Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 April 2025, 03.35 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Mau Hidupkan Lagi Penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA, Suara Guru Terpecah

Ilustrasi Siswa SMA. (dok. Jawa Pos) - Image

Ilustrasi Siswa SMA. (dok. Jawa Pos)

JawaPos.com – Rencana pengembalian sistem penjurusan di jenjang SMA oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti kembali menghidupkan perdebatan lama. Banyak yang setuju, tapi tak sedikit pula yang melontarkan kritik tajam.

Dukungan ini muncul salah satunya dari Ketua Umum PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi. Dia menilai, dengan menghidupkan kembali penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA, maka siswa bisa memiliki ilmu pengetahuan yang baik.

Dengan begitu, siswa bisa memiliki peminatan khusus untuk mendalami ilmu tersebut. Sehingga proses pengajaran juga bisa lebih fokus. 

“Harapannya agar siswa menguasai semua ilmu itu dengan baik. Tapi jika tidak siap, yang terjadi malah siswa tidak mendapatkan ilmu apa-apa atau hanya mendapatkan sedikit. Jadi dengan adanya penjurusan IPA, IPS dan Bahasa itu bagus agar siswa bisa mempelajari ilmu sesuai dengan minatnya dan menjadi ahli,” tuturnya di Jakarta, Senin (14/4).

Aktivis Pendidikan dari Tamansiswa Ki Darmaningtyas mengamini. Dia menilai, penjurusan memiliki sisi positif yang lebih banyak dibandingkan dengan tanpa penjurusan. Pertama, penjurusan tampak lebih tegas dalam proses pembelajaran antara IPA, IPS, dan Bahasa, sehingga tidak terjadi tumpang tindih. 

Hal ini, menurut dia, akan sangat membantu dalam membekali siswa yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

“Mereka yang akan melanjutkan ke prodik teknik misalnya, akan memperkuat mata pelajaran fisika dan matematika lewat penjurusan. Mereka yang akan melanjutkan ke farmasi dan kedokteran akan memperkuat mata pelajaran biologi dan kimia, dan seterusnya,” jelasnya. 

Kemudian, peserta didik dirasa bisa lebih mudah memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan bakat. Dengan begitu, mereka dapat belajar lebih fokus karena sesuai minatnya.

“Pilihan-pilihan ini juga akan sangat membantu memilih fakultas yang akan dimasuki saat mendaftar di perguruan tinggi,” ungkapnya. 

Untuk pihak sekolah, lanjut dia, tata kelolanya juga bakal jauh lebih mudah. Satuan pendidikan akan lebih mudah mengatur jadwal pembelajaran karena kebutuhan guru untuk masing-masing mata pelajaran dalam satu kelas sudah diketahui secara pasti.

Sehingga ketika jumlah gurunya tidak mencukupi, kekurangannya dapat diprediksi secara pasti. Termasuk, terkait kebutuhan infrastruktur fisik untuk praktikum. Misalnya, kebutuhan laboratorium untuk praktikum jurusan IPA. 

“Bagi pemerintah sendiri, jauh lebih mudah memprediksikan kebutuhan guru SMA untuk masing-masing mata pelajaran,” tuturnya.

Meski begitu, dia mengakui kebijakan menghidupkan kembali penjurusan ini juga punya sisi negatif. Yakni, pada aspek sosiologis yang selama ini mempersepsikan IPA adalah jurusan yang paling top. 

“Padahal tidak demikian. Di tengah berkembangnya profesi baru yang memberikan imbalan tinggi, itu justru banyak didominasi oleh mereka yang berlatar belakang sosial humaniora,” katanya.

Dia meyakini, perspektif itu pun lama-lama bisa terkikis. Sehingga, tak jadi soal mengenai jurusan IPA, IPS, dan Bahasa ini. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore