alexametrics

Buku Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga Hadirkan Kenikmatan Tekstasi

Oleh: Muhammad Nanda Fauzan *)
15 September 2019, 17:48:43 WIB

Gunawan Tri Atmodjo mahir dalam menghadirkan ironi tanpa penggambaran hiperbolis.

KENIKMATAN ekstasi-tekstual atau tekstasi ketika dihadapkan pada peristiwa pembacaan terhadap suatu teks memang melulu berkaitan dengan pengalaman estetis seseorang. Teks haruslah dipandang otonom agar ia berhasil membawa pembaca pada apa yang oleh Aristoteles disebut katharsis.

Reputasi biografi seorang pengarang, misalnya, tak selalu memiliki pengaruh besar terhadap kenikmatan, apalagi mencapai titik ’’jaminan mutu’’. Saut Situmorang dalam Politik Sastra (JBS, 2017) menyatakan bahwa hal semacam itu paling-paling menambah rasa suspense atau harapan –untuk membawa– kejutan yang lebih besar bagi kemungkinan terjadinya sebuah katarsis.

Atau, dalam bahasa yang lebih ringkas dan mudah dipahami, Roland Barthes menciptakan kalimat yang begitu masyhur –sekaligus menjadi judul bukunya, The Death of the Author (1967). Memang demikian, pengarang seharusnya menghilang di dalam teks, untuk kemudian lenyap.

Kumpulan cerita pendek yang dihimpun dalam buku berjudul Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga (Diva Press, 2019) sukses membawa kenikmatan tekstasi yang cukup lama tak saya dapatkan pada setiap pembacaan karya prosa Indonesia. Tanpa berpatok pada nama besar pengarangnya, Gunawan Tri Atmodjo.

Sunyaruri, sebagai pembuka rangkaian cerita pendek, jelas bukan pilihan yang keliru. Gunawan barangkali memperhitungkan dengan cermat mengapa ia layak ditaruh di muka.

Ia mengisahkan seorang perempuan buruk rupa disertai kebiasaan ganjil mengunjungi pemakaman setiap malam. Jelas perangai itu bukan tanpa alasan. Redup malam setidaknya mampu menyamarkan wajah dan sunyi pemakaman adalah tempat yang bagus untuk menghindarkan Sunyaruri dari gunjing dan cemooh manusia. Hingga pada suatu malam, setelah meneguk arak dan berada di bawah pengaruh alkohol, sang juru kunci pemakaman menyodok lubang Sunyaruri, lalu berhasil membuatnya bunting.

Cerita pendek dengan latar mencekam ini berhasil membawa kita bertualang pada sisi kehidupan perempuan yang begitu murung dan putus asa. Juga, membenarkan dalil bahwa bangunan terhadap keadilan antara laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda.

Di luar perkara itu, yang memikat dari kisah ini adalah bagaimana penggambaran terhadap apa yang disebut dengan buruk rupa. Gunawan tidak memberikan citraan secara detail, melainkan memberi stimulus agar pembaca memainkan imajinasinya seliar mungkin.

Ia hanya menjelaskan dengan ’’sebagian kecil warga kampung hanya menganggap Sunyaruri sebagai perawan yang kesepian, sedangkan kebanyakan warga menganggapnya setan gentayangan (halaman 10)’’. Bandingkan, misalnya, dengan teknik yang digunakan Eka Kurniawan untuk menjelaskan tokoh Si Cantik dalam Cantik Itu Luka (2002): ’’Ia bahkan tak mampu mendeskripsikannya, hanya membayangkannya sebagai monster kutukan neraka.”

Pada cerita dengan judul Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga, Gunawan semakin menunjukkan kemahirannya dalam menghadirkan ironi tanpa penggambaran hiperbolis. Tokoh perempuan bernama Subadra, dengan kekurangan berupa daun telinga kiri yang mengerut, alih-alih bersedih sebagai pesakitan atau meratapi hal itu sebagai kutukan, justru memanfaatkannya sebagai prosesi jati diri. Dan, menjadikannya ladang penghasil tawa.

Keseluruhan tema yang diangkat dalam buku ini cenderung sederhana –untuk tidak menyebutnya sepele, berbeda dari buku-buku Gunawan sebelumnya. Mulai Foto Keluarga, Kado Sepatu Bayi, Hujan di Pagi Hari, hingga Telepon dan Pisau. Tetapi, rasa-rasanya jelas kita termasuk dalam golongan orang yang merugi, seandainya genit pada perkara tematis belaka.

Ada begitu banyak penulis yang mengangkat kisah dengan tema utama yang begitu adiluhung. Semacam kemiskinan, revolusi, keadilan, pendidikan, hingga perkara kelaparan. Tapi, gugup dalam teknik dan penyampaian cerita, gagap dalam mencipta metafora, gagal menyelaraskan unsur-unsur linguistik, sehingga teks yang berhasil diciptakan begitu sulit dibedakan dengan muatan khotbah, dan kadang benar-benar kelompang.

Saya berani bertaruh, seandainya tujuh belas kisah yang terangkum dalam buku ini ditulis oleh seorang bocah ingusan tanpa memiliki reputasi mentereng, ia tetap bisa menghadirkan kenikmatan tekstasi. Juga layak dijadikan rujukan sebagai sekumpulan dongeng yang membahagiakan. (*)

Judul: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga

Penulis: Gunawan Tri Atmodjo

Penerbit: Diva Press

Cetakan: Pertama, 2019

ISBN: 978-602-391-663-4


*) Muhammad Nanda Fauzan, Mahasiswa Filsafat UIN Banten, menulis cerita pendek dan puisi

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads