Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Mei 2019 | 20.23 WIB

Kapolri Sebut Dalang Kericuhan May Day Kelompok Anarcho Syndicalism

Kapolri Jenderal Tito Karnavian - Image

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

JawaPos.com - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mulai melakukan identifikasi penyebab terjadinya kericuhan saat aksi massa dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di sejumlah wilayah. Menurutnya, kelompok Anarcho Syndicalism merupakan dalang kericuhan tersebut.

"Ada satu kelompok namanya Anarcho Syndicalism dengan (simbol) huruf A. Ini bukan kelompok fenomena lokal tapi fenomena internasional," ujar Tito di Ruppatama Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (2/5).

Kelompok ini, dikatakan Tito memang ketap melakukan aksi tidak terpuji. Prinsip mereka, pekerja tidak boleh dikekang oleh aturan. Semua berjalan sesuai kemauan diri sendiri. "Ada semacam doktrin di luar negeri mengenai masalah pekerja diantaranya adalah pekerja jangan diatur. Jadi pekerja lepas dari aturan, mereka menentukan sendiri," jelasnya.

Mantan Kepala BNPT itu menyebut fenomena kelompok Anarcho Syndicalism sudah lama berkembang disejumlah negara Eropa, seperti Rusia. Di negara-negara Amerika Selatan kelompok ini juga eksis. Tak hanya sampai di situ, Anarcho Syndicalism mulai masuk ke wilayah Asia. Di Indonesia sendiri mulai berkembang beberapa tahun belakangan.

Tahun lalu, mereka pernah muncul pula di Jogjakarta, dan Bandung. Tahun ini terlihat muncul di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. "Mereka sayangnya melakukan kekerasan aksi vandalisme, coret-coret simbol A, ada yang merusak pagar jalan," tambah Tito.

Photo

Pemuda berpakaian hitam diamankan polisi karena berbuat kericuhan saat hari buruh di Bandung. (Dok Pojok Satu/ Jawa Pos Group)

Demi mencegah kejadian ini terulang, Tito sudah memerintahkan jajarannya untuk melakukan pemetaan keberadaan kelompok ini. Nantinya, mereka akan diberikan pembinaan supaya tidak lagi merusak fasilitas publik. "Polri menghadapi situasi itu kita pasti tindak tegas, tapi saya sudah perintahkan melakukan pemetaan kelompoknya dan melakukan pembinaan kepada mereka," pungkas Jenderal Bintang 4 itu.

Meski terjadi beberapa kerusuhan, Tito menyebut aksi May Day lalu berjalan kondusif. Dia pun memberikan apresiasi terhadap para buruh yang menjalankan aksinya dengan damai.

Sebelumnya, aksi May Day sempat tercoreng oleh kelakuan oknum tidak bertanggungjawab. Seperti di Bandung, Jawa Barat, kelompok massa berbaju hitam sempat terlibat bentrok dengan aparat. Penyebabnya diduga karena mereka merusak fasilitas umum.

Nahasnya, insiden ini juga turut menyeret dua orang jurnalis sebagai korban. Sedangkan di DKI Jakarta aksi vandalisme juga terjadi. Di kawasan Patung Kuda Monas, Jakarta Pusat. Saat orasi tengah berlangsung, seorant laki-laki menggunakan jaket berwarna hitam mendadak mencoret-coret separator jalur busway di depan kantor Kementerian Pariwisata.

Coretan tersebut bertuliskan "Rakyat Anti Kapitalis May Day. Rezim Fasis". Tulisan tersebut ditulis dengan cat semprot warna hitam. Namun, belum diketahui pelakunya merupakan bagian buruh yang berdemo atau bukan.

Pasalnya pelaku menggunakan masker untuk menutupi mukanya. Serta tudung dari jaketnya menutupi bagian atas kepalanya. Selain itu, tak ada atribut kelompok buruh manapun.

Sedangkan, Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Irman Sugema mengatakan pihaknya telah mengamankan puluhan pemuda yang membuat ricuh itu. Irman menjelaskan, bahwa para pemuda ini ditangkap lantaran melakukan aksi vandalisme.

“Para pemuda itu ditertibkan tak jauh dari Gedung Sate, hal ini dilakukan karena kelompok ini bukan bagian dari kelompok buruh,” kata Irman seperti dikutip Pojok Satu (Jawa Pos Group), di Bandung, Rabu (1/5) sore.

Diakuinya, bahwa kelompok yang memang bukan buruh menamakan salah satu kelompok dengan identitas hitam-hitam. “Kami amankan, ternyata ada indikasi terjadinya gesekan dengan buruh,” ujar Irman.

Ia mengatakan, berdasar laporan dari masyarakat, kelompok itu mencoret kendaraan buruh yang hendak menuju Gedung Sate. "Informasi dari masyarakat dan warga ada yang menggunakan cat mencoret mobil buruh, jajaran Polrestabes lakukan tindakan agar tidak terjadi potensi konflik sosial antara kelompok ini dengan buruh,” paparnya.

Saat ini, polisi masih melakukan pendataan. Mereka dikumpulkan di Monumen Perjuangan. “Ada sekitar 40 orang di Polrestabes Bandung yang kami lakukan pemeriksaan,” terangnya.

Photo

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
      ©2026 PT JAWA POS GRUP MULTIMEDIA
      Download Aplikasi JawaPos.com
      Download PlaystoreDownload Appstore