← Beranda

5 Jenis Makanan Sehat yang Baik Dikonsumsi untuk Menjaga Kesehatan Usus

Rabbany WanadrianiSelasa, 21 November 2023 | 01.01 WIB
Ilustrasi alpukat jadi salah satu makanan sehat untuk jaga kesehatan usus. Sumber foto: Pixabay/FoodieFactor

JawaPos.com – Penting bagi seseorang untuk menjaga kesehatan usus dan memilih asupan yang tepat serta baik untuk pencernaan agar tak mudah diserang penyakit.

Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki 70 sampai 80 persen sel imun yang hidup di usus dan bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.

Mikrobioma usus merupakan komunitas mikroorganisme seperti jamur, bakteri, dan virus yang hidup di usus manusia, demikian dilansir JawaPos.com dari Health, Senin (20/11).

Baca Juga: Israel Unggah Video Terowongan Tersembunyi di Bawah RS Al-Shifa, Kementerian Kesehatan Gaza Beri Bantahan

Mereka juga ditentukan oleh kombinasi beberapa faktor seperti gen keluarga, lingkungan, obat-obatan, dan pola makan.

Kemudian usus berkomunikasi langsung dengan otak lewat poros usus-otak yang berarti otak bisa mempengaruhi aktivitas usus dan akhirnya menguasai kesehatan mental dan fisik serta suasana hati.

Oleh karena itu, apa yang diberikan pada usus sangat penting untuk kesehatan termasuk kualitas dan kandungan makanannya.

Baca Juga: Alasan dan Manfaat Memilih Menu Sarapan yang Dianjurkan untuk Kesehatan Mata

Lantas, sajian seperti apa yang bisa memaksimalkan fungsi usus dan mikrobioma? Simak 5 jenis makanan sehat yang baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan usus di bawah ini.

Kacang-kacangan

Kacang-kacangan membantu menjaga kesehatan usus. Selain protein nabati dan antioksidan polifenol, kacang-kacangan mengandung Non-Digestible Carbohydrate (NDC) termasuk serat larut dan tidak larut.

NDC sendiri bertindak sebagai prebiotik, berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroba yang bermanfaat dan melindungi kesehatan di usus. 

Baca Juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan untuk Pekerja Shift Malam, Biar Tubuh Tetap Fit!

Ketika NDC difermentasi oleh bakteri di usus, senyawa anti-inflamasi yang disebut Short-Chain Fatty Acids (SCFA) diproduksi. 

Polifenol dari kacang-kacangan juga memiliki efek anti-inflamasi dan berfungsi sebagai prebiotik tambahan.

Dampak anti-inflamasi dari kacang-kacangan tersebut terbukti meningkatkan kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan kekuatannya sebagai penghalang antara usus dan aliran darah.

Makanan probiotik

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang membantu membentuk kembali susunan mikrobiota usus dengan cara yang dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, membantu mengurangi risiko obesitas dan diabetes, dan memperbaiki berbagai penyakit usus. 

Baca Juga: 7 Manfaat Susu Kedelai untuk Kesehatan Tubuh, Bantu Memaksimalkan Kinerja Sistem Pencernaan!

Probiotik mengubah lingkungan usus sedemikian rupa sehingga menurunkan kemampuan bakteri berbahaya untuk tumbuh dan memungkinkan bakteri sehat untuk berkembang.

Probiotik dapat ditemukan dalam makanan fermentasi yang tidak dipasteurisasi di mana makanan tersebut dapat bertahan dari pencernaan dan mencapai usus besar dan bisa bantu menjaga fungsi kekebalan tubuh.

Contoh makanan ini ialah sayuran yang difermentasi, kefir, kimchi, kombucha, sup kedelai jepang, kol parut, tempe, dan yogurt.

Baca Juga: Ketahui Berbagai Manfaat Konsumsi Susu Kambing, Ternyata juga Memiliki Risiko Kesehatan yang Harus Diwaspadai

Makanan prebiotik 

Prebiotik membantu memberi makan bakteri probiotik di usus dengan meningkatkan pertumbuhan strain bakteri baik termasuk Bifidobacterium dan Lactobacillus. 

Mereka juga mengubah pH usus, mencegah pertumbuhan mikroba berbahaya seperti Clostridium perfringens dan Escherichia coli.

Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya peradangan usus dan diperkirakan meningkatkan produksi hormon yang disebut Glucagon Like Peptide 2 (GLP2) yang diketahui memperkuat kekuatan lapisan usus. 

Baca Juga: 7 Manfaat Puasa Media Sosial untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Selain itu, fermentasi serat prebiotik mengarah pada produksi SCFA yang terbukti mengurangi rasa lapar dan meningkatkan regulasi gula darah dan kadar insulin setelah makan.

Makanan prebiotik meliputi asparagus, pisang, jelai, bawang putih, daun bawang, dedak gandum, dan chicory.

Makanan kaya polifenol

Beberapa tanaman menghasilkan antioksidan disebut polifenol. Senyawa alami ini melindungi tanaman dari kerusakan dan penyakit saat tumbuh. 

Di dalam tubuh manusia, polifenol dikaitkan dengan perlindungan jantung dan otak. Selain itu, mikrobioma usus mengubah polifenol menjadi senyawa bioaktif yang diserap ke dalam aliran darah dan memiliki efek terapeutik di dalam tubuh.

Baca Juga: Beban Pekerjaan Bikin Stres? Jaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja dengan 4 Cara Berikut

Diperkirakan 5 sampai 10 persen dari total polifenol diserap dari usus kecil ke dalam aliran darah. Sisanya terakumulasi di usus besar yang memiliki efek prebiotik positif mengubah keseimbangan mikroba usus baik dan jahat. 

Pemecahan polifenol di dalam usus juga dikaitkan dengan dukungan kekebalan dan pencegahan kanker usus besar atau kolorektal.

Adapun makanan yang mengandung polifenol yaitu apel, buah beri, brokoli, buah citrus, kopi, bawang, buah pir, plum, biji cokelat, dan teh.

Baca Juga: Mengenal Terapi Fashdu, Pengobatan Alternatif yang Hanya Boleh Dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Berkompeten

Alpukat

Konsumsi alpukat memiliki berbagai manfaat kesehatan termasuk peningkatan pengelolaan berat badan dan perlindungan terhadap penyakit jantung. Buah dengan lemak baik ini juga memberikan manfaat bagi kesehatan usus.

Para ilmuwan menemukan bahwa memakan alpukat mengembangkan lebih banyak mikroba usus yang memecah serat dan menghasilkan SCFA yang bermanfaat. 

Di sisi lain, terdapat beberapa jenis makanan yang terbukti harus dihindari lantaran berdampak negatif untuk kesehatan usus dan mikrobiota yakni daging merah, makanan ultra olahan, alkohol, dan pemanis buatan.

 

EDITOR: Nicolaus