JawaPos.com - Baterai kendaraan listrik terus berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Pada peneliti di seluruh dunia terus mengeksplorasi cara-cara baru agar membuatnya menjadi lebih baik lagi.
Salah satunya tim dari Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST) di Korea yang menciptakan logam litium inovatif. Baterai ini memiliki elektrolit polimer padat tiga lapis dan diklaim mampu memadamkan dirinya sendiri dan mempertahankan kinerja yang kuat, bahkan setelah banyak siklus pengisian daya.
Seperti dilansir dari Carscoops, Selasa (7/1), dalam baterai elektrolit polimer padat tradisional, litium dapat membentuk struktur kecil mirip pohon yang disebut dendrit selama pengisian dan pengosongan daya.
Dendrit ini bisa merusak sambungan internal dalam baterai, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan secara signifikan. Tantangan yang sudah berlangsung lama ini telah mempersulit upaya memaksimalkan potensi baterai logam litium.
Namun, tim DGIST sendiri telah merinci struktur elektrolit tiga lapis inovatif mereka yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan kinerja baterai. Desain cerdas ini mencakup lapisan luar yang lembut yang memastikan kontak yang baik dengan elektroda, sementara lapisan tengah yang kuat meningkatkan integritas struktural baterai.
Elektrolit tersebut selanjutnya ditingkatkan dengan pemadam api (decabromodiphenyl ethane), konsentrasi tinggi garam litium, dan zeolit, yang memperkuat kekuatan keseluruhannya. Meskipun spesifikasinya mungkin terdengar sangat teknis, hasilnya adalah baterai yang lebih aman dan lebih andal.
Inovasi tim DGIST tidak berhenti pada keselamatan kebakaran. Peneliti utama Dr. Kim Jae-Hyun, mengungkapkan, desain baterai ini memiliki daya tahan yang luar biasa, mempertahankan sekitar 87,9 persen kinerjanya setelah 1.000 siklus pengisian dan pengosongan daya.
Kemampuan Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan sebagian besar baterai saat ini, yang biasanya kehilangan 20–30 persen kapasitasnya dalam jumlah siklus yang sama.
Sebagai perbandingan, secara teori, kendaraan listrik dengan jarak tempuh 300 mil yang menggunakan baterai baru ini akan tetap mempertahankan 87,9 persen kapasitasnya, menyediakan jarak tempuh lebih dari 260 mil, bahkan setelah menempuh jarak 300.000 mil.
Selain itu, para peneliti melaporkan bahwa baterai dapat padam sendiri jika terjadi kebakaran. Kombinasi unik antara daya tahan dan keamanan ini berpotensi memberikan dampak substansial pada industri baterai.
“Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap komersialisasi baterai logam litium menggunakan elektrolit, sekaligus memberikan stabilitas dan efisiensi yang lebih baik pada perangkat penyimpanan energi,” kata Kim.
Lebih sederhana, teknologi ini dapat menghasilkan baterai yang lebih aman dan tahan lama untuk berbagai aplikasi.
Meskipun kendaraan listrik merupakan contoh penggunaan teknologi ini, tetapi aplikasinya jauh lebih luas. Baterai canggih ini bisa digunakan untuk smartphone ataupun perangkat yang dapat dikenakan hingga sistem penyimpanan energi berskala besar lainnya.