
Bagong Suyanto
PENUTUPAN lokalisasi di berbagai daerah ternyata tidak otomatis menghentikan praktik prostitusi di masyarakat. Di Surabaya, misalnya. Setelah kompleks lokalisasi Dolly yang terkenal itu ditutup, ternyata sebagai gantinya kini marak praktik prostitusi lewat aplikasi chatting seperti Line dan WhatsApp yang skalanya lebih eksklusif (Jawa Pos, 21 Desember 2016).
Jika dibandingkan dengan praktik prostitusi di lokalisasi atau pemasaran jasa layanan seksual lewat media sosial yang sifatnya lebih terbuka, prostitusi via aplikasi chatting bersifat lebih terbatas, semi tertutup, dengan pelanggan-pelanggan tertentu yang tergabung khusus dalam grup yang sudah terseleksi.
Jasa layanan yang ditawarkan di grup aplikasi online yang terbatas tersebut bukan melulu layanan hubungan seksual, tetapi bisa pula layanan chat sex, phone sex, atau video call sex sesuai dengan permintaan pelanggan. Seperti praktik prostitusi konvensional, di dunia maya, primadona prostitusi via chatting tersebut umumnya adalah anak-anak perempuan, baik itu grey chicken (pelajar) maupun ’’ayam kampus’’ (mahasiswa) yang dijajakan sebagai layanan unggulan dengan tarif tinggi dan menguntungkan germo atau mucikari yang mengelolanya.
Sementara itu, perbedaan antara prostitusi di lokalisasi dan prostitusi di dunia maya, pada prostitusi konvensional, para pelacur dijajakan dari balik kaca etalase dan dijajar layaknya barang dagangan. Namun, pada era masyarakat postmodern seperti sekarang ini, para pelacur biasanya dijajakan dalam format digital, melalui foto-foto yang diunggah di dunia maya, dengan pose-pose yang menarik tak beda dengan artis atau selebriti yang terkenal.
Mengapa Makin Marak?
Setelah kompleks lokalisasi ditutup paksa, banyak pihak yang sebetulnya berharap hal itu sekaligus otomatis akan menutup praktik prostitusi yang berkembang di masyarakat. Tetapi, kalau melihat pengalaman di berbagai kota besar, penutupan paksa sejumlah lokalisasi ternyata tidak menjamin praktik prostitusi otomatis ikut mati.
Ketika di masyarakat penggunaan gadget makin luas dan komunikasi yang berkembang tidak lagi harus tatap muka langsung, yang terjadi kemudian, strategi pemasaran yang berkembang di dunia prostitusi pun pelan-pelan ikut berubah.
Melalui pemberitaan di media massa, kita bisa melihat para germo atau mucikari yang tertangkap tangan menjadi pengelola prostitusi kini bukan lagi ’’mami-mami’’ atau ’’papi-papi’’ pensiunan yang sudah berumur kepala 5–6. Pada era masyarakat digital seperti sekarang ini, para germo dan mucikari umumnya adalah anak-anak muda atau bahkan remaja yang merupakan bagian dari kelompok net generation –yang fasih memanfaatkan gadget dan internet untuk kelancaran bisnis haram mereka.
Secara garis besar, ada tiga hal yang menjadi penyebab makin maraknya prostitusi online belakangan ini. Pertama, konsumen atau pelanggan yang memanfaatkan jasa prostitusi online kini telah berubah. Laki-laki iseng yang mem-booking anak perempuan yang ditawarkan di dunia maya bukanlah generasi lama yang gaptek, melainkan generasi digital yang melek teknologi informasi, internet, dan media sosial.
Karena itu, untuk menggaet pasar yang berubah tersebut, strategi pemasaran pun harus ikut-ikutan berubah. Menawarkan jasa layanan seksual melalui media sosial atau aplikasi chatting merupakan konsekuensi perkembangan zaman yang tidak bisa ditolak.
Kedua, karena tawaran jasa layanan seksual lewat aplikasi chatting bersifat lebih personal dan eksklusif, para laki-laki yang memanfaatkan fasilitas itu merasa aman dari risiko menjadi sorotan publik. Hal itu berbeda dengan aktivitas ’’jajan’’ ke lokalisasi yang berisiko membuat pelanggan bertemu dengan berbagai orang tanpa mereka bisa mengontrol dan mengenali siapa saja yang berada di kompleks lokalisasi. Dengan mem-booking pelacur via aplikasi chatting, setidaknya konsumen merasa identitas dan kelakuannya tidak akan diketahui khalayak luas.
Ketiga, karena memanfaatkan gadget dan internet sebagai media untuk memasarkan jasa layanan seksual yang dikelolanya, para germo, mucikari, dan pelacur itu lebih leluasa memasarkan jasa mereka –tanpa bisa dibatasi ruang dan waktu.
Dari studi yang dilakukan penulis (2016) tentang praktik prostitusi di kalangan pelajar di Kota Surabaya, pada sejumlah grey chicken yang menjajakan diri lewat media sosial atau aplikasi chatting, ternyata mereka justru sangat mungkin memetik keuntungan yang lebih besar dan meraih pelanggan yang lebih banyak dari mana pun.
Karakteristik media sosial dan aplikasi chatting yang efisien serta tidak terbatas itulah yang membuat praktik prostitusi online belakangan ini justru semakin marak. Aparat kepolisian pun berkali-kali berhasil membongkar praktik prostitusi online. Namun, jangankan menimbulkan efek jera, yang terjadi, praktik prostitusi online yang dikembangkan jadi semakin canggih, semakin hati-hati, dan eksklusif.
Upaya Memberantas
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022