Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2026, 04.07 WIB

Pengamat Desak TNI Bongkar Aktor Intelektual di Kasus Penyiraman Air Keras pada Andrie Yunus

Akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun dan Koordinator Indonesia Millenials Center Yerikho Manurung saat diskusi publik di Menteng, Rabu (18/3). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com) - Image

Akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun dan Koordinator Indonesia Millenials Center Yerikho Manurung saat diskusi publik di Menteng, Rabu (18/3). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, memasuki babak baru setelah empat oknum TNI ditahan Puspom TNI.

Meski pelaku lapangan telah tertangkap, desakan agar aktor intelektual di balik aksi keji ini segera diungkap terus bermunculan.

Pengamat dan Akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun meminta institusi TNI untuk mengedepankan transparansi.

Menurut dia, di era keterbukaan informasi saat ini, upaya menutup-nutupi fakta hanya akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Ubedilah meyakini bahwa prajurit di lapangan tidak mungkin bergerak tanpa adanya instruksi dari atasan atau pihak tertentu.

"Jadi saya kira mesti menjadi momentum penting untuk tentara jujur, ya siapa aktor intelektual di balik ini. Kalau aktornya adalah bagian penting dari tentara, ya beri sanksi berat," ujar Ubedilah dalam diskusi publik di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/3).

Indikasi Pembunuhan Berencana, Bukan Penganiayaan Biasa

Lebih lanjut, Ubedilah menyoroti pola serangan air keras yang menyasar area wajah korban.

Ia menegaskan bahwa aparat tidak boleh menyederhanakan kasus ini hanya sebagai penganiayaan ringan, melainkan harus melihat adanya potensi niat membunuh.

"Serangan ke wajah menunjukkan adanya dugaan kuat pembunuhan berencana. Ini bukan penganiayaan biasa dan harus ditangani dengan pasal yang sesuai," terangnya.

Ia juga mendorong Komnas HAM untuk segera membentuk tim pencari fakta, mengingat Andrie Yunus diserang saat menjalankan hak sipilnya dalam berpendapat.

Sorotan Tajam Terhadap Kondisi Demokrasi

Senada, Koordinator Indonesia Millenials Center Yerikho Manurung menilai insiden ini sebagai alarm bahaya bagi demokrasi Indonesia.

Penangkapan oknum TNI berinisial NDP, SL, BWH, dan ES dianggap mencerminkan adanya masalah serius dalam relasi kekuasaan.

Yerikho pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan atensi khusus agar kasus ini tidak menguap begitu saja.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore