
Berkata kasar. (pexels.com)
JawaPos.com - Pernahkah Anda menghadapi seseorang yang suka memaki atau berkata-kata kasar saat bertengkar? Perilaku semacam ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga sering kali menyakitkan.
Dalam dunia psikologi, perilaku ini bisa menjadi cerminan dari beberapa sifat mendasar yang dimiliki orang tersebut.
Dilansir dari laman Personal Branding Blog pada Minggu (5/1), berikut adalah delapan sifat yang sering ditemukan pada orang yang suka memaki dalam pertengkaran.
Salah satu penyebab utama di balik perilaku ini adalah rendahnya kecerdasan emosional. Orang yang memiliki kecerdasan emosional rendah sering kesulitan mengelola perasaan mereka sendiri, apalagi memahami perasaan orang lain.
Ketika mereka merasa frustrasi atau marah, mereka cenderung kehilangan kendali dan melampiaskan emosi tersebut dalam bentuk kata-kata kasar.
Alih-alih menyelesaikan masalah secara konstruktif, mereka membiarkan emosi menguasai situasi. Hal ini sering kali memperburuk konflik, karena mereka tidak sadar bahwa kata-kata mereka bisa melukai orang lain secara mendalam.
Mungkin terdengar aneh, tetapi orang yang suka memaki dalam pertengkaran sebenarnya bisa jadi sedang mendambakan koneksi atau validasi.
Mereka merasa tidak didengarkan atau diabaikan, dan makian mereka adalah cara mereka untuk memastikan bahwa keberadaan mereka diakui.
Namun, taktik ini sering kali memberikan hasil yang sebaliknya. Bukannya mendapatkan perhatian yang mereka inginkan, orang-orang di sekitar justru menjauh karena tidak tahan dengan cara komunikasi mereka yang kasar.
Harga diri yang rendah sering menjadi akar dari perilaku suka memaki. Orang-orang ini merasa tidak cukup baik tentang diri mereka sendiri, sehingga mereka memproyeksikan perasaan negatif tersebut ke orang lain.
Dengan merendahkan atau menghina orang lain, mereka menciptakan ilusi superioritas yang membuat mereka merasa lebih baik. Meskipun hanya untuk sementara waktu.
Sayangnya, ini bukan solusi jangka panjang. Masalah harga diri mereka tetap ada dan hanya bisa diperbaiki dengan introspeksi serta penerimaan diri yang sehat.
Di balik kata-kata kasar seseorang, sering tersembunyi luka emosional atau trauma yang belum selesai. Mereka mungkin pernah mengalami masa kecil yang sulit, hubungan beracun, atau kejadian traumatis lainnya.
Memaki atau berkata kasar menjadi cara mereka melindungi diri dari rasa sakit itu, seolah-olah menggunakan kata-kata sebagai tameng. Namun, tanpa penyelesaian atas rasa sakit yang mereka alami, perilaku ini hanya menjadi pola destruktif yang terus terulang.
Tidak semua orang mahir dalam menyampaikan perasaan atau pendapat mereka secara baik. Orang yang suka memaki sering kali merasa frustrasi karena tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan diri mereka.
