
Caption foto: Ilustrasi pasangan yang harmonis. (Foto: Pixabay)
JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, hubungan kita pasti berubah dan berkembang. Bagian dari evolusi ini melibatkan pelepasan perilaku yang tidak lagi melayani kita atau pasangan kita. Melepaskan kebiasaan tertentu bisa menjadi tantangan, namun ini merupakan langkah penting untuk mengalami cinta dan hubungan yang lebih dalam.
Kita harus mau memeriksa tindakan kita secara kritis dan merangkul peluang untuk berkembang. Merasa lebih dicintai oleh pasangan Anda seiring bertambahnya usia bukanlah tentang mengubahnya, tetapi tentang memperbaiki diri kita sendiri.
Ini tentang melepaskan perilaku yang dapat menghambat potensi hubungan kita dan merangkul perilaku yang memupuk cinta dan pengertian. Dikutip dari geediting pada Jumat (10/1), berikut adalah tiga perilaku yang mungkin perlu Anda ucapkan selamat tinggal jika Anda ingin merasa lebih dicintai oleh pasangan di tahun-tahun emas Anda.
1) Ekspektasi yang tidak terkendali
Saat kita menjadi dewasa dan berkembang dalam hubungan kita, harapan kita juga harus demikian. Ekspektasi yang tidak terkendali, terutama yang mengakar pada diri kita yang lebih muda, dapat menciptakan ketegangan dan kesalahpahaman yang tidak perlu. Kita semua memiliki gambaran dalam pikiran kita tentang bagaimana suatu hubungan seharusnya berfungsi, seringkali berdasarkan apa yang telah kita amati pada orang lain atau diserap dari media. Namun, skenario 'ideal' ini mungkin tidak sejalan dengan realitas dinamika hubungan kita sendiri. Ekspektasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan ketidakpuasan dan kebencian jika tidak terpenuhi.
Alih-alih menghargai cinta dan perhatian yang diberikan pasangan Anda, Anda mungkin mendapati diri Anda terpaku pada apa yang hilang sesuai dengan standar yang Anda miliki sebelumnya. Melepaskan ekspektasi yang kaku ini tidak berarti menerima lebih sedikit atau mengabaikan kebutuhan Anda. Ini tentang mengembangkan pemahaman yang lebih bernuansa tentang cinta, menyadari bahwa cinta itu bermanifestasi secara berbeda untuk setiap orang. Ini tentang membuka diri terhadap cara unik pasangan Anda dalam mengekspresikan cinta dan menghargai mereka apa adanya, bukan seperti yang Anda harapkan. Dengan melakukan itu, Anda menciptakan ruang untuk hubungan yang lebih dalam dan saling pengertian, memungkinkan Anda untuk merasa lebih dicintai seiring bertambahnya usia bersama.
2) Menghindari percakapan yang sulit
Di masa muda kita, terlalu mudah untuk menghindar dari percakapan yang sulit. Kita mungkin takut akan konflik, penolakan, atau sekadar mengacaukan keranjang apel. Namun, seiring bertambahnya usia, menjadi jelas bahwa menghindari topik-topik sulit ini dapat menyebabkan gangguan dalam komunikasi dan pemahaman. Keintiman sejati dibangun di atas dasar keterbukaan dan kejujuran. Ini tentang memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan kekhawatiran Anda, bahkan saat itu tidak nyaman. Dengan melakukan itu, Anda tidak hanya menghormati kesejahteraan emosional Anda sendiri, tetapi juga menunjukkan kepada pasangan Anda bahwa Anda memercayai mereka dengan kerentanan Anda.
Tentu saja, ini tidak berarti membombardir pasangan Anda dengan setiap keluhan atau kekhawatiran kecil. Ini tentang mencapai keseimbangan antara mengekspresikan pikiran Anda dan menghormati perasaan dan perspektif pasangan Anda. Sebuah contoh pribadi adalah ketika saya menyadari bahwa saya telah menghindari percakapan tertentu dengan pasangan saya karena saya takut dengan reaksi mereka. Begitu saya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya, itu membuka dialog yang pada akhirnya mendekatkan kami.
Seperti yang dikatakan oleh penulis dan pembicara terkenal bren Brown Brown, "Kerentanan bukanlah menang atau kalah; itu memiliki keberanian untuk muncul dan terlihat ketika kita tidak memiliki kendali atas hasilnya."Merangkul kerentanan dengan terlibat dalam percakapan yang sulit dapat membantu kita merasa lebih dicintai dan dipahami oleh pasangan kita seiring bertambahnya usia bersama.
3) Kebutuhan konstan akan persetujuan
Seiring bertambahnya usia, menjadi lebih jelas bahwa terus mencari validasi eksternal dapat membatasi pertumbuhan kita dan menyebabkan stres yang tidak semestinya. Bukan hal yang aneh untuk mendambakan persetujuan dari pasangan, teman, keluarga, atau bahkan masyarakat kita pada umumnya. Namun, kebutuhan akan validasi yang terus-menerus ini dapat menghambat kemampuan kita untuk merasa dicintai dan dihargai apa adanya. Keinginan untuk mendapatkan persetujuan terus-menerus dapat merusak keaslian kita dan menuntun kita untuk membuat pilihan yang mungkin tidak mencerminkan diri kita yang sebenarnya. Sangat penting untuk menyadari bahwa nilai Anda tidak bergantung pada persepsi orang lain. Anda lebih dari cukup apa adanya, tanpa perlu membuktikan apapun kepada siapapun, termasuk pasangan Anda.
Melepaskan kebutuhan akan persetujuan dari orang lain, terutama dari pasangan Anda, dapat menumbuhkan dinamika hubungan yang lebih sehat dan lebih penuh kasih. Ini memungkinkan Anda untuk mengekspresikan diri Anda yang sebenarnya tanpa takut akan penilaian atau kritik, menciptakan ruang yang aman untuk saling mencintai dan menghormati. Saya mempelajari topik ini lebih dalam di video saya tentang peretasan kebebasan pribadi. Di dalamnya, saya berbicara tentang pentingnya melepaskan keinginan untuk disukai dan bagaimana hal itu dapat meningkatkan kehidupan dan hubungan Anda secara signifikan. Anda mungkin merasa berguna untuk memahami poin ini lebih jauh.
