Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Desember 2020 | 16.30 WIB

12 Provinsi Dijadikan Prioritas Perubahan Perilaku Covid-19

petugas satpol PP beradu mulut dengan warga saat mengingatkan untuk mengenakan masked  pada saat kampanye protokol kesehatan dikawasan MH Thamrin,Jakarta, Senin (30/11). Kasus COVID-19 di Jakarta kembali meningkat sehingga kampanye protokol kesehatan kemb - Image

petugas satpol PP beradu mulut dengan warga saat mengingatkan untuk mengenakan masked pada saat kampanye protokol kesehatan dikawasan MH Thamrin,Jakarta, Senin (30/11). Kasus COVID-19 di Jakarta kembali meningkat sehingga kampanye protokol kesehatan kemb

JawaPos.com - Ketua Subbidang Edukasi Perubahan Perilaku, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Harris Iskandar mengatakan, ada sejumlah provinsi di Indonesia yang akan menjadi prioritas perubahan perilaku. Di mana sebanyak 12 provinsi itu adalah daerah dengan penularan virus tertinggi di Indonesia.

Adapun 12 provinsi itu adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta. Selain itu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan juga Papua.

"Ada 12 provinsi prioritas yang zona merah yang harus diperhatikan, dan konsentrasi kita itu di 53 kabupaten atau kota," kata Harris dalam siaran YouTube Ditjen GTK, Kamis (2/12).

Terdapat tiga tim yang telah dibentuk dalam mengubah perilaku masyarakat di daerah tersebut untuk bisa mematuhi protokol kesehatan. Tiga tim tersebut adalah tim mitigasi, tim edukasi dan tim sosialisasi.

"Tim mitigasi ada di 18 kabupaten kota, tim edukasi 15 kabupaten kota dan tim sosialisasi 24 kabupaten kota," kata dia.

Adapun, tim sosialisasi berisikan penggiat keluarga berencana (KB), lalu untuk tim mitigasi adalah para tentara dan ahli psikologi. Sementara itu tim edukasi diisi oleh para mahasiswa yang menjadi duta perubahan perilaku.

"Yang mahasiswa ini mereka melakukan edukasi ketemu warga di tempat publik gitu atau door to door," tutur dia.

Untuk tim edukasi, pihaknya telah menerima 5.625 mahasiswa untuk terjun ke lapangan dalam memberi edukasi ke masyarakat. Mulai dari edukasi kepada tokoh masyarakat, tokoh agama hingga pemuda. Harapannya tim edukasi ini bisa diperluas.

Selain itu, Harris juga berharap ada gerakan dari guru dan kepala sekolah untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Caranya, hampir sama seperti mahasiswa dengan model gerakan masing-masing instansi bergerak sendiri untuk melakukan edukasi di sekitarnya domisilinya.

"Bapak ibu guru di sekolah bisa juga melakukan edukasi melakukan pantauan berupa perubahan perilaku di masyarakat," tadasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore