Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Agustus 2026 | 06.27 WIB

Mengenal Operasi Bypass Jantung dengan Metode MICS, Waktu Pemulihan Lebih Cepat

Dokter Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV (K) melakukan pembukaan akses Operasi Bypass dengan metode MICS di Heartology Cardiovascular Hospital. (IST) - Image

Dokter Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV (K) melakukan pembukaan akses Operasi Bypass dengan metode MICS di Heartology Cardiovascular Hospital. (IST)

JawaPos.com – Operasi Bypass Jantung (CABG) biasanya dilakukan ketika ada penyumbatan pembuluh darah pada jantung. Operasi Bypass tidak selalu menggunakan metode konvensional, tapi bisa dengan Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS).

Operasi Bypass Jantung dengan metode Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS) dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil dan tanpa membelah tulang dada sehingga masa penyembuhan relatif lebih cepat.  

Diungkapkan dr. Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital, pada operasi konvensional, tulang dada (sternum) yang dibelah membutuhkan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berlangsung hingga sekitar 12 minggu. Sedangkan pada MICS, tulang dada (sternum) tetap utuh.

 “Ini berarti pasien tidak perlu menjalani proses penyembuhan tulang dada tersebut, sehingga pemulihan dapat menjadi lebih efisien. Selain itu, risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi tulang dada, juga dapat lebih rendah.” ujar dr. Widya Trianita di Jakarta, baru-baru ini.

Terlebih, dalam penelitian ditemukan 95,5 persen pasien MICS CABG berhasil mendapatkan complete revascularization, dibandingkan 96,3 persen pada operasi melalui sternotomi. Artinya, meskipun dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil, pasien tetap mendapatkan revaskularisasi komplit pada seluruh target pembuluh darah. Pada pemeriksaan evaluasi angiografi pasca operasi yang dilakukan sebelum pasien pulang, 96,2 persen graft pada kelompok MICS CABG dikatakan baik.

Dijelaskan jelas Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), MARS, angka tersebut menunjukkan, sayatan yang lebih kecil tidak berarti bypass yang dilakukan menjadi lebih sedikit atau kurang optimal. Karena, tujuan utama operasi tetap tercapai, yaitu membuat jalur baru agar darah dapat melewati pembuluh darah koroner yang tersumbat dan kembali menyuplai otot jantung.

“Jadi, yang kita minimalkan adalah sayatan operasinya, bukan target pembuluh darahnya,” jelas Dr. dr. Dudy.

 Perdarahan Intra Operasi Lebih Rendah

Tak hanya soal sayatan yang lebih kecil, penelitian lain juga mengungkap keunggulan metod Bypass MICS. Ditemukan, pada pasien penyakit jantung koroner dengan diabetes mellitus tipe II juga menunjukkan pasien memiliki risiko perdarahan intra operasi yang lebih rendah. Yakni dengan median 600 mL dibandingkan 700 mL pada CABG konvensional.  

Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan minimal invasif tidak berhenti pada ukuran luka -Tetapi berpotensi mengurangi kebutuhan transfusi darah dan mendukung proses pemulihan pasien setelah operasi.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore