menilai hasil yang dihasilkan AI, bukan sekadar menggunakannya untuk memperoleh jawaban secara instan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menuntut sekolah menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S.F. Amir menekankan, pendidikan harus tetap menjaga rasa ingin tahu serta sisi kemanusiaan peserta didik seiring pesatnya perkembangan teknologi.
"Tanggung jawab kita (sebagai pendidik) adalah memastikan bahwa seiring berkembangnya teknologi, sekolah tetap berlandaskan pada visi keberlanjutan yang mendalam, sebuah ekosistem di mana pengambilan keputusan berbasis bukti, pengembangan guru yang berkelanjutan, dan agensi siswa saling memperkuat keunggulan akademik serta kesejahteraan manusia," ujar Antarina.
Antarina menambahkan, sekolah perlu menjadi ekosistem pembelajaran yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, sekaligus memastikan teknologi digunakan untuk mendukung perkembangan peserta didik.
"Sekolah yang berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas: membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati," ungkapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Feyenoord vs AZ Alkmaar: Sama-Sama Produktif, Laga Berpotensi Imbang
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Prediksi Skor Barcelona vs Getafe di Liga Spanyol: Blaugrana Pesta Gol di Camp Nou
Prediksi Susunan Pemain Como vs AS Roma: Fabregas Siapkan Taktik Subbuteo
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022