
ilustrasi orang yang bekerja dari rumah. Sumber foto: Freepik
JawaPos.com – Banyak orang mungkin sudah tak asing dengan istilah Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah, di mana ini umum kala pandemi Covid-19.
Meski sudah memasuki status endemi dan orang-orang kembali bepergian ke kantor, bekerja dari rumah masih dilakukan oleh sebagian orang.
Bekerja dari rumah memang memiliki keuntungan, namun ternyata menyimpan beberapa dampak negatif bagi kesehatan.
Penelitian dari National Library of Medicine menyebut bahwa WFH bisa melelahkan karena beberapa faktor, seperti dilansir Your Tango.
Hal ini termasuk kurangnya batasan jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, isolasi sosial, stres tambahan, hingga sulit melepaskan diri dari pekerjaan.
Bekerja dari rumah juga menghadirkan tantangan lain terkait bahasa tubuh, terutama karena kurangnya isyarat visual seperti ekspresi wajah dan gerakan selama interaksi virtual.
Selama WFH, komunikasi dilakukan secara virtual atau mengirim pesan melalui media, di mana ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan kesulitan menafsirkan keadaan emosional seseorang.
Jika beralih ke panggilan suara, maka tidak bisa memperhatikan bahasa tubuh serta hanya fokus pada kata-kata dan nada suara.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan saat bekerja dari rumah ialah segala sesuatu yang terjadi menempatkan seseorang dalam mode bertahan hidup.
Mode bertahan hidup mengaktifkan sistem limbik, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengaturan emosi, perilaku, dan ingatan.
Pada dasarnya, ini berarti seseorang harus terus-menerus waspada.
Alhasil bekerja dari rumah dapat memicu respons mode bertahan hidup yang berujung pada meningkatnya stres, kecemasan, kelelahan, serta kesulitan mempertahankan batasan antara pekerjaan dan pribadi.
Jadi, bila Anda termasuk yang bekerja dari rumah dan merasa kurang fokus, terkuras, serta tidak produktif, penting menyadari bagaimana metode dan lingkungan kerja memengaruhi tingkat energi Anda.
