Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Juni 2024 | 00.47 WIB

Lakoni Caregiver Yang Menguras Emosi saat sang Ayah Mertua Menderita Demensia, Retno Dikuatkan Dukungan Keluarga

OPTIMISTIS: Retno bersama ayah mertuanya yang mengidap demensia. - Image

OPTIMISTIS: Retno bersama ayah mertuanya yang mengidap demensia.

GENAP enam tahun Retno Prasetyo Ningrum mengakrabi liku-liku perjalanannya sebagai caregiver. Merawat lansia dengan kondisi khusus seperti demensia membuat tenaga dan emosinya terkuras.

Tiga tahun setelah kepergian sang ibu mertua, bapak mertua Retno mulai menunjukkan gejala demensia. Sering lupa, kebingungan, hingga mengalami penurunan kemampuan kognitif. Beberapa kali Retno harus menebak keinginan bapak mertuanya itu.

"Kayak ngomongnya mau pulang, mau pulang, padahal sudah di rumah. Ternyata minta pulang karena kebelet ke kamar mandi. Jadi, harus bisa trial and error memahami maksudnya apa,” tutur ibu dua anak itu pada Senin (27/5).

Demensianya Akung, sapaan Retno untuk mertuanya, kian berat saat pandemi. Akung mulai mogok makan, bahkan menolak melakukan aktivitas apa pun. Retno memutar otak agar asupan nutrisinya tetap terpenuhi meski Akung melancarkan aksi GTM.

"Makan disembur-sembur, dibuat mainan, ditambah nggak bisa nelen. Jadi, harus bener-bener dibuat lembek teksturnya dan divariasi supaya menarik. Pakai pendekatan video call dengan anggota keluarga lain juga sampai makan bersama,” bebernya.

Caregiver lansia, terutama lansia dengan demensia (ODD), tidak bisa bergerak sendirian. Meski Retno jadi penanggung jawab penuh Akung, anggota keluarga lainnya tetap memberikan dukungan dari jauh. "Suami di luar kota. Pas pulang, ya beliau yang ambil alih peran, saya bisa off sementara. Anak-anak Akung lain yang ikut suaminya di luar kota kalau pulang juga ikut merawat. Saling support,” cerita perempuan yang tinggal di Jogja itu.

Pada 2022, kondisi Akung menurun. Akung mengalami fraktur tulang panggul dan terkena stroke. Suami Retno menyarankannya menggunakan jasa pramurukti. Sebelum itu, jadwal rutinitas Akung hingga latihan stimulasi dia sampaikan kepada pramurukti agar bisa dilanjutkan. Dengan jadwal yang rutin, kehidupan ODD bisa lebih berpola.

"Pagi Akung sarapan, mandi, senam, jalan-jalan. Siangnya stimulasi seperti mendengarkan murotal, terapi musik, main puzzle,” imbuhnya.

Support sosial, menurut Retno, tak kalah penting. Dia kerap berbagi cerita dengan caregiver di lingkungan rumahnya. Warga sekitar yang mengetahui kondisi Akung juga banyak membantu ketika Akung pergi tanpa pamit. "Mereka langsung telepon saya. Karena Akung sering minta keluar malam-malam, jadi kunci pintu selalu disimpan. Apalagi Akung pernah nyasar sampai Klaten,” sambungnya.

Dia semakin banyak menemukan kawan seperjuangan setelah mengenal organisasi Alzheimer Indonesia (Alzi). Di sana, Retno banyak belajar bagaimana menjadi caregiver ODD. Peran keluarga terdekat memang sangat memengaruhi kondisi ODD. Lihat saja kondisi Akung yang kini jauh membaik berkat ketelatenan Retno merawat dan mendampingi Akung.

"Saya menganggap ini sebagai wasilah untuk mendapatkan surganya Allah. Itu yang menguatkan saya tiap down melihat kondisi Akung. Alhamdulillah, kondisi Akung masih banyak yang bisa disyukuri,” pungkasnya. (lai/c6/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore