
OPTIMISTIS: Retno bersama ayah mertuanya yang mengidap demensia.
GENAP enam tahun Retno Prasetyo Ningrum mengakrabi liku-liku perjalanannya sebagai caregiver. Merawat lansia dengan kondisi khusus seperti demensia membuat tenaga dan emosinya terkuras.
Tiga tahun setelah kepergian sang ibu mertua, bapak mertua Retno mulai menunjukkan gejala demensia. Sering lupa, kebingungan, hingga mengalami penurunan kemampuan kognitif. Beberapa kali Retno harus menebak keinginan bapak mertuanya itu.
"Kayak ngomongnya mau pulang, mau pulang, padahal sudah di rumah. Ternyata minta pulang karena kebelet ke kamar mandi. Jadi, harus bisa trial and error memahami maksudnya apa,” tutur ibu dua anak itu pada Senin (27/5).
Demensianya Akung, sapaan Retno untuk mertuanya, kian berat saat pandemi. Akung mulai mogok makan, bahkan menolak melakukan aktivitas apa pun. Retno memutar otak agar asupan nutrisinya tetap terpenuhi meski Akung melancarkan aksi GTM.
"Makan disembur-sembur, dibuat mainan, ditambah nggak bisa nelen. Jadi, harus bener-bener dibuat lembek teksturnya dan divariasi supaya menarik. Pakai pendekatan video call dengan anggota keluarga lain juga sampai makan bersama,” bebernya.
Caregiver lansia, terutama lansia dengan demensia (ODD), tidak bisa bergerak sendirian. Meski Retno jadi penanggung jawab penuh Akung, anggota keluarga lainnya tetap memberikan dukungan dari jauh. "Suami di luar kota. Pas pulang, ya beliau yang ambil alih peran, saya bisa off sementara. Anak-anak Akung lain yang ikut suaminya di luar kota kalau pulang juga ikut merawat. Saling support,” cerita perempuan yang tinggal di Jogja itu.
Pada 2022, kondisi Akung menurun. Akung mengalami fraktur tulang panggul dan terkena stroke. Suami Retno menyarankannya menggunakan jasa pramurukti. Sebelum itu, jadwal rutinitas Akung hingga latihan stimulasi dia sampaikan kepada pramurukti agar bisa dilanjutkan. Dengan jadwal yang rutin, kehidupan ODD bisa lebih berpola.
"Pagi Akung sarapan, mandi, senam, jalan-jalan. Siangnya stimulasi seperti mendengarkan murotal, terapi musik, main puzzle,” imbuhnya.
Support sosial, menurut Retno, tak kalah penting. Dia kerap berbagi cerita dengan caregiver di lingkungan rumahnya. Warga sekitar yang mengetahui kondisi Akung juga banyak membantu ketika Akung pergi tanpa pamit. "Mereka langsung telepon saya. Karena Akung sering minta keluar malam-malam, jadi kunci pintu selalu disimpan. Apalagi Akung pernah nyasar sampai Klaten,” sambungnya.
Dia semakin banyak menemukan kawan seperjuangan setelah mengenal organisasi Alzheimer Indonesia (Alzi). Di sana, Retno banyak belajar bagaimana menjadi caregiver ODD. Peran keluarga terdekat memang sangat memengaruhi kondisi ODD. Lihat saja kondisi Akung yang kini jauh membaik berkat ketelatenan Retno merawat dan mendampingi Akung.
"Saya menganggap ini sebagai wasilah untuk mendapatkan surganya Allah. Itu yang menguatkan saya tiap down melihat kondisi Akung. Alhamdulillah, kondisi Akung masih banyak yang bisa disyukuri,” pungkasnya. (lai/c6/hep)

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
