Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18.44 WIB

Siswa Pengguna AI Punya Skor Sains Lebih Rendah

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie. (Dery Ridwansah/JawaPos.com) - Image

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

 JawaPos.com – Ada fakta mengejutkan untuk siswa yang suka menggunakan aplikasi kecerdasan buatan (AI). Mereka memiliki rata-rata skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan, siswa yang menggunakan AI setiap hari atau hampir setiap hari memiliki rata-rata skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang jarang atau tidak pernah menggunakan AI. 

Stella menegaskan bahwa jika AI memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, manusia akan kehilangan proses belajar. Menurut data World Economic Forum (2025), agilitas, pembelajaran yang konsisten, dan kreativitas merupakan keahlian utama yang paling dibutuhkan pada 2030. 

"Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis," tegas Stella di Redea International Conference ke-16 pada 8-9 Oktober 2026 di Jakarta, Jumat (9/10).

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk memastikan pemanfaatan teknologi tidak mengurangi kemampuan siswa dalam berpikir mandiri dan mengembangkan kreativitas.

Sekolah dan guru perlu membekali peserta didik dengan kemampuan untuk menilai hasil yang dihasilkan AI, bukan sekadar menggunakannya untuk memperoleh jawaban secara instan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menuntut sekolah menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S.F. Amir menekankan, pendidikan harus tetap menjaga rasa ingin tahu serta sisi kemanusiaan peserta didik seiring pesatnya perkembangan teknologi.

"Tanggung jawab kita (sebagai pendidik) adalah memastikan bahwa seiring berkembangnya teknologi, sekolah tetap berlandaskan pada visi keberlanjutan yang mendalam, sebuah ekosistem di mana pengambilan keputusan berbasis bukti, pengembangan guru yang berkelanjutan, dan agensi siswa saling memperkuat keunggulan akademik serta kesejahteraan manusia," ujar Antarina. 

Antarina menambahkan, sekolah perlu menjadi ekosistem pembelajaran yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, sekaligus memastikan teknologi digunakan untuk mendukung perkembangan peserta didik.

"Sekolah yang berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas: membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati," ungkapnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore