Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Maret 2026, 19.52 WIB

HR Dituntut Adaptif di Era Transformasi Digital, Praktisi SDM Soroti Pentingnya Reskilling dan Kepemimpinan Baru

Diskusi perubahan ekosistem HR di era transformasi digital. (Istimewa) - Image

Diskusi perubahan ekosistem HR di era transformasi digital. (Istimewa)

JawaPos.com–Percepatan transformasi digital membuat banyak organisasi berlomba mengadopsi teknologi baru. Namun, di balik gencarnya investasi pada sistem dan platform digital, sejumlah praktisi sumber daya manusia (HR) menilai bahwa faktor manusia tetap menjadi penentu utama keberhasilan perubahan di dalam organisasi.

Hal tersebut mengemuka dalam sebuah diskusi yang mempertemukan praktisi HR dari berbagai perusahaan dalam suasana Ramadhan. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman tentang bagaimana perusahaan menghadapi dinamika pengelolaan talenta di tengah perubahan cara kerja yang semakin cepat.

Dalam diskusi tersebut, para peserta menyoroti bahwa transformasi digital tidak semata soal teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, budaya organisasi, serta kepemimpinan yang mampu membaca arah perubahan.

Beberapa isu yang banyak dibahas antara lain kebutuhan reskilling di tengah perubahan peran kerja, tantangan membangun budaya kolaboratif lintas generasi, hingga pentingnya mencetak pemimpin yang mampu memimpin organisasi yang semakin berbasis data.

Chief of Customer Success Talentlytica Ahmad Fachrur Rivai mengatakan, banyak organisasi masih terlalu fokus pada aspek teknologi ketika berbicara tentang transformasi digital.

”Kami sering melihat perusahaan berinvestasi besar pada sistem dan platform, tetapi belum sepenuhnya menguatkan kesiapan talenta di dalamnya. Padahal, transformasi hanya akan berjalan efektif jika manusianya siap berubah dan dipimpin dengan pendekatan yang tepat,” ujar Ahmad Fachrur Rivai baru-baru ini di Jakarta.

Menurut dia, peran HR kini semakin strategis karena berada di garis depan dalam memastikan proses perubahan berjalan berkelanjutan. HR tidak hanya berperan dalam administrasi kepegawaian, tetapi juga dalam merancang strategi pengembangan talenta yang relevan dengan kebutuhan organisasi di masa depan.

Dia menambahkan bahwa HR perlu mampu mengidentifikasi individu dengan kemampuan belajar yang tinggi atau learning agility, sekaligus mendorong program peningkatan keterampilan seperti upskilling dan reskilling yang sesuai dengan perkembangan bisnis. Selain itu, sistem evaluasi kinerja juga perlu mulai diarahkan pada pendekatan berbasis perilaku dan kompetensi.

Salah satu peserta diskusi, Bintang Nur Rahmansyah dari PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), menilai forum semacam ini penting karena memberikan ruang bagi praktisi HR untuk bertukar pandangan dan pengalaman.

”Ini pertama kalinya kami ikut diskusi seperti ini. Acaranya sangat insightful dan kami senang bisa bertemu dengan teman-teman HR dari bisnis yang berbeda. Jadi banyak sekali yang bisa dipelajari,” kata Bintang Nur Rahmansyah.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat, tantangan organisasi tidak hanya terletak pada bagaimana mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga bagaimana menyiapkan manusia di baliknya.

Bagi banyak perusahaan, transformasi digital pada akhirnya bukan sekadar soal sistem yang lebih canggih, melainkan tentang bagaimana organisasi mampu membangun talenta yang adaptif, budaya kerja yang kolaboratif, serta kepemimpinan yang siap menghadapi perubahan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore